INDONESIA RAJA PENGHASIL KELAPA SAWIT DUNIA Di Indonesia tanaman Kelapa Sawit dibawa dari Bourbon, Mauritius (kepulauan sebelah Timur Madagaskar) oleh Belanda pada tahun 1848 yang ditanam di Kebun Raya Bogor dan kemudian mulai dikembangkan sebagai perkebunan di Sumatera (terutama Aceh dan Sumatra Utara) pada tahun 1911. Selanjutnya pada tahun 1916-1918 mulai dilakukan riset kelapa sawit di Medan. Pada tahun 1957 terjadi nasionalisasi perkebunan kelapa sawit yang luasnya baru 109 ribu Ha pasca kemerdekaan Republik Indonesia. Pada awal tahun 1970-an dimulai penggunaan benih unggul Dura X P diikuti dengan pengembangan ke berbagai provinsi serta diikuti dengan program Perkebunan Inti Rakyat. Pada tahun 1976 mulai dibangun Pabrik Minyak Goreng Pertama di Indonesia dengan nama Adolina. Pada tahun 1980 mulai diintroduksi Eladobius kamerunicus untuk penyerbukan dan peningkatan produktivitas, dan pengembangan pola perusahaan inti oleh swasta dan plasma oleh rakyat. Pada tahun 1990-an mulai dilakukan riset bahan bakar nabati dari minyak kelapa sawit, kemudian dilanjutkan dengan program B10 pada tahun 2005 dan B20 pada tahun 2016. Selanjutnya pada tahun 2000-2022 Indonesia memiliki areal Kelapa Sawit terluas di dunia, yaitu 4,2 juta Ha (tahun 2000) dan 16,3 juta Ha (tahun 2022). Sedang sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia dicapai sejak tahun 2006 (17,3 juta ton) dan pada tahun 2022 produksinya mencapai 53,1 juta ton. Negara Produsen Kelapa Sawit Dunia Lima negara penghasil kelapa sawit terbesar di dunia yaitu: Indonesia menempati urutan pertama sebagai penghasil kelapa sawit terbesar di dunia. Pada tahun 2022 Indonesia tercatat menghasilkan 48,24 juta ton CPO per tahunnya, dengan luas perkebunan kelapa sawit seluas 16,38 juta ha. Dengan jumlah tersebut, Indonesia tercatat sebagai produsen kelapa sawit lebih dari 55 persen penghasil sawit dunia (ITC 2022a, FAO 2022). Dari sisi kesesuaian lahannya, wilayah penghasil kelapa sawit (Sumatera, Kalimantan, Papua, Sulawesi dan Jawa) terletak pada zona ekuatorial, mempunyai curah hujan antara 1.450 – 3.500 mm/tahun, dengan lama bulan kering kurang dari 3 bulan dan temperatur udara rata-rata 22-32oC (Ritung et al. 2011). Wilayah-wilayah ini secara agroekologi dikategorikan sebagai wilayah Ordo Sesuai (suitable atau Ordo S) untuk tanaman kelapa sawit, bahkan sebagian besar wilayah penghasil kelapa sawit utama tergolong ke dalam wilayah kelas sangat sesuai (S1) dan kelas cukup sesuai (kelas S2). Malaysia merupakan produsen terbesar kedua sebagai penghasil kelapa sawit di dunia. Negara ini mampu menghasilkan minyak sawit (CPO) sekitar 18,11 juta ton pada tahun 2021. Jika dilihat dari produksi hasil kelapa sawit dunia, maka Malaysia merupakan penghasil kelapa sawit dunia sebanyak 26 persen (Aman, 2022). Perkebunan kelapa sawit Malaysia berada di beberapa daerah seperti Pahang, Sabah, Perak, Serawak, dan Johor. Kondisi agroekologi penghasil utama kelapa sawit di Malaysia, mirip dengan di Indonesia, sehingga secara agroekologi Malaysia termasuk ke dalam wilayah yang Sesuai untuk kelapa sawit. Thailand adalah negara penghasil minyak kelapa sawit terbesar ketiga di dunia. Negara ini, mampu menghasilkan 2,8 metrik ton sawit per tahunnya. Areal perkebunan kelapa sawit terbesar di negara ini terletak di wilayah Thailand bagian Selatan. Sebagai upaya meningkatkan produktivitas kelapa sawitnya, Thailand mengembangkan program industri perkebunan kelapa sawit dalam jangka waktu 10 tahun mendatang. Pemerintah Thailand bahkan merencanakan adanya kenaikan hasil kelapa sawit sebesar 3 metrik ton per tahun. Wilayah perkebunan kelapa sawit terbesar di Thailand bagian Selatan berbatasan dengan Malaysia (Nuraini, 2022). Oleh karena itu secara agroekologi wilayah ini masih tergolong wilayah yang sesuai untuk kelapa sawit, namun sebagian besar wilayah lainnya (bagian tengah dan utara) tergolong ke dalam zona sub-ekuatorial, sehingga tergolong tidak sesuai (Not suitable= N) dan sesuai marginal (Marginally suitable = S3). Negara produsen kelapa sawit lainnya adalah Kolombia, negara tropis yang berada di benua Amerika bagian Selatan (Amerika Latin). Negara ini berada pada urutan ke empat dunia dan pertama di benua Amerika, dengan produksi kelapa sawitnya mampu mencapai 1,51 metrik ton tiap tahunnya. Jumlah ini sebanyak 2 persen dari jumlah produksi kelapa sawit di dunia (Guevara, 2022). Kolombia terletak pada zona sub-ekuatorial. Secara agroekologi negara ini tergolong ke dalam wilayah yang tidak sesuai (Not suitable= N) dan sesuai marginal (Marginally suitable = S3). Nigeria yang berada di benua Afrika, pernah menjadi produsen kelapa sawit tertinggi di dunia, namun saat ini posisi Nigeria tergeser oleh negara produsen kelapa sawit lainnya seperti Indonesia dan Malaysia. Pada tahun 2019 Nigeria tercatat mampu menghasilkan 1,22 juta ton CPO per tahunnya atau 2 persen dari produksi kelapa sawit dunia. Nigeria memiliki sekitar lima lokasi perkebunan kelapa sawit, yang tersebar di Nigeria bagian Selatan, Nigeria bagian Timur, dan Nigeria bagian Barat. Nigeria berada dalam wilayah pada zona ekuatorial, hampir sama dengan Indonesia dan Malaysia, namun dari sisi curah hujan rata-rata tahunannya lebih kering dan temperatur rata-rata tahunannya lebih tinggi dari Indonesia. Secara agroekologi sebagian wilayah Nigeria mempunyai kesesuaian lahan sesuai marginal (Marginally suitable = S3) dan tidak sesuai (Not suitable= N). Secara rinci data luas perkebunan kelapa sawit , produksi CPO, Jumlah Ekspor CPO di lima negara produsen kelapa sawit dunia disajikan sebagai berikut: ======================================================== No. Negara Luas areal Produksi CPO Ekspor CPO Ekspor thdp pasar dunia (Juta Ha) (Juta Ton) (Juta Ton)*) (Persen)*) ----------------------------------------------------------------------------------------------------- 1. Indonesia 16,38 48,24 25,53 55,65 2. Malaysia 5,35 18,11 13,51 29,45 3. Thailand 0,81 3,0 0,61 1,33 4. Kolombia 0,26 1,51 0,42 0,92 5. Nigeria 2,50 1,22 0,018 0,04 ------------------------------------------------------------------------------------------------------------ Sumber: BPS (2022); FAO (2022); ITC (2022); *) Tahun 2021 ( Dr.Ir. M.Saleh Mokhtar, M.P – Penyuluh Pertanian pada Pusat Penyuluhan Pertanian ) Sumber : Pirker et al. (2016) Siregar, Hasril Hasan (2022). Nuraini (2022) Appertani (2023)