Loading...

INOVASI JAJAR LEGOWO SUPER PADA LAHAN TADAH HUJAN

INOVASI JAJAR LEGOWO SUPER PADA LAHAN TADAH HUJAN
Apa sih Jarwo Super? Itulah inovasi teknologi terbaru rakitan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian di bidang budidaya padi dalam rangka meningkatkan produktivitas dan efisiensi usahatani padi. Inovasinya bertumpu pada penerapan tanam Jajar Legowo 2:1 dengan jarak tanam antar 2 baris 20 cm dan jarak dalam baris 12,5 sampai 15 cm tergantung kesuburan tanah. Jarak setiap antar 2 baris atau jarak legowonya 40 cm. Petani Desa Tunggal Bhakti, Sanggau, yang berada di perbatasan Malaysia beruntung menjadi lokasi diseminasi teknologi ini. Mengapa lokasi ini dipilih? Alasannya ingin mengubah wajah pertanian di wilayah perbatasan menjadi pertanian modern yang menerapkan inovasi pertanian terkini untuk mendongkrak produktivitas padi disertai mekanisasi untuk meningkatkan efisiensi usahataninya. Bedanya Inovasi Teknologi Jajar Legowo Super di Pulau Jawa dikembangkan pada lahan sawah irigasi, sedangkan di Kalimantan Barat diadaptasikan dan diterapkan pada lahan sawah pasang surut dan tadah hujan. Inovasi Teknologi Jajar Legowo Super disingkat Jarwo Super memadukan antara inovasi teknis, sosial, dan ekonomi. Petani direkomendasikan menanam Varietas Unggul Baru (VUB) Inpari-30 Sub 1 yang toleran terendam, Inpari-32 yang tahan penyakit Hawar Daun Bakteri, atau Inpari-33 yang tahan hama Wereng Batang Coklat biotipe 1, 2, dan 3. Selain keunggulan tersebut ketiganya memiliki potensi hasil yang tinggi 8,4-9,6 ton GKG/ha. Dari sisi teknis teknologi ini memasukkan inovasi terbaru berupa hasil penelitian pupuk hayati Agrimeth pada perlakuan benih. Bakteri Azotobacter sp yang dikandungnya mampu membantu tanaman padi mengikat nitrogen dari udara untuk mengurangi penggunaan pupuk urea. Para peneliti juga menambahkan bakteri pelarut Phospat dan Kalium sehingga pupuk ini diharapkan mampu menurunkan penggunaan pupuk kimia antara 30-50 %. Jerami padinya dikomposkan menggunakan bio-dekomposer MDec untuk mempercepat pengomposan jerami dari 2-3 bulan menjadi 2-3 minggu saja. Untuk melindungi petani dan lingkungan, inovasi teknologi ini mengaplikasikan pestisida nabati BioProtektor untuk mengendalikan hama seperti wereng dan walang sangit. Agar pemupukan efisien maka dosisnya ditentukan berdasarkan hasil analisa tanah menggunakan Perangkat Uji Tanah Sawah.Tidak hanya itu. Inovasi teknologi ini menerapkan mekanisasi pertanian dimana pengolahan lahan sudah menggunakan hand tractor, penanaman bibit padi menggunakan mesin Indo Jarwo Rice Transplanter, dan panen padi sudah menggunakan Combine Harvester. Benih padi disemai dengan sistim dapok. Wanita tani yang diwakili bu Sagi dari Desa Tunggal Bhakti, Sanggau, mengaku terbantu dengan cara baru ini. Jika benih disemai dengan cara biasa maka diperlukan tenaga 10 orang untuk mencabut benih dengan biaya sekitar Rp.500.000/ha tetapi dengan sistim semai dapok atau semai basah cukup 2 orang sehingga dapat menghemat biaya cabut benih Rp.400.000/ha. Sebab bibitnya tidak dicabut tetapi digulung seperti karpet sehingga mudah dibawa. Dengan sistim Jajar Legowo 2:1 para petani juga mudah dalam melakukan penyiangan, pemupukan, serta pengendalian hama dan penyakit. Para petani di wilayah perbatasan Kalimantan Barat dan Malaysia ini beruntung karena hasil ubinan yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sanggau memberikan hasil yang sangat menjanjikan. Varietas Inpari-32 berpotensi menghasilkan 8,0 ton GKP/ha di lahan milik pak Teger Yuwono, Ketua Kelompoktani Karya Mandiri, sedangkan Inpari-33 di lahan milik pak Ahmad, anggota Kelompoktani Maju Bersama, berpotensi menghasilkan 8,4 ton GKP/ha. Padahal biasanya hanya menghasilkan 5-6 ton GKP/ha. Artinya inovasi teknologi Jajar Legowo Super ini mampu mendongkrak produktivitas padi pada lahan tadah hujan antara 45-55 persen. Suatu kenaikan yang sangat signifikan walaupun produktivitasnya masih dibawah lahan sawah irigasi di Pulau Jawa.Dari pengalaman satu tahun mengawal penerapan Inovasi Teknologi Jajar Legowo Super di lokasi tersebut petani masih menghadapi kendala. Pertama, penyediaan air karena mengandalkan air hujan. Air hujan diperlukan terutama saat pengolahan lahan. Petani desa ini mengatasi masalah ini dengan cara membuat sumur dangkal 24 meter sebanyak 35 titik agar tanaman tidak stress saat memerlukan air misalnya saat pemupukan. Penyediaan air secara bergantian antara tersedia air dan kekeringan dengan selang waktu 4-6 hari yang terjadi secara bergantian memberikan efek mirip dengan pengairan berselang (intermittent irrigation) yang membuat tanaman tumbuh lebih baik. Kedua, serangan hama dan penyakit. Petani juga menanam tanaman kenikir di pematang sawah. Tujuannya memberi tempat bagi musuh alami hama dan penyakit padi tetapi daun kenikir itu sendiri juga dapat dimanfaatkan untuk sayuran. Serangan penyakit blast (Pyricularia grisea) diatasi petani dengan melakukan perlakuan benih dengan merendam benih dalam larutan fungisida berbahan aktif isoprothiolane selama 24 jam diikuti dengan penyemprotan fungisida pada fase anakan maksimum dan saat keluar bunga 5 % dengan fungisida berbahan aktif isoprothilane, triziclazol, atau bahan aktif lain yang direkomendasikan. Inovasi teknologi budidaya padi dengan Sistim Jajar Legowo Super sudah terbukti mampu mendongkrak produktivitas padi pada lahan sub optimal tadah hujan. Tantangannya adalah diperlukan upaya mendiseminasikan inovasi teknologi ini ke daerah lain yang menjadi lokasi pengembangan padi di wilayah perbatasan baik di Kabupaten Sanggau, Bengkayang, Sintang, Kapuas Hulu, hingga ke Kabupaten Sambas yang didominasi oleh lahan pasang surut karena sudah terbukti mampu mendongkrak produktivitas padi di wilayah perbatasan. (Penulis: Ir. Sigit Sapto Wibowo, MSc. BPTP Kalimantan Barat) Sumber: Gelar Teknologi Jajar Legowo Super mendukung Hari Pangan Sedunia di Provinsi Kalimantan Barat tahun 2017