Kecamatan Kapoiala di Kabupaten Konawe merupakan salah satu wilayah yang memiliki potensi besar dalam pengembangan sektor pertanian dan perikanan. Sebagian masyarakat memanfaatkan lahan empang sebagai sumber penghidupan melalui sistem budidaya ikan tambak. Namun, banyak lahan empang yang tidak lagi produktif akibat tingkat salinitas yang tinggi dan kondisi pH tanah yang cenderung masam. Keadaan ini menyebabkan lahan tidak optimal untuk pertanian, khususnya padi sawah. Oleh karena itu, diperlukan inovasi pemanfaatan lahan yang adaptif terhadap kondisi lingkungan, salah satunya melalui penerapan sistem integrasi mina padi.
Integrasi mina padi merupakan pendekatan yang menggabungkan budidaya padi dengan pemeliharaan ikan dalam satu petak lahan. Di Kapoiala, inovasi ini menjadi peluang strategis karena mampu memulihkan lahan empang sekaligus meningkatkan produksi pangan berbasis lokal. Sistem ini memanfaatkan air yang menggenang pada lahan empang sebagai media hidup ikan, sementara tanaman padi beradaptasi pada kondisi genangan tersebut. Aktivitas ikan di dalam lahan padi dapat membantu memperbaiki struktur tanah melalui proses pembalikan lapisan tanah, sirkulasi air, dan penambahan bahan organik dari kotoran ikan.
Tantangan utama dalam pemanfaatan lahan empang di Kecamatan Kapoiala adalah salinitas yang tinggi dan pH masam yang menghambat penyerapan unsur hara oleh tanaman padi. Melalui mina padi, manajemen air menjadi lebih efektif karena air pada tambak dapat diatur dan dialirkan secara berkala sehingga membantu proses pencucian garam (leaching). Sementara itu, kandungan bahan organik dari keberadaan ikan dan limbah budidaya dapat membantu meningkatkan pH tanah secara bertahap hingga mencapai kondisi yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman padi.
Pemilihan varietas padi yang toleran terhadap salinitas, menjadi tantangan petani padi sawah di kecamatan Kapoiala karena ketersediaan varietas yang tahan sagat terbatas kecuali Inpari 34 sedangkan varietas lainnya seperti Salin Agritan atau varietas lokal adaptif, tidak tersedia sehingga menjadi faktor penentu keberhasilan sistem ini. Sedangkan jenis ikan yang cocok untuk lahan payau seperti ikan bandeng atau nila dapat dipilih berdasarkan tingkat adaptasi dan nilai ekonomi. Kombinasi komoditas ini tidak hanya menghasilkan beras sebagai sumber pangan utama, namun juga ikan konsumsi yang dapat meningkatkan pendapatan petani.
Selain dukungan biologis, penggunaan amelioran seperti dolomit, kapur pertanian, serta bahan organik lokal dari limbah pertanian sangat diperlukan untuk mempercepat perbaikan kondisi tanah. Penyuluhan dan pendampingan dari pemerintah daerah dan tenaga penyuluh pertanian di Kecamatan Kapoiala sangat penting untuk meningkatkan pemahaman petani dalam menerapkan teknik mina padi secara efektif dan berkelanjutan.
Penerapan mina padi di lahan empang Kapoiala membawa banyak manfaat strategis. Secara ekonomi, petani memperoleh dua sumber pendapatan sekaligus dalam satu musim tanam. Secara ekologis, sistem ini mendorong pengelolaan usaha tani yang ramah lingkungan karena mengurangi penggunaan pupuk dan pestisida kimia. Selain itu, upaya optimalisasi lahan tidak produktif akan meningkatkan ketahanan pangan di Kabupaten Konawe.
Pada akhirnya, integrasi mina padi menjadi solusi inovatif dalam mengatasi permasalahan salinitas dan keasaman lahan empang di Kecamatan Kapoiala. Dengan dukungan kolaboratif antara pemerintah, penyuluh, dan petani, teknologi ini berpeluang besar menjadi model pengembangan pertanian berkelanjutan di wilayah pesisir dan sekitarnya. Pemanfaatan lahan suboptimal secara bijak tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga menjaga ketersediaan pangan dan kesejahteraan masyarakat secara luas.