Loading...

Jalan Terjal Menuju Sukses Bina Anak Bangsa

Jalan Terjal Menuju Sukses Bina Anak Bangsa

Awan menutupi langit hitam pekat, air tumpah ruah tanpa jeda. Seorang petani memacu motornya di Jalan Aspal Desa Sungai Selari. Tetes demi tetes air hujan menerpa wajahnya. Ia membiarkan saja bulir air turun karena kebun mendesak ditengok. Hujan deras seperti sekarang ini berpotensi banjir dan merusak tanaman cabainya. Benar saja, gemuruh air dari langit selama beberapa hari telah merendam seluruh tanaman cabainya. Ia turun dari motor, menantap kosong ke hamparan pohon cabai tergenang air keruh. Beberapa hari kemudian dia mulai menganalisa kondisi kebunnya, tercatat 3.700 batang cabai mati. Awal tanam ada 10.000 batang cabai merah, jadi tersisa 6.300 yang masih ada harapan untuk bertunas kembali. Bertahan di kondisi seperti ini bukanlah hal mudah, namun petani itu menolak ambruk.

Jefrizal kelahiran Sungai Pakning, 26 juni 1980, berdomisili di Desa Sungai Selari bersama keluarganya. Kedua tempat yang disebutkan tadi berada di Kecamatan Bukit Batu, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau. Jefrizal yang akrab disapa Jef, ketua kelompok tani Bina Anak Bangsa. Ia bersama penduduk Desa Sungai Selari membentuk kelompok tersebut pada 28 Februari Tahun 2008. Penyuluh pertanian mendampingi usaha pertanian yang mereka rintis, melalui penyuluhan teknis budidaya, penguatan kelompok dan penegelolaan bantuan pemerintah. Awal usaha mereka menanam jagung manis dan kacang panjang. Selama 2 Tahun budidaya tanaman tersebut berhasil panen dan memberi keuntungan. Lokasi menanam jagung dan kacang panjang di lahan sekitar Airport lawas milik pertamina RU II Sungai Pakning.

Ada bandara udara lama di kawasan kebun Kelompok tani (Poktan) Bina Anak Bangsa. Bandara tersebut sudah terbengkalai karena lama tidak berfungsi. Biasanya Bandara tak terpakai itu ramai dikunjungi penduduk setiap sore. Warga di dalam lintasan bandara membawa sapi-sapi untuk merumput, sementara di luar lintasan mereka bermain sepakbola. Tanah-tanah tidak berpenghuni ditumbuhi semak belukar. Jefrizal bersama anggota kelompok taninya meminta izin lalu membuka lahan pertanian. Kerja keras adalah kata kunci dalam perjalanan hidup Jef di Dunia Pertanian. Kerja sama seluruh anggota yang awalnya 12 orang mulai olah lahan sampai panen. Hasil penjualan tahap pertama hingga tahun kedua sangat memuaskan. Poktan Bina anak bangsa menambah luas lahan dan komoditi yang ditanam. Jagung Manis, Kacang Panjang, ditambah Terong, Pisang dan Cabai.

Gempuran hujan datang bertubi-tubi disertai angin kencang, kebun di Airport Sungai Selari masih bertahan. Cabai merah sejumlah 6.300 batang bisa diselamatkan, petani membuat parit guna mengaliran genangan yang masih tertinggal. Saat wawancara berlangsung, pucuk cabai sudah tumbuh enam lembar. Tanaman dan tuannya sama-sama belum menyerah. Mereka berpacu dengan waktu, tidak ada masa duduk merenung, Jefri memberi semangat ke rekan-rekannya agar tidak menyerah. Bedengan, parit dan tanaman cabai menjadi saksi betapa kuatnya karakter petani. Alih-alih tenggelam dalam kesedihan, secara berkelompok, mereka memilih untuk bangkit. Bina Anak Bangsa memulai kembali, rela meninggalkan kenyamanan rumahnya demi bergabung di kebun.

Berusaha melanjutkan pertumbuhan batang cabai yang telah terendam air selama seminggu adalah keputusan berani. Berbekal semangat dan determinasi tinggi, mereka bertekad mengubah jalan hidup tanaman cabai. Hingga datanglah kabar bahwa harga cabai sedang melonjak tinggi, akibat pasokan terhambat dari Sumatera Barat dan Sumatera Utara. Mereka pun mulai menjual cabai di harga yang bagus, walau puncak panen masih di Bulan Februari 2026. Fondasi mentalitas Jefrizal dan Tim telah ditempa 17 tahun melalui jatuh bangun usaha taninya. Mereka belajar menerima pukulan, bangkit, dan bekerja lebih keras. Seperti yang dikatakan penyuluh, Poktan Sungai Selari menjadi contoh utama kelompok yang mampu mengubah berita buruk menjadi motivasi untuk mencapai kesuksesan yang lebih besar.

Ketika ditanya apa yang diperlukan petani lain untuk memajukan budidaya sayurannya, ketua menjawab bahwa sesuaikan komoditi yang ditanam. Mereka tidak hanya berfokus pada satu jenis komoditas, melainkan melakukan diversifikasi tanaman. Lahan pertanian ditanami beragam sayuran, mulai dari terong, jagung, pare, kacang panjang, mentimun, hingga cabai. Strategi ini terbukti efektif dalam meminimalisir risiko kerugian akibat fluktuasi harga pasar, dan serangan hama penyakit pada satu jenis tanaman tertentu. Lebih dari itu, diversifikasi pertanian juga berkontribusi pada peningkatan produktivitas lahan dan keberlanjutan usaha pertanian. Anggota Poktan juga masih dan senantiasa belajar dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi pertanian modern. Penggunaan pupuk organik, sistem pengairan yang efektif, serta pengendalian hama terpadu merupakan beberapa metode yang diterapkan untuk meningkatkan produktivitas dan menjaga kualitas hasil panen.

Di tengah dinamika pembangunan yang berorientasi pada sektor industri dan jasa, sektor pertanian seringkali terpinggirkan. Namun kisah Poktan Bina Anak Bangsa membuktikan bahwa pertanian masih menjadi sektor yang menjanjikan. Pertanian Indonesia membutuhkan petani-petani gigih dan berinovasi guna mewujudkan kemenangan swasembada pangan. Di era modern yang seringkali mengukur keberhasilan seseorang secara instan, mereka mengajarkan nilai proses. Kelompok tidak dibentuk langsung jadi sukses, Poktan ditempa melalui keringat, air mata, dan keteguhan hati. Jalan menuju kesuksesan tidak selalu lurus. Dan kini, mereka berdiri tegak sebagai salah satu kelompok tani yang masih bertahan, memberikan pesan kuat bahwa satu kegagalan bukanlah akhir dari segalanya.