Kebutuhan bahan pangan makin meningkat sejalan Dengan bertambah nya jumlah penduduk. Mengandalkan panggan impor untuk memenuhi kebutuhan nasional di nilai kurang tepat karna akan mempengaruhi aspek sosial, ekonomi, dan politik, sehinga upaya peningkatan produksi pangan di dalam negri perlu mendapat perhatian. Indonesia menghadapi berbagai tantangan dalm mempertahankan swasembada beras, diantara nya tinggi nya pertumbuhan populasi penduduk, konversi lahan sawah subur ketanaman lain nya yang lebih bernilai jual tinggi, pembangunan kawasan perumahan, perkantoran serta kawasan industri, meningkat nya kompetisi antar usaha tani, keterbatasan sumber daya air, serta terjadi nya banjir dan kekeringan akibat pemanasan global. Rata-rata produktivitas padi dengan berbagai jenissumber perairan termasuk sawah tadah hujan dan padi gogo pada tahun 2014 di Indonesia sebesar 5,135t/ha gabah kering giling sudah tergolong tinggi, melebihi produktivitas padi di brazil, india, thailan, Filipina dan Myanmar, tetapi masih di bawah Vietnam dan cina (BPS,2015). Untuk itu, produktivitas dari lahan sawah yang ada terus di tingkatkan agar mencapai kapasitas optimal PROSEDUR PELAKSANAAN Persiapan Lahan Sebelum pengolahan tanah, diambil sampel tanah mengunakan bor tanah secara komposit.pengolahan tanah menggunakan teknik olah tanah sempurna dimana pengolahan tanah pertama menggunakan traktor bajak/singkal sampai kedalaman mata bajak 30 cm. tujuannya adalah untuk membalik tanah agar sirkulasi udara lebih baik. Usai pengolahan tanah pertama di lakukan aplikasi decomposer. Setelah pengolahan tanahpertama dari perlakuan decomposer, tanah di biarkan selama 10 hari. Pada pengolahan tanah kedua dilakukan menggunakan traktor sedalam 15-20 cm , selanjutnya lahan di olah ketiga menggunakan garu dan cangkul untuk menghaluskan tanah dan meratakannya. Jerami sisa panen (2 ton/ha) dan pupuk kandang (atau yang tersedia dilokasi) di berikan sebanyaj 1 ton/ha atau ditambahkan pupuk organik dengan cara di sebarkan secara merata pada permukaanlahan sawah pada kondisi air macak-macak. Aplikasi Dekomposer Untuk mempercepat proses pengomposan sisa-sisa tanaman pertanian sehingga dapat segera menjadikan nya bahan organik tanah yang berfungsi menyimpan dan melepaskan hara di sekitar tanaman serta mengurangi imobilisasi hara, alelopati, penyakit, larva insek, biji gulma,volume bahan buangan, dan masalah lingkungan lain nya Bioaktivator perombak bahan organic biasa nya di larutkan secara merata dengan 400L air besar (dosis 1kg ha). Setelah itu dengan mengunakan gembor, larutan decomposer disemprotkan pada tunggul jerami dan di atas hamparfan jerami pada petakan sawah, setelah pengolahan tanah pertama, lalau digelebeg dengan teraktor dan tanah di biarkan dalam kondisi lembab/tidak tergenang selama minimal 7-10 hari. Benih Varietas Unggul Baru Dalam sekala luas (demarea) ini mengunakan 5 varietas unggul baru padi berpotensi hasil tinggi, yang terdiri atas empat varietas inbrida dan satu hibrida. Varietas inbrida yang di gunakan adalah: (1) inpari “ 30 Ciherang Sub-1 (2) Inpari-32 HDB, (3) inpari-33 dan (4) inpari-43 Agritan GSR. Padi hibrida yang di gunakan adalh hipa jatim -2. Masing masing variatas ditanam sebanyak 30kg/ha mengunakan kelas FS dan atau SS sehingga nanti nya dapat di gunakan oleh petani untuk pertanaman berikut nya Penyiapan Persemaian Dapog Benih di peram dua hari kemudian ditiriskan. Sebelum disemai benih diberi perlakukan pupuk hayati. Persemaian dapog disiapkan mengacu pada persiapan penyemaian untuk tanam bibit dengan jarak tanam Jarwo 2:1 menggunakan alat indojarwo tranplanter. Benih yang telah diperlakukan di sebar merata pada persemaian dapog. Pada pesemaian sistem dapog, benih disebar pada kotak berukuran 18 cmx 56 cm dengan jumlah benih sekitar 200 g/kotak. Aplikasi Pupuk Hayati Perlakuan pupuk hayati di lakukan terhadap benih yang telah di peram sebelum di semai. Aplikasi pupuk hayati di lakukan sebelum matahari terik (sekitar pukul 07.00-08.00 pagi) pada keadaan cuaca cerah atau sore hari menjelang matahari turun (pukul 15.00-17.00) dan tidak terjadi hujan. Dosis pupuk hayati sesuai rekomendasi yang di gunakan. Tanam Penanaman menggunakan mesin tanam Indo Jarwo 2:1 transplanter. Jarak tanam sesuai dengan transplanter jajar legowo (25cm x 12,5cm x 50cm atau 25m x 18cm x 40cm) dengan jumlah bibit 2-3 batang/lubang. Pengelolaan Hara Aplikasi pupuk anorganik (kimia) dilakukan mengacu pada status hara dalam tanah bedasarkan Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS) atau analisis tanah. Sebagai contoh pengukuran menggunakan PUTS dilokasi demarea jajar legowo super , secara umum status hara makro N=rendah , P=sedang,dan K=tinggi, dan Ph tanahnya berkisar antara 5-6 atau agak masam. Mengacu pada status hara untuk mendapatkan produktivitas diatas 12 ton GKP/ha. Untuk memperbaiki kesuburan lahan selain aplikasi pupuk kimia, disarankan di lakukan pula aplikasi pupuk kandang yang telah diolah dengan dosis 2t/ha atauaplikasi pupuk organik lainnya pada saat pengolahan tanah kedua sebelum tanam. Pengendalian OPT Lampu Perangkap hama Fungsi dari lampu perangkap adalah untuk mengetahui keberadaan hama serangga. Satu lampu perangkap sebagai pendeteksi cukup mengontrol areal 200-500 ha, tetapi bila digunakan untuk pengendalian dengan menangkap hama tertarik lampu sebanyak-banyaknya di perlukan lampu perangkap lebih banyak dari yang di tetapkan diatas. Beberapa jenis hama seperti wereng coklat,wereng punggung putih,wereng hijau,penggerek batang padi,lembing batu,pelipat daun,penggulung daun dan anjing tanah dan serangga hama lainnya dapat di tangkap dengan perangkap lampu. Usaha tani terutama tanaman padi akan berjalan dengan baik bila keberadaan hama dapat dideteksi sedini mungkin. Serangga hama yang telah terperangkap setelah diamatikemudian di musnahkan sedangkan serangga-serangga musuh alami seperti kumbang coccinella, paederus spi,ophionea sp., lycosa sp. dll dapat dilepaskan kembali ke lahan. Feromon (Fero-PBPK) Fero-PBPK bermanfaat untuk menangulangi hama penggerek batang padi kuning scirpophaga incertulas di persemaian hingga pertananman. Feromon ini mengandung bahan aktif Z-11 dan Z-9,- heksadecenal, dan bersifat seks atraktan terhadap imago penggerek batang padi kuning. Fero “ PBPK dapat di gunakan sebagai umpan pada alat perangkap beair, maupun sebagai alat monitoring dan pengendali masal seranga hama tersebut. Teknologi ini di pasang mulai saat tanam, 12 sampai 18 buah per hektar tanaman padi Pestisida nabati Pemilihan jenis, dosis, dan aplikasi di lakukang mengaju pada rekomendasi Rrekayasa ekologi Pengendalian dengan mengunakan pendekatan rekayasa ekologilebi di titik beratkan pada pengendalian pencegahan, melalui penanaman tanaman perangkap(attractant) seperti tanaman bunga disekitar pertanaman (pematang).usaha ini di lakukanuntuk mencegah hama langsung kepertanaman dan tanaman bunga dapata di jadikan inang baru bagi OPT. Linier Trap Barier Sistem(LTBS) Linier trap barier system (LTBS) digunakan untuk memperkirakan kelimpahan tikuspada saat persiapan lahan, bunting, satu minggi setelah panen dan juga berfusi sebagai perangkap pada jalur lintasan tikus .1 unit LTBS terdiri atas bentangan pagar terpal sepanjang 100 m dengan tinggi 1 m, 100 buah ajir bambu, dan 6 buah bubu perangkap (multiple live trap).pagar tersebut di tegakan dengan bantuan anjir bambu pada setiap jarak 1m. bubu perangkap di pasang pad sisi pagar, secara bolak balik, dengan pintu perangkap menempel pada lubang pagar pada setiap jarak 20m. LTBS ditempatkan di 3 lokasi yg di tenggarai menjadi jalur lintasan tikus LTBS di pasang selama 3 malam berturu turut tangkapan tikus di periksa setiap pagi. Hewan bukan sasaran seperti katak, kadal, ular dan lain nya di lepas kembali dalam keadaan hidup kelingkungan nya. Panen Dan Pascapanen Panen di lakukang pada saat matang fisiologis yaitu bilaman 90% bulir menguning. Panen di lakukan mengunakan combine harvester atau mini-indocombine harvester. Gabah yang di hasilkan di jemur hingga mencapai kadar air sekitar 14% (gabah kering simpan/GKS). Ditulis: Edwin Herdiansyah, Tri Kusnanto dan Dede Rohayana Sumber : Balitbangtan