Loading...

KANDUNGAN GIZI PADA MINYAK SAWIT MERAH DAN PELUANG PASARNYA

KANDUNGAN GIZI PADA MINYAK SAWIT MERAH DAN PELUANG PASARNYA
Kelapa sawit telah membuktikan mampu memberikan kontribusi terhadap pemenuhan gizi masyarakat. Sekitar 75%-85% kelapa sawit dimanfaatkan sebagai bahan pangan sebagai pendukung program ketahanan pangan. Sesuai penjelasan Prof. Sri Raharjo Guru Besar Departemen Teknolog Pangan dan Hasil Pertanian, Fakultas Pertanian UGM menyebutkan bahwa kandungan fitonutrien di dalam minyak sawit merah atau Virgin Red Palm Oil (VRPO) seperti tokoferol, tocotrienol dan karoten yang bermanfaat untuk meningkatkan system daya tahan tubuh. Untuk itu minyak sawit merah dapat dipergunakan sebagai upaya untuk meningkatkan gizi masyarakat serta memperkuat imunitas tubuh melalui makanan. Efek mikrontrien seperti tokoferol memiliki kandungan imun yang cukup banyak memperbaiki jaringan organ yang rusak dan meningkatkan sel-sel dalam tubuh. Minyak sawit merah dapat mengurangi dampak buruk penyakit pada hati (liver). Sedang tocotrienol dapat menghambat atherosclerosis melalui peningkatan induksi. Selain itu kandungan tokoferol dan tocotrienol dapat memperbaiki sistim daya tahan tubuh dan cara yang efektif untukmenghambat kerusakan yang lebih parah pada penyakit alzaimer. Karotenoid juga merangsang kemampuan membunuh bakteri. VRPO juga mengandung beta karoten atau provitamin A yang jumlahnya 15 kali lebih tinggi dibanding dengan yang ada di wortel. Sawit juga mengandung vitamin E (tokoferol) yang tinggi yang dikenal sebagai antioksidan yang dapat menangkal radikal bebas. Peluang Pasar Dari segi harga, sudah menjadi rahasia umum bahwa keuntungan dari bisnis sawit cukup besar. Bahkan, biaya produksi rata-rata dari kelapa sawit ini bisa mencapai kira-kira sebesar Rp 500/kg. Hal ini juga didasari adanya nilai jual TBS (Tandan Buah Segar) sekitar Rp 1597/kg. Dari perhitungan tersebut, ternyata keuntungan dari bisnis ini dapat mencapai tiga kali lipat harga TBS apabila mengalami kenaikan. Dilihat dari demand, baik dari dalam negeri dan luar negeri cukup besar. Di dalam negeri, kondisi masyarakat Indonesia yang masih banyak mengalami kekurangan gizi (malnutisisi) dan stunting menjadi peluang untuk produksi vitamin A dan E. Apalagi bahan bakunya berasal dari komoditas minyak sawit . Kita sudah menghasilkan CPO terbesar di dunia, ini sebagai peluang pasar dalam sebagai penghasil vitamin A dan E yang luar biasa. Industri minyak sawit banyak yang bisa digarap secara bisnis. Misalnya, etanol, betkaroten Potensi betaroten mencapai 13,5 ribu ton/tahun dan tocopherol sebagai bahan baku industri makanan dan farmasi. Harga betakaroten natural untuk vitamin E di pasar internasional mencapai 350 dollar AS atau Rp 7.500/kg, sedangkan beta carotene sintesitis sebesar 250 dollar AS atau Rp2.000/kg. Harga tocopherol natural 100 dollar AS/kg, sedangkan yang sintetis 20-75 dollar AS/kg. Di Indonesa belum ada perusahaan yang terjun ke industri ini, sehingga menjadi peluang bagi kita semua. Dari 20 perusahaan global yang bermain diindustri betkaroten semuanya perusahaan asing (Belanda, Jerman, Denmark, AS dan Israel. Begitu juga pemain global tocpherol ada 16 industri seperti BASF dan DSM). Produksi minyak sawit Indonesia terus bergerak naik. Misalnya, tahun 2019 produksi CPO mendenkati 50 juta ton, bahkan tahun 2020 akan lebih dari 50 juta ton. Bahkan sejak tahun 2017 hingga 2020, nilai ekspor minyak sawit hulu dan hilir memberikan porsi cukup besar terhadap APBN. Dari sisi volume, ekspor CPO terus mengalami peningkatan. Tahun 2020 diperkirakan akan mencapai 3,8-3,9 juta ton. Berdasarkan data Oktober 2020, sudah mencapai 3,2 juta ton dengan nilai 26 juta dollar AS. Sebagai sumber devisa Negara, yaitu sebesar 14,4 persen pertahaun dari total ekspor Indonesia. Bahkan pada masa pandemi masih bisa menghasilkan devisa. Hingga Agustus devisa yang terkumpul dari ekspor mencapai 13 miliar dollar AS di tengah lemahnya penghasilan devisa lain seperti dari migas dan pariwisata. Perkebuan sawit juga menjadi penyumbang membuka lapangan pekerjaan. Dari mulai on farm (kebun) hingga sampai produk akhir total lapangan pekerjaan yang terserap mencapai 4,2 juta tenaga kerja langsung maupun tidak langsung. Sawit juga berkonstribusi pada biodiesel, energi ramah lingkungan. Bahkan pencampuran biodiesel dengan minyak solar pada 2020 menjadikan Indonesia pioneer dalam pencampuran atau terbesar di dunia. Ini berdampak mengurangi ketergantungan impor minyak solar. (Sri Puji Rahayu/yayuk_edi@yahoo.com)