Loading...

KEMENTAN OPTIMALKAN KEBERSAMAAN PETANI DAN PENYULUH DALAM MENGGENJOT PRODUKSI DAN PRODUKTIVITAS PADI DAN JAGUNG

KEMENTAN OPTIMALKAN KEBERSAMAAN PETANI DAN PENYULUH DALAM MENGGENJOT PRODUKSI DAN PRODUKTIVITAS PADI DAN JAGUNG
[Jakarta] Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman di berbagai kesempatan mengatakan bahwa seiring dengan program pembangunan pertanian memiliki tujuan utama yaitu menyediakan pangan bagi seluruh rakyat Indonesia, meningkatkan kesejahteraan petani serta meningkatkan ekspor melalui peningkatan nilai tambah. Mentan berharap pada musim tanam pertama ini sukses meningkatkan produktivitas dan produksi padi. Diharapkan adanya partisipasi aktif petani dan penyuluh dalam menggenjot produksi pangan nasional. Oleh karena itu, persiapan musim tanam yang akan datang pada bulan November dan Desember harus segera disiapkan dengan baik, dengan berkoordinasi dengan stakeholder terkait merupakan kunci dalam persiapan tersebut”. jelas Mentan. Mentan menegaskan saat ini Kementerian Pertanian mendukung dan mendorong petani dan penyuluh pertanian untuk meningkatkan produksi pertanian pada musim rendeng 2024. Sementara itu agenda Ngobrol Asyik (Ngobras) volume 50 yang bertemakan Dukungan Penyuluh dan Petani dalam Peningkatan Produktivitas dan Produksi Padi Jagung dilaksanakan, Selasa (19/12/2023) di AOR BPPSDMP. Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM, Dedi Nursyamsi mengatakan bahwa menurut BMKG untuk musim tanam akan mundur antara 10 sampai dengan 30 hari yang berarti jadwal tanam mundur satu bulan dan berarti panen juga mundur. Pada musim Rendeng ini produktivitas tidak boleh berkurang, kita semua harus kerja keras dan genjot produktivitas terutama padi dan jagung, dengan cara pastikan sarana prasarana di lapangan, pastikan inovasi teknologi di implementasikan oleh petani dan pastikan para penyuluh pertanian mendampingi petani dan memberikan solusi dari permasalahan yang ada”. jelas Dedi Nursyamsi. Narasumber Ngobras, Entang Saastraatmadja yang merupakan Ketua Harian HKTI Jawa Barat pada paparan materinya menjelaskan kondisi padi jagung saat ini yaitu produksi yang menurun akibat dampak el nino, terjadinya alih fungsi lahan, pupuk bersubsidi, melemahnya penyuluhan, kurangnya keberpihakan (politik anggaran) dan terbatasnya teknologi dan inovasi. Upaya mengenjot produksi dapat dilakukan dengan penambahan luas tanam, percepatan masa tanam, dukungan politik anggaran, sinergi dan kolaborasi para pemangku kepentingan dan perkuatan penyuluhan”. jelas Entang Saastraatmadja. Selanjutnya narasumber Ngobras, mengatakan bahwa tantangan yang ada saat ini yaitu perlindungan ruang pertanian khususnya sawah produktif, revitalisasi Panca usaha tani, ketergantungan impor, alih generasi petani padi, jaminan petani hidup layak, kendala penyuluhan pertanian, kualitas penyuluh, kinerja penyuluh dan pemerintah daerah. Adapun solusi cerdas yang dapat dilakukan dengan mempertegas komitmen, regulasi yang berkualitas, sikap politik yang mendukung, program dan kegiatan nyata, petani sebagai pelaku utama, mengembalikan jati diri penyuluh pertanian, kebersamaan petani dan penyuluh pertanian”. imbuh Entang Sastraatmadja.hevymay