Loading...

Kisah Petani Milenial Wajo, Masuk 12 Besar Cerita Perubahan Significant (Most Significant Change) Tingkat Nasional

Kisah Petani Milenial Wajo, Masuk 12 Besar Cerita Perubahan Significant (Most Significant Change) Tingkat Nasional
AMBO INTANG JEBOLAN ALUMNI SL-IPDMIP WAJO DONGKRAK HASIL PANEN Panggilan ambo untuk suku bugis artinya (Bapak) adalah sebutan untuk orang yang dituakan dalam suatu rumah tangga, Ambo Intang (38 tahun) seperti itulah nama yang diberikan orang tua kepada salah satu petani yang berasal dari dusun Waji, desa Leppangeng kecamatan Belawa kab. Wajo yang mengikuti SL pada tahun 2021. Mempunyai lahan garapan seluas 1Ha masuk dalam wilayah kelompok tani Padi Mekar XIII.2 Gapoktan Latapareng. Lahir dari keluarga petani membantu orang tua ke sawah sejak umur 28 tahun dan sampai sekarang menggarap lahan sendiri. Teknik budidaya yang diterapkan waktu belum mengikuti SL hanya berbekal dari apa yang telah diajarkan oleh orang tua dan yang di lihat langsung dari kebiasaan orang tua. Salah satu kebiasaan yang dilakukan sebelum mengikuti SL adalah sistem tanam hambur hasil yang diperoleh setiap musim hanya sekitar 5.5 – 5.6 ton/ha. Alhasil setelah mengikuti SL dan melihat hasil dari LL (Laboratorium Lapangan) Ambo Intang tersadar untuk mempraktekkan ilmu yang telah diperoleh dari SL yaitu menggunakan sisten tanam pindah dengan menggunakan jarak tanam yang direkomendasikan seperti 25 x 25, pengolahan tanah yang benar dimana yang sering dilakukan sebelum SL jarak pengolahan pertama dan kedua sering dalam satu hari yang sama, ternyata setelah mendapat ilmu yang disarankan adalah ada jedah waktu antara pengolahan pertama dan kedua, dimana tujuannya adalah salah satunya agar sisa tanaman yang berbaur dalam tanah mendapat kesempatan untuk terurai atau dengan kata lain gulma akan mati dan membusuk menjadi humus, aerasi tanah menjadi lebih baik, lapisan bawah tanah menjadi jenuh air sehingga dapat menghemat air, hal tersebut menjadi catatan pada diri Ambo Intang, selain itu penggunaan benih unggul/bersertifikat serta tidak memakai pupuk yang berlebihan dimana sebelum SL pupuk subsidi jatah untuk 1 Ha sebanyak 5 Zak terkadang merasa tidak mencukupi, padahal belum tentu lahan sawahnya harus diberi perlakukan pemberian pupuk urea sebanyak 5 Zak, pemahaman pemahaman seperti inilah yang ditanamkan bapak Ambo Intang ke anggota petani lainnya sehingga tidak lagi ada keresahan bagi petani tentang jatah pupuk yang lebih sering terjadi komplik akhirnya secara perlahan lahan dapat diredam. Totalitas menjadi petani sekaligus ketua kelompok tani, membuat Ambo Intang aktif dalam berbagai kegiatan kelompok tani, salah satunya selain mengikuti SL juga mengkoordinir anggota kelompok tani untuk terlibat dalam kegiatan seperti PLEK (Pelatihan Literasi Edukasi dan Keuangan), pertemuan yang membahas rantai nilai, forum berbagi antar petani dan kunjungan lintas desa kegiatan temu usaha dipercayakan menajdi salah satu narasumber dihadapan beberapa stakeholder dan pelaku usaha. Hasil/produksi GKP yang diperoleh setelah mengaplikasikan ilmu dari SL adalah, rata2 yang diperoleh pada 2 tahun terakhir mulai 2021 – 2022 cenderung meningkat ( 2020 setiap musim rata rata mencapai 6 ton/ha, 2021 sekitar 9 ton/ha, dan tahun 2022 mencapai angka 9.1 – 9.2 ton/ha) dengan jenis varietas Inpari 32, hal yang sama juga dirasakan oleh beberapa anggota kelompoknya yakni Sahibu, Sudirman, Muhtar serta beberapa anggota lainnya yang tergabung dalam Poktan Padi Mekar XIII.2. Ambo Intang sebagai ketua kelompok tani ( Padi Mekar XIII.2) telah memotivasi anggotanya untuk bersama sama berkelompok mengembangkan usaha mandiri benih melalui kerjasama dengan PT. Harmoni, melalui ilmu yang diterima dari SL seperti teknik pemilihan benih, dan cara mengontrol ketersediaan air di persawahan dengan alat kontrol AWD (Alternate Wetting and Drying / Pengelolaan Air Sistem basah Kering yang terbuat dari pipa paralon hasil pembelajaran dari SL. Ambo Intan berhasil merangkul kelompok taninya untuk mengikuti program mandiri benih sejak 3 tahun terakhir, melalui mandiri benih dapat menghasilkan 4 ton (sebagian dijual ke PT. Harmoni yang selanjutnya PT. Harmoni mengemas sehingga nilai jual tinggi dan sebagian dijual langsung ke petani tanpa kemasan untuk saat ini pemasaran tanpa kemasan dijual dalam dalam lingkup desa Leppangeng pada khususnya dan kecamatan Belawa pada umumnya, sehingga petani tidak mengalami kesulitan dalam hal pemenuhan benih berlabel/bersertifikat. Ditulis Kembali oleh : Andi Ahmadi, SP., M.Si Penyuluh Pertanian DTPH-Bun Provinsi Sulawesi Selatan