Loading...

KOMPOS SLUDGE KELAPA SAWIT MENINGKATKAN HASIL TANAMAN PADI

KOMPOS SLUDGE KELAPA SAWIT  MENINGKATKAN HASIL TANAMAN PADI
Padi merupakan komoditas pangan utama di Indonesia. Tantangan yang dihadapi dalam pengadaan produksi padi semakin berat seiring dengan tingginya laju pertumbuhan penduduk dan tingkat konsumsi beras, selain itu juga adanya kegiatan alih fungsi lahan pertanian yang relatif cepat dengan penggunaan lainnya, serta penurunan produktivitas lahan sawah akibat rendahnya kandungan bahan organik tanah. Terkait dengan kandungan bahan organik tanah yang rendah, agar bahan organik tanah tetap terjaga, upaya yang dapat dilakukan melalui pemanfaatan kompos jerami yang selalu ada di sawah, sehingga peningkatan produksi padi secara berkelanjutan dapat dicapai. Pemakaian jerami padi sebagai sumber bahan organik dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman dan efisiensi pemupukan. Dari beberapa penelitian dilaporkan juga bahwa jerami dapat digunakan sebagai sumber unsur hara seperti: Si (4-7%), Kalium (1,2-1,7%), N (0,5-0,8%), P (0,07-0,12%) dan S(0,05-0,10%). Peran bahan organik secara kimia bagi tanaman adalah sebagai penyediaan unsur hara, mengingat bahan organik tersusun dari elemen karbon, hydrogen, oksigen, nitrogen, fosfor, kalium, sulfur, dan unsur hara mikro yang dibutuhkan tanaman. Di samping sebagai sumber hara, bahan organik juga berperan sebagai sumber makanan dan energi bagi jasad renik di dalam tanah. Bahan organik akan terdekomentasi melalui proses mikrobiologi yang akan melepas hara dalam bentuk anorganik menjadi tersedia bagi tanaman. Bahan organik untuk dijadikan kompos dapat dibuat dari berbagai jenis bahan, antara lain sisa tanaman (jerami, brangkasan, tongkol jagung, bagas tebu, sabut kelapa), serbuk gergaji, kotoran hewan, limbah media jamur, limbah pasar, rumah tangga, dan pabrik serta pupuk hijau. Oleh karena bahan dasar pembuatan pupuk organik sangat bervariasi, maka kualitas pupuk yang dihasilkan menjadi beragam sesuai dengan kualitas bahan dasar dan proses pembuatannya. Salah satu sumber bahan organik yang juga memiliki potensi kandungan hara yang cukup tinggi adalah sludge kelapa sawit. Sludge merupakan limbah yang berasal dari pabrik kelapa sawit yang setiap tahunnya akan meningkat pesat sejalan dengan pertambahan luas area perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Limbah pabrik kelapa sawit tersebut harus dikelola dengan baik agar tidak menimbulkan masalah pencemaran lingkungan. Aplikasi Sludge sebagai pupuk kompos mendapatkan keuntungan ganda yaitu meningkatkan produktivitas padi dan mengatasi pencemaran lingkungan. Pengkajian yang dilakukan oleh Effendi dkk (2021) di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Riau, menggunakan kompos sludge kelapa sawit. Media yang digunakan dalam pengkajian adalah polibag yang diberi tanah sebanyak 9 kg per polibag. Pengkajian ini merupakan pengkajian lanjutan karena data pengkajian sebelumnya menunjukkan bahwa produktivitas padi varietas Batang Piaman mampu meningkat lebih kurang sebesar 200% dibandingkan dengan produktivitas pada deskripsinya. Perlakuan penggenangan yang diberikan yaitu tinggi permukaan air 10 cm dibawah permukaan tanah dan pada tanah ditambahkan sludge. Perlakuan pengkajian lanjutan terdiri dari 5 level kompos sludge yaitu: 1) tanpa diberi kompos, 2) diberi kompos sludge sebanyak 10 ton per hektar (50 gram per polibag), 3) diberi kompos sludge sebanyak 15 ton per hektar (75 gram per polibag), 4) diberi kompos sludge sebanyak 20 ton per hektar (100 gram per polibag), dan 5) diberi kompos sludge sebanyak 25 ton per hektar (150 gram per polibag). Berdasarkan hasil pengkajian terhadap komponen hasil dan hasil tanaman padi, kompos sludge ternyata mampu meningkatkan komponen hasil dan hasil tanaman padi Varietas Batang Piaman. Semua dosis perlakuan kompos sludge menunjukkan bobot gabah kering giling yang lebih tinggi dibandingkan dengan tanpa diberi kompos sludge. Pemberian kompos sludge 20 ton per hektar (100 gram per polibag) menunjukkan hasil bobot gabah kering giling tertinggi dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Masing-masing hasil bobot gabah kering giling per rumpun pada perlakuan: tanpa kompos : 10 ton per hektar (50 g per polibag) : 15 ton per hektar (75 g per polibag) : 20 ton per hektar (100 g per polibag) : 25 ton per hektar (150 g per polibag) yaitu: 75,18 g : 83,61 g : 91,05 g : 104,44 : 97,25 g per polibag. Bobot gabah kering giling tertinggi perrumpun pada perlakuan 20 ton per hektar (100 g per polibag) dipengaruhi oleh jumlah anakan produktif yang tinggi. Ha ini menunjukkan bahwa kompos sludge kelapa sawit berpengaruh terhadap anakan produktif tanaman padi varietas Batang Piaman (Ahmad Damiri).