Konservasi lahan bertujuan untuk mencegah dan memperbaiki kerusakan tanah karena erosi. Konservasi lahan dapat dilakukan dengan metode vegetatif, metode teknis, metoda mekanis dan kimiawi . Metode mekanis ini bertujuan untuk memperkecil terjadinya aliran air permukaan dan menyalurkan aliran air ke dalam tempat atau saluran yang tersedia. Metode-metode yang bisa kita lakukan antara lain dengan terasering dan rorak. Prinsip dalam konservasi lahan adalah: 1) Semua ekosistem alam yang ada diidentifikasi, dilindungi dan dipulihkan melalui konservasi; 2)Harus ada buffer zone daerah produksi dengan pemukiman atau ekosistem alam tempat agrokimia tidak diperbolehkan; 3) Ekosistem perairan harus dilindungi dari erosi dan produk agrokimia; 4) Pertanian tidak boleh menghancurkan ekosistem alami; 5) Tidak boleh membuang atau menambah limbah industri atau limbah rumah tangga ke badan air alami; 6) Tidak boleh menumpuk padatan organik dan anorganik ke badan air alami. Penerapan Metode Mekanik: Erosi merupakan penyebab utama degradasi tanah di perkebunan kakao, terutama pada areal yang kemiringannya cukup terjal. Adanya air hujan yang berlebih dapat berpengaruh buruk selama periode persiapan lahan dan tanaman muda /tanaman belum menghasilkan(TBM), namun setelah tanaman dewasa dan tajuk tanaman menutupi seluruh permukaan tanah, maka pengaruh merusak air hujan menjadi berkurang. Pada tanah yang kemiringannya cukup terjal, dapat terjadi aliran permukaan yang menyebabkan terjadinya erosi, sehingga perlu diupayakan pengendaliannya. Upaya pengendalian erosi Jika kelerengan kurang dari 8% tidak perlu dibuat teras, cukup dengan rorak. Jika kelerengan lebih dari 8% perlu dibuat teras bangku kontinu atau teras ”sabuk gunung” dan rorak. Jika kemiringan lahan lebih dari 45% sebaiknya tidak dipakai untuk budidaya tanaman kakao. Teras Terasering merupakan bagian tanah yang dibuat agak tinggi dengan memotong lereng sehingga bisa menghadang aliran permukaan Ada beberapa macam teras yang dapat dibuat untuk mencegah erosi, di antaranya adalah teras bangku, teras gulud,dan teras individu. Teras bangku Fungsi teras bangku untuk memperpendek panjang lereng, memperlambat laju aliran permukaan, meningkatkan laju infiltrasi air ke dalam tanah, dan mempermudah pengolahan tanah. Teras bangku diperuntukkan pada tanah dengan jeluk dalam. Pembuatan teras bangku dimulai dengan penentuan garis kontur. Garis kontur dapat ditentukan dengan alat Teodolit dan Klinometer. Teras gulud Teras gulud berupa guludan yang dilengkapi saluran pembuangan air dan dibuat memotong lereng. Teras gulud sesuai untuk tanah yang jeluknya dangkal dan kemiringannya <15%. Teras individu Teras Individu yaitu perataan tanah di sekitar pokok tanaman, biasanya garis tengahnya 1,0 – 1,5 m. Pembuatan teras bangku: 1) Dibuat garis kontur dan ditandai dengan ajir. Jarak antara kaki alat bantu pembuatan kontur disamakan dengan jarak tanam; 2) Perataan tanah dimulai dari ajir terasan yang paling atas; 3) Mencangkul tanah 1 m di depan garis kontur (batas ajir) kemudian di tarik ke belakang sebagai ”bokongan” teras; 4) Tanah hasil galian selanjutnya diinjak supaya padat dan tidak mudah terbawa air hujan. Rorak Rorak merupakan saluran buntu berupa got yang dibuat pada bidang olah teras dan sejajar garis kontur yang berfungsi untuk menjebak aliran permukaan. Rorak yaitu berupa lubang di dalam kebun, dibuat setelah bibit kakao ditanam di kebun, diutamakan pada lahan yang miring. Rorak dibuat sejajar dengan kontur, ukuran panjang x lebar xdalam = 100cm x 30cm x 30cm. Antara rorak yang satu dengan yang lain dibuat zigzag. Ke dalam rorak dapat diisikan bahan organik. Bila sudah penuh, rorak ditutup tanah dan dibuat rorak yang baru. (Sri Wijiastuti, Pusat Penyuluhan Pertanian). Sumber: PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA KAKAO YANG BAIK (GOOD AGRICULTURE PRACTICES/ GAP ON COCOA https://www.zenius.net/blog/metode-konservasi-tanah-contoh