Meskipun Peraturan Menteri Kesehatan sudah menyatakan bahwa formalin merupakan bahan tambahan makanan terlarang, ternyata pada kenyataannya masih banyak para pedagang/produsen makanan yang tetap menggunakan zat berbahaya ini. Formalin digunakan sebagai pengawet makanan, selain itu zat ini juga bisa meningkatkan tekstur kekenyalan produk pangan sehingga tampilannya lebih menarik (walaupun kadang bau khas makanan itu sendiri menjadi berubah karena formalin). Kurangnya tingkat kesadaran masyarakat tentang kesehatan, harga formalin yang sangat murah dipasaran (kepentingan ekonomi) serta kemudahan untuk memperoleh formalin merupakan faktor-faktor yang menjadi penyebab adanya penyalahgunaan formalin dan boraks dalam produk makanan Maraknya pengawetan bahan pangan menggunakan bahan pengawet yang tidak diperuntukkan untuk makanan seperti formalin dan boraks menjadi keresahan tersendiri bagi masyarakat. Penggunaan pengawet tersebut umumnya digunakan pada daging ayam dan ikan yang merupakan makanan faforit konsumen sebagai sumber protein. Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah mulai dari pembuatan peraturan perundang-undangan hingga sidat yang dilakukan Badan Pengawas Obat dan Makana (BPOM) dipasarsan secara langsung. Hal ini menyebabkan banyak masyarakat yang terkadang enggan mengonsumsi daging dan ikan, sehingga defisiensi asupan protein terhadap kebutuhan gizi akan berkurang. Masalah tersebut membutuhkan solusi yang tepat, cepat dan efektif. Meskipun sudah ada alat untuk menguji makanan berformalin seperti halnya tes kit formalin, namun masyarakat jarang ada yang rela menghabiskan uang hanya untuk tes kit, karena cukup mahal. Oleh karena itu diperlukan solusi untuk membantu masyarakat dalam mengenali bahan makanan yang mengandung formalin. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan senyawa antosianin buah naga. Antosianin adalah senyawa yang bersifat amfoter, yaitu memiliki kemampuan untuk bereaksi baik dengan asam maupun dengan basa. Antosianin dimungkinkan bereaksi asam basa sehingga dapat digunakan sebagai pendeteksi formalin yang bersifat asam dengan menghasilkan warna merah keunguan. Antosianin dapat menjadi indikator alami asam dan basa, sehingga dapat digunakan sebagai pendeteksi formalin yang bersifat asam dengan menghasilkan warna merah keunguan. Buah naga ketersediannya melimpah di Indonesia sehingga tidak sulit untuk menemukan buah ini begitu pula dengan limbahnya yang berlimpah. Penggunaan kulit buah naga sebagai pendeteksi formalin perlu didemostrasikan kepada masyarakat. Hal-hal yang perlu dilakukan adalah sebagai berikut: Menyiapkan alat dan bahan ( kulit buah naga, daging ayam dan ikan berformalin dan tidak berformalin, 2 buah wadah berisi air bersih dan tissue serta pisau dapur) Memotong kulit buah naga terlebih dulu lalu masukkan kedalam wadah berisi air ± 10 menit hingga larutan berubah menjadi warna merah. Bersihkan kulit buah naga dari larutan Lipat tissue dan celupkan kedalam larutan Menempelkan lipatan tissue ke bahan pangan ujian, tunggu hingga ± 20 menit Mengamati peruabhan warna pada tissue. Hasil yang diperoleh jika tissue berwarna menjadi merah keunguan atau kehitaman atau lebih terang maka daging atau ikan tersebut positif mengandung formalin, tetapi jika warna pada tissue menjadi pudar makan bahan pangan tersebut negatif mengandung formalin dan aman untuk dikonsumsi. Pengaplikasian metode ini sangat mudah untuk dilakukan oleh seluruh lapisan konsumen dan masyarakat. Oleh : Erni PPL BPP Maiwa Kab Enrekang Verifikator DRWS