Kegiatan Sekolah Lapang (SL) Tematik Padi Sawah, adalah sebuah wadah belajar praktis yang tidak hanya fokus pada teori, tetapi langsung diterapkan di atas lahan. Kegiatan dibuka dengan sambutan hangat dari Koordinator Penyuluh Pertanian dan Kepala UPTD Diskatan Ciwaru. Mereka menekankan pentingnya SL ini sebagai sarana transfer ilmu pengetahuan dan teknologi pertanian terbaru. Para petani diajak untuk membuka diri terhadap inovasi, meninggalkan kebiasaan lama yang kurang efisien, dan bersama-sama merumuskan permasalahan yang selama ini menghantui sawah mereka, mulai dari pemupukan, persemaian, serangan hama, penyakit, panen dan pasca panen, hingga manajemen air yang kurang optimal. Visi utama SL Tematik ini adalah menciptakan sistem budidaya padi sawah yang efisien, berkelanjutan, dan ramah lingkungan. Kegiatan ini telah dilaksanakan dari bulan Juni 2025 bertempat di BPP Ciwaru untuk kegiatan Rembug Tani dan Kursus Tani, sedangkan untuk LL Demplot dilaksanakan di lahan sawah peserta kegiatan.
Pendahuluan : Rembug Tani
Kegiatan SL di awali dengan kegiatan rembug tani, dengan maksud untuk menggali permasalahan-persalahan yang ada di petani, kemudian di urutkan dengan metode GMP sehingga diperoleh skala prioritas yang akan menjadi tema dan materi inti kegiatan SL Tematik yang akan dilaksanakan. Rembug Tani, sebuah frasa yang terasa sederhana namun menyimpan kedalaman filosofi dan praktik sosial yang menjadi jantung dari kehidupan komunitas petani di Indonesia. Lebih dari sekadar pertemuan, Rembug Tani adalah sebuah forum musyawarah mufakat, wadah di mana para petani berkumpul, duduk bersama, dan berbagi pikiran serta pengalaman untuk menyelesaikan masalah dan merencanakan masa depan pertanian mereka
Praktik Inti : Kursus Tani
Kursus Tani SL Tematik ini dibagi menjadi beberapa pertemuan yang mengikuti siklus hidup tanaman padi. Setiap pertemuan berfokus pada fase kritis tertentu:
1. Fase Persiapan Lahan dan Pembibitan: Petani belajar tentang pentingnya pengolahan tanah yang baik, penggunaan pupuk organik sebagai upaya perbaikan struktur tanah, dan teknik pemilihan serta perlakuan benih unggul. Mereka mempraktikkan cara membuat persemaian yang sehat, yang merupakan kunci awal keberhasilan.
2. Fase Tanam dan Pengamatan Mingguan (Minggu Kritis): Ini adalah inti dari SL. Petani diajarkan metode Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Mereka turun langsung ke petak percontohan untuk melakukan pengamatan mingguan. Mereka belajar mengidentifikasi musuh alami (predator serangga) dan membedakannya dari hama. Prinsip utamanya adalah mengendalikan bukan membasmi, dengan menekankan pada pencegahan dan penggunaan pestisida nabati jika sangat diperlukan.
3. Fase Pemupukan dan Manajemen Air: Diskusi mendalam diadakan tentang pemupukan berimbang sesuai kebutuhan spesifik tanaman dan kondisi tanah. Petani belajar menggunakan Bagan Warna Daun (BWD) untuk menentukan kapan dan seberapa banyak pupuk Nitrogen yang harus diberikan, menghindari pemborosan dan pencemaran lingkungan. Selain itu, mereka mempraktikkan sistem irigasi berselang (AWD) untuk menghemat air.
4. Fase Generatif dan Panen: Menjelang masa panen, fokus beralih pada penanganan bulir padi agar terhindar dari penyakit seperti blas dan tikus. Petani belajar cara menentukan umur panen yang tepat (keseragaman warna gabah) dan teknik pascapanen yang efisien untuk mengurangi kehilangan hasil (losses).
Penutup : Evaluasi dan Rencana Tindak Lanjut
Di akhir program, seluruh peserta berkumpul untuk sesi evaluasi dan refleksi. Mereka diajak untuk menyampaikan pengalaman selama dilapangan dan apa yang sudah dipelajari di dalam kursus tani, dan persiapan membuat demplot percontohan sesuai yang pernah dipelajari bersama selama kursus tani dilaksanakan. Demplot yang akan dilaksanakan oleh para peserta adalah demplot pemupukan berimbang, dengan metoda PTT Padi dan PHT. Dari Kegiatan ini diharapkan para petani tidak hanya pulang dengan pengetahuan baru, tetapi juga dengan jaringan komunitas yang kuat. SL Tematik Padi Sawah bukan sekadar pelatihan; ini adalah gerakan kolektif untuk membangun ketahanan pangan desa, menciptakan petani yang lebih cerdas, mandiri, dan bangga akan profesinya. Semangat belajar dan berbagi ini akan terus mengalir, seiring dengan mengalirnya air di sawah-sawah yang kini mereka kelola dengan kearifan baru