Zaman yang mendatangkan perubahan seperti sekuntum bunga yang sedang mekar. Membawa manusia meninggalkan masa lalu menuju masa depan bagai sungai mengalir deras. Seorang perempuan membersihkan butiran-butiran tanah yang melekat pada akar tanaman kangkung. Dia tidak sendiri, bersama anggota kelompok wanita tani (KWT) bersenda gurau dengan asyiknya. Ibu Tuti mengarahkan agar para ibu memetik sayur kangkung, lalu mengambil cabai rawit berwarna hijau. Tuti Hernati, ketua KWT Uswatun Hasanah bertekad merubah wajah kampungnya. Dia bersama warga Dusun Sukaramai membentuk kelompok tani (Poktan) pada Tanggal 4 Juli 2024. KWT Uswatun Hasanah terdiri atas 28 orang anggota, telah terpilih pengurus inti ketua ibu Tuti, sekretaris Ibu Ita dan Bendahara Ibu Ayang. Poktan tersebut, menanam Kangkung, bayam, ubi, pisang, keladi, serta cabai.
KWT Uswatun Hasanah bersama penyuluh pertanian telah melengkapi berkas kelompok tani, sesuai petunjuk Peraturan Bupati Nomor 67 Tahun 2021. Perbup tersebut mengenai Peraturan Penyelenggaraan Penyuluhan Pertanian di Kabupaten Bengkalis. Dokumen yang dilengkapi KWT antara lain Berita Acara Pembentukan Kelompok Tani, SK Kepala Desa, hingga pendaftaran di Simluhtan Kementerian Pertanian. Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) mendampingi pertemuan kelompok untuk menjelaskan mengenai penggunaan benih bermutu, pemupukan hingga mendorong mekanisasi pertanian. PPL mendorong petani agar mengusahakan jenis tanaman yang memiliki nilai ekonomi tinggi, berumur pendek atau tanaman semusim seperti kangkung, bayam, sawi atau kemangi.
Kampung Panglong berada di Desa Sejangat, lahan sayur KWT Uswatun Hasanah terletak di tempat tersebut. Luasnya 20x40 meter, tepatnya di Jalan Lingkar, RT 9 RW 2. Seluruh anggota mengolah lahan di Dusun Sukaramai tersebut secara gotong royong. Kegiatan budidaya pertanian dilakukan mulai dari pengolahan lahan, penyemaian, pemeliharaan tanaman, hingga panen. Petakan lahan berisi aneka tanaman pangan tersebut, menjadi saksi kerja keras ibu-ibu tani. Mereka menyadari bahwa bekerja sama dalam kelompok akan mempermudah proses penanaman, perawatan dan panen. Anggota KWT gotong royong membersihkan kebun, menyiapkan lahan dan menanam sayur penuh semangat. Para anggota Poktan menyiapkan media tanam dengan mencampur tanah dan pupuk kompos.
Warga masyarakat Panglong merasakan manfaat budidaya sayuran KWT Uswatun Hasanah. Mereka mendatangi kebun sayur guna membeli kangkung dan bayam. Bila tidak sempat datang langsung, mereka memesan melalui media sosial. Ibu-ibu KWT mengantar sayuran ke rumah-rumah warga.
“Prosesnya membuat kami bahagia, hasil penjualan bisa dipakai lagi untuk membeli benih. Selain itu, anggota KWT senang karena mereka bisa memenuhi kebutuhan sayur keluarga.” Ujar Ibu Tuti.
Dia berpendapat bahwa bisnis sayuran tidak harus di lahan skala besar, melainkan dapat ditanam pada skala kecil. Untuk bisnis sayuran keluarga, cukup menanam di pekarangan rumah. Hasil panen bisa untuk diolah di dapur, sebagian djual sebagai pendapatan keluarga.
“Kami anjurkan kepada setiap warga Panglong agar membuka lahan sayur di depan atau belakang rumah. Bibit sayur bisa kami sediakan, tinggal memberi pupuk kompos dan merawat dengan telaten. Begitu mudah hingga menurut saya semua orang bisa menanam dan panen sayur.” Tutup Ibu Ketua KWT.
Langit sore berwarna jingga, ibu Tuti Bersama anggota KWT telah selesai panen kangkung. Mereka berkumpul di pondok baca tepi kebun sayur. Sambil bercerita mereka memakan rujak buah yang sudah disiapkan. Seperti namanya, Uswatun Hasanah yang berarti teladan yang baik, ibu-ibu tani di Desa Sejangat ini memang patut dicontoh. Di luar sana sebagian manusia hidup secara individual, mereka melakukan gotong royong. Ketika Sebagian orang mementingkan diri sendiri, ibu-ibu bekerja sama. Saat hampir semua insan menanam untuk bahan bakar mesin, mereka memetik pangan untuk manusia. Mungkin itulah yang mereka maksud dengan bahagia.