Nama penulis : Munazhirah S.P Jabatan: Calon Penyuluh pertanian Instansi : Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Sungai Mas, Kabupaten Aceh Barat Budidaya tanaman pertanian selalu mengalami permasalahan salah satunya yaitu adanya organisme pengganggu tanaman (OPT) seperti gulma, hama dan penyakit yang menyerang tanaman sehingga menyebabkan pertumbuhan tanaman menjadi terhambat bahkan sampai tanaman menjadi mati sehingga mengurangi hasil produksi. Untuk mengendalikan OPT yaitu hama seperti ulat, kutu/trips, wereng, belalang dan hama lain sebagainya petani sangat bergantung terhadap penggunaan pestisida kimia dalam mengendalikan OPT, namun arternatif lain yang bisa digunakan yaitu penggunaan pestisida nabati. Pestisida nabati adalah pestisida yang bahan dasarnya dari tumbuh-tumbuhan yang mengandung zat aktif metabolit sekunder yang berupa toksin untuk mengendalikan hama, menurut (Asmaliyah et al, 2010) Di Indonesia sangat banyak jenis tumbuhan penghasil pestisida nabati, diperkirakan sekitar 2400 jenis tanaman yang termasuk ke dalam 235 famili, seperti daun sirsak, daun tembakau, daun pepaya,daun nimba, buah mengkudu, gadung racun, serai, cengkeh, bawang putih, cabe rawit, brotowali, akar tuba, maja, akasia, buah mahkota dewa dan lain sebagainya. Adapun keunggulan dari pestisida nabati yaitu : Relative murah dan mudah karena dapat dibuat dari bahan yang ada disekitar kita dan mudah cara pembuatannya bisa dibuat sendiri; aman bagi lingkungan karena mudah terurai sehingga produk yang dihasilkan bebas residu pestisida sehingga aman dikonsumsi dan kompatibel bila digabung dengan pengendalian yang lain seperti kultur teknis dan biologi. Namun penggunaan pestisida nabati harus diaplikasikan secara berulang kali agar efektifitasnya lebih baik. Penyuluh pertanian Kecamatan Sungai Mas telah melakukan kegiatan demontrasi cara pembuatan pestisida nabati bersama Kelompok Tani Makmu Beusare dan Kelompok Wanita Tani (KWT) Durian di Desa Drien Sibak yang kemudian diaplikasikan pada pada tamanan sayuran yang ada di pekarangan petani untuk mengendalikan hama ulat. Adapun bahan yang digunakan dalam pembuatan pestisda nabati yaitu daun sirsak 50 lembar, daun tembakau 50 gram, cabe rawit 50 gram, 1 liter air dan 20 gram sabun colek. Duan sirsak mengandung zat tanin, alkaloid, fotosterol yang bersifat racun kontak, penolak (repellent), penghambat nafsu makan (anti feedant) hama, Daun sirsak mengandung senyawa acetogenin, antara lain asimisin, bulatacin dan squamosin. Pada konsentrasi tinggi, senyawa acetogeninmemiliki keistimewaan sebagai anti feedent. Dalam hal ini, serangga hamatidak lagi bergairah untuk melahap bagian tanaman yang disukainya.Sedangkan pada konsentrasi rendah, bersifat racun perut yang bisamengakibatkan serangga hama menemui ajalnya (Kurniadhi, 2001 dalam Septriana, et al, 2002) daun tembakau mengandung nikotin yang merupakan salah satu zat yang tergolong dalam senyawa alkaloid yang dapat menolak kehadiran hama dan merusak sitem saraf hama sedangkan cabe rawit mengandung zat aktif capsaicin yang dapat membuat mata hama menjadi perih sedangakan sabun colek yaitu sebagai perekat saat pestisida diaplikasikan pada tanaman. Cara pembuatan pestisida nabati yaitu sangat mudah dengan memasukan bahan daun sirsak 50 lembar yang sudah dicincang kecil-kecil, daun tembakau 50 gram dan cabe rawit 50 gram kedalam blender kemudian ditambahkan air 1 liter, diblender hingga halus, bisa dilakukan dua kali blender agar hancur maksimal kemudian disaring dengan sarigan dan diatas saringan diberi kain agar tidak ada tersisisa ampasnya dan ekstrak tersebut dimasukkan kedalam botol kemudian disimpan selama 1x24 jam agar kandungan zat aktif lebih sempurna dalam pengurainnya. Pengaplikasian pestisida nabati harus dilakukan dengan baik dan benar dengan memperhatikan empat tepat yaitu tepat dosis, tepat waktu, tepat cara dan tepat sasaran sehingga pestisida nabati tersebut menjadi tepat guna. Untuk dosis dari pestisida nabati yang telah disimpan 1x24 jam yaitu 1 liter ekstrak pestisida nabati dicampurkan degan 15 liter air biasa dan ditambahkan 20 gram sabun colek yang sudah di kocok terlebih dahulu kedalam air. Waktu pengaplikasiannya yaitu di pagi hari pada pukul 06.00-09 atau sore hari pada pukul 16.00-18.00 hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya paparan cahaya matahari secara lansung yang dapat menyebabkan penguapan zat-zat aktif pada pestisida nabati serta spesifik terhadap waktu aktif hama dalam merusak tanaman. Selanjutnya tepat cara aplikasi yaitu pestisda nabati diaplikasikan secara merata pada tanaman yang terserang baik dibagian atas daun, bawah daun maupun diseluruh bagian tumbuhan, untuk sprayer dibuat pengkabutan agar pestisida nabati dapat menempel sempurna pada daun tanaman. Dan yang terakhir yaitu tepat sasaran, tepat sasaran merupakan hal terpenting yang harus diperhatikan dalam penggunaan pestisida nabati. Tepat sasaran maknanya yaitu tepat penggunan jenis pestisida nabati sesuai dengan hama yang ingin dikendalikan. Misalnya seperti yang sudah dilakukan oleh Penyuluh Sungai Mas membuat pestisida nabati untuk hama ulat maka di aplikasikan pada tanaman yang terserang hama ulat yang sudah menunjukan kerugian diatas batas ambang ekonomi. Daftar Pustaka Agus kardinan, 2010. Pestisida Nabati. Jakarta : Penebar Swadaya. Asmaliyah,dkk. 2010. Pengenalan Tumbuhan Penghasil Pestisida Nabati dan Pemanfaatannya Secara Tradisional. Jakarta. Kementerian Ketuhan Badan Penelitian dan Pengenmbangan Kehutanan Pusat Penelitian dan Pengembangan Produktivitas Hutan. Septerina. 2002. Pengaruh Ekstrak Daun Sirsak sebagai Insektisida Rasional terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Paprika Varietas Bell Boy. Tesis S-2 Fakultas Pertanian. Universitas Muhammadiyah, Malang