[Jakarta] Menghadapi ancaman krisis pangan global dan perubahan iklim ekstrim El nino yang belum usai, Kementerian Pertanian (Kementan) Republik Indonesia terus menggenjot produksi pangan nasional. Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman terus melakukan pembenahan besar-besaran untuk meningkatkan produksi pangan strategis utamanya padi dan jagung. Menteri Pertanian juga menegaskan, tak pernah berhenti berupaya untuk menjaga ketahanan pangan dengan mengedepankan peningkatan produksi padi dan jagung. "Kita fokus dalam peningkatan program padi dan jagung ini adalah untuk mancapai swasembada dan mengurangi impor," kata Mentan. Senada disampaikan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi menyampaikan perubahan iklim global dan dampak covid-19 serta perang Rusia Ukraina menyebabkan kelangkaan pupuk. Hal itu kata Dedi, mengakibatkan penurunan produksi pangan dan meningkatkan nilai impor di Indonesia, sehingga harus digenjot peningkatan produksi padi dan jagung dalam penyediaan pangan bagi 278 juta penduduk indonesia. "Jadi solusi yang tepat kita musti genjot padi dan jagung sendiri sehingga tidak tergantung pada orang lain. Saat ini sampai dengan februari 3,5 juta ton beras kita impor, targetnya. Mulai tahun ini impor harus dikurangi, bahkan tahun berikutnya, tahun berikutnya lagi kita harus swasembada dan kita ekspor," ujar Dedi. Lebih lanjut Dedi Nursyamsi mengatakan bahwa Kementan, bertekad untuk mengatasi permasalahan dalam negeri sehingga tahun 2025-2026, Indonesia harus swasembada, terutama untuk padi dan jagung. Sementara itu agenda Ngobrol Asyik (Ngobras) volume 04 dilaksanakan Selasa (30/01/2024) bertemakan Strategi Swasembada Padi Berkelanjutan, menghadirkan narasumber Balai Besar Pengujian Standar Instrumen Padi (BBPSI Padi), Zahara Mardiah. Zahara Mardiah, mengatakan bahwa swasembada padi merupakan Kemampuan sebuah negara untuk menyediakan kebutuhan berasnya sendiri. Pratik pascapanen padi yang tepat sangat penting diketahui untuk menciptakan Swasembada padi berkelanjutan. Selanjutnya Zahara Mardiah mengatakan untuk praktik prapanen yang baik mempersiapkan fondasi yang solid untuk hasil panen yang sukses, sementara praktik pascapanen yang efisien dan efektif menjamin kualitas dan kuantitas panen yang optimal. Kedua tahapan ini saling melengkapi dan mendukung satu sama lain dalam menciptakan siklus pertanian yang berkelanjutan. Memperhatikan kedua aspek ini tidak hanya meningkatkan hasil akhir, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan dan ekonomi petani”. imbuh Zahara Mardiah.hevymay