Tanaman nilam sebagai salah satu penghasil minyak atsiri yang banyak dipergunakan dalam industri kosmetik, parfum, sabun, dan industri lainnya. Dengan berkembangnya pengobatan aromaterapi, minyak nilam selain sangat bermanfaat untuk penyembuhan fisik juga mental dan emosional. Manfaat lainnya, minyak nilam bersifat fixatif (yakni bisa mengikat minyak atsiri lainnya) yang sampai sekarang belum ada produk substitusinya (pengganti). Produk yang dihasilkan tanaman nilam adalah terna (cabang dan daun). Untuk meningkatkan produktivitas terna dan minyak nilam, perlu dilakukan cara-cara budidaya, panen dan pasca panen yang baik dan benar. Berikut beberapa langkah dalam membudidayakan tanaman nilam. Persiapan Lahan Sebelum bibit ditanam, bersihkan lahan dari berbagai jenis rerumputan, kayu dan semak belukar. Setelah itu, lahan dicangkul dan diolah hingga gembur. Pengolahan tanah sebaiknya dilakukan secara intensif. Untuk memudahkan pemelihaaraan, buatlah bedengan dengan lebar 150 cm, dengan panjang disesuaikan dengan kondisi lahan, antar bedengan buat parit pembuangan air dengan ukuran lebar 30 cm - 40 cm dan dalam 50 cm. Pada bedengan tersebut, buat lubang tanam dengan ukuran 30 cm x 30 cm, dengan kedalaman 30 cm. Penanaman Penanaman nilam dilakukan dengan jarak 90 - 100 cm antar barisan dan 40 - 50 cm dalam barisan. Sesuaikan jarak tanam yang digunakan dengan kondisi lahan. Pada lahan yang datar dan terbuka, gunakan jarak tanam yang lebih lebar (100 cm x 50 cm) sehingga tidak saling menutupi dan sinar matahari dapat langsung mencapai permukaan tanah. Pada lahan yang miring (15%) jarak antar barisan lebih lebar, dan jarak dalam barisan lebih rapat (40 cm) dan arah barisan menurut kontur. Pada tanah dengan kesuburan yang tinggi jarak tanam sebaiknya 100 x 100 cm. Penanaman dapat dilakukan dengan menanam setek langsung di lapang atau menggunakan bibit. Bila menanam dengan setek langsung di lapang, gunakan 2-3 setek/lubang dan bila menggunakan bibit, tanam satu bibit per lubang. Tanaman nilam dapat ditanam secara monokultur, tumpangsari, tumpang gilir atau budidaya lorong dengan tanaman perkebunan, buah-buahan, sayuran atau tanaman lainnya. Pemupukan Tanaman nilam membutuhkan tambahan hara berupa pupuk organik seperti pupuk kandang, kompos dan pupuk hijau, dan anorganik seperti Urea, SP-36 dan KCl. Berikan pupuk organik pada saat tanam sebanyak 1-2 kg per-lubang dan pupuk anorganik satu bulan setelah tanam atau setelah panen. Berikan pupuk anorganik dengan dosis 180 kg Urea + 90 kg SP-36 + 90 kg KCl per hektar. Pemupukan pertama dilakukan pada umur tanaman 1 bulan, dengan dosis 1/3 bagian Urea, SP-36 dan KCl. Pemupukan kedua pada umur tanaman 3 bulan bagian Urea. Pemberian pupuk setelah panen dengan dosis ½ bagian Urea + ½ bagian SP-36 + ½ bagian KCl + 2 kg pupuk organik. Pemeliharaan Untuk mempertahankan air, terutama pada musim kemarau, gunakan mulsa belukar atau alang-alang. Beri mulsa pada tanaman nilam yang baru dipanen, untuk merangsang pertumbuhan tunas-tunas baru. Bila perkembangan kanopi cukup lebar, lakukan pemangkasan, sehingga tanaman tidak saling menutupi. Selain menggunakan mulsa, tanaman perlu disiang. Pada saat tanaman berumur satu bulan atau saat gulma mulai tumbuh. Penyiangan perlu dilakukan untuk mengurangi persaingan tanaman dengan gulma dalam pengambilan unsur hara dan air dari tanah. Selain itu, gulma merupakan inang bagi hama dan penyakit tanaman. Lakukan pembumbunan pada saat tanaman berumur 3 bulan dan setelah panen. Pembumbunan dilakukan agar tanah tetap gembur dan pertumbuhan akar pada cabang dekat permukaan tanah terpacu. Sumber: Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian. 2008. Teknologi Budidaya Nilam