Loading...

Mendulang Rupiah, Hasil Melimpah, Petani Glenmore Tanam Singkong Varietas Bogor

Mendulang Rupiah, Hasil Melimpah, Petani Glenmore Tanam Singkong Varietas Bogor
Singkong atau cassava (Manihot esculenta) pertama kali dikenal di Amerika Selatan yangdikembangkan di Brasil dan Paraguay pada masa prasejarah. Saat ini tanaman singkongmerupakan salah satu tanaman sumber karbohidrat yang paling banyak dijumpai di Indonesia.Tanaman singkong mudah dibudidayakan karena sifatnya yang dapat tumbuh dimana saja, tidakseperti tanaman-tanaman yang membutuhkan ketinggian tertentu sebagai syarat tumbuhnya.Tanaman singkong cukup banyak dibudidayakan di Kabupaten Banyuwangi, tepatnya diKecamatan Glenmore potensinya seluas 200Ha, tersebar di 4 Desa diantaranya DesaMargomulyo, Desa Bumiharjo, Desa Karangharjo, dan di Desa Tegalharjo. Kelompok Tani Martha Arum di Dusun Krajan Desa Tegalharjo Kecamatan Glenmoremulai serius dalam membudidayakan singkong. Alasan petani setempat memilih menanamsingkong di lahan sawah dan LMDH diantaranya adalah menghindari OPT tikus yang beberapawaktu lalu sempat meresahkan petani, selain itu biaya perawatan singkong tidak terlalu tinggidan cukup mudah, pemasarannya tidak sulit, dan juga sebagai cadangan makanan untukpengganti nasi di skala rumah tangga petani. Iin Santoso, petani di Kelompok Tani Martha ArumDesa Tegalharjo menanam singkong dilahan sawahnya yang bekas ditanami cabai. Pada lahanseluas 2000m 2 ditanam 2500 batang pohon singkong Varietas local, yaitu varietas Bogor. Singkong varietas Bogor yang ditanam mulai bulan Maret 2019 itu setelah dilakukanubinan oleh Petugas Teknis Pertanian Kecamatan Glenmore, diperoleh hasil ubinan 80 Kg atausetara dengan 69 Ton/Ha, dengan jarak tanam 80x160 m atau populasi per Ha dapat mencapai810 pohon/Ha. Bibit yang dibudidayakan merupakan varietas lokal yang semula didatangkandari Bogor, Jawa Barat. Varietas ini menarik perhatian petani untuk membudidayakan karenatanaman ini mempunyai umur rata-rata 7 hingga 12 bulan, mempunyai umbi atau akar pohonberdiameter rata-rata 5-10 cm lebih dan panjang 50-80 cm. Daging umbinya berwarna kekuning-kuningan. Singkong yang dipanen oleh petani dijual di pedagang pengepul yang nantinya akandipasarkan dilingkup Kabupaten Banyuwangi dan Kabupaten Lumajang. Harga jual ditingkatpetani antara Rp 900/kg sampai Rp. 1.100/kg. Harga tersebut merupakan harga bersih sehinggapetani tidak perlu lagi mengeluarkan ongkos panen dan biaya pengangkutan. Untuk singkongtanpa sambungan dapat menghasilkan 5-10Kg/batang pohon sedangkan untuk singkongsambungan bisa mencapai 25-60kg/Ha, dengan umur panen 11-12 bulan.Petani sendiri menggunakan pupuk urea 3-4 Ku/Ha , NPK 2Ku/Ha. by: BPP Kalibaru editor : Wulan Ayu Andarweni, SP & Resqi Eko Wahyu, S.ST (Petugas Pendamping Penyuluhan Pertanian)