Pendahuluan Membahas permasalahan cabai terasa tidak ada habisnya, yang mungkin memerlukan waktu lebih dari sehari. Cabai sebagai salah satu komoditas sayuran yang digemari masyarakat Indonesia yang mempunyai harga fluktuatif dan sulit ditebak. Pada suatu saat dapat dijumpai harga yang sangat rendah dan sekali waktu harga bisa sangat tinggi. Bahkan harga cabai bisa disebut termasuk haga “jam-jaman” yang berarti harganya setiap sat dpat berubah, tergantung supali terakhir. Oleh karena itu masyarakat petani tidak pernah kapok untuk menanam cabai. Supaya sukses bertanam cabai tentunya kita dihadapkan dengan berbagai permasalahan (risiko) yang sangat komplek di lapangan. Permasalahan ini tentunya yang harus disikapi satu persatu mulai dari hulu sampai hilir budidaya cabai, supaya tuntas dalam menyelasaikan permaslahan tersebut. Hal ini karena pemasalahan salah satu bagian teknologi, itu berkaitan dengan teknologi lainnya. Beberapa permasalahan yang saling keterkaitan dan harus dipahami petani cabai adalah : A. Varietas Sebelum petani akan mengusahakan tanaman cabai, maka harus menentukan jenis cabai apa yang kira-kira bisa menguntungkan dan banyak peminatnya. Ada beberapa jenis cabai yang banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia, seperti cabai keriting, cabai rawit dan cabai besar. Varietas cabai keriting hibrida seperti Boxer, Kastilo, TM 999, Lado, New Taro dll, varietas cabai keriting local seperti, cabai local lampung tengah, cabai lokal karo cabai lokal asal kudus, sedangkan untuk cabai besar seperti varietas hot beauty, pilar, gada MK. Untuk varietas cabai rawit seperti Nirmala, Santika, Sonar, cakra putih dan dewata. B. Persyaratan Tumbuh Secara umum tanaman cabai dapat tumbuh di dataran rendah, menengah sampai tinggi sekitar 100 – 1.600 m dpl. Untuk itu harus disesuaikan dengan varietas yang akan ditanam supaya pertumbuhannya baik. ketinggiian tempat juga akan mempengaruhi ketersediaan air,baik di musim kemarau atau musim hujan. Hal ini tentu harus diantisipasi supaya saat penanaman tidak terjadi kekeringan ataupun kebanjiran. Pemeilihan varietas yang tepat sesuai tempatnya akan menghasilkan produksi yang tinggi. Karena varietas yang cocok di dataran tinggi, bila ditanam di dtaranan rendah, produksinya akan menurun, demikian sebaliknya. Selain ketersedian air, musim tanam juga akan mempengaruhi terhadap perkembangan hama dan penyakit. Penaman pada musim hujan, petani akan lebih banyak menghadapi permasalahan dengan penyakit cabai yang disebabkan oleh jamur, sedangkan pada musism kemarau permasalahan adalah perkembangan hama. C. Benih dan Pembibitan Benih merupakan faktor utama pendukung produktivitas, karena benih unggul bersertifikat dijamin kulaitasnya dan sudah melalui pengujian. Penggunaan benih lokal yang dianggap unggul juga bisa digunakan sesuai dengan daerahnya. Setelah benih yang digunakan merupakan varietas unggul, maka perlakuan pada pembibitan juga menjadi kunci keberhasilan penanaman cabai. Bibit yang sehat, tidak membawa sumber hama dan penyakit akan tumbuh sehat dan kuat dilapangan. Pembibitan yang sehat dimulai dari media tanam harus subur dan steril dari jamur, penembatan bibit dilakukan didalam sungkup plastic transparan, supaya terhindar dari serangan hama pembawa penyakit. D. Pengolahan Lahan dan Penanaman Pengolahan lahan dilakukan sebaik mungkin, yaitu tanah dibajak dan garu sampai sempurna, dan penambahan kapur apabila kondisi tanah masam. Pemupukan dasar wajib berikan sesuai tingkat kesuburan tanahnya, hal ini supaya tanaman yang dipindah ke lapangan pertumbuhannya tidak terhambat. Pemindahan bibit ke lapangan dilakukan saat umur 20 – 30 hari atau daun 4-6 lembar, karena kalau bibit terlalu muda akan rawan kematian, dan bila terlalu tua akan lambat berdaptasi dan pertumbuhan vegetative terganggu. Jarak tanam juga harus disesuaikan dengan tempat dan kesuburan. Diusahakan jarak tanam jangan terlalu rapat, supaya meminimalkan serangan penyakit. E. Pemeliharaan Pemeliharan menjadi kunci keberhasilan dalam budidaya cabai, terutama pengendalian hama dan penyakit. Di sini petani harus benar-benar mengontrol tanaman secara cermat. Selama ini petani lebih banyak mempertanyakan cara pengendalian hama dan penyakit, jika tanaman sudah terserang, tetapi tidak melihat rentetan tahapan budidaya yang benar. Penyakit yang menjadi permaslahan utama petani cabai adalah kerting daun oleh virus dan busuk buah oleh jamur. Perkembangan penyakit ini bisa disebabkan karena dari tidak benarnya penerapan tahapan budidaya yang bener tadi, seperti penggunaan varietas yang tidak jelas,waktu tanam yang tidak tepat, jarak tanam serta pemupukan yang tidak berimbang. Pemeliharaan utama yaitu melakukan pemupukan susulan dan pengendalian hama dan penyakit. Besaran pemupukan susulan diberikan sesuai dengan fase pertumbuhannya, karena kalau terlalu berlebihan akan menyebabkan tanaman rentan oleh serangan hama dan penyakit. Penyemprotan dilakukan sejak dari awal mulai tanam dengan insektisida dan fungisida yang tepat, bila difokuskan ke tanaman organic, maka bisa digunakan pestisida nabati. Tetapi bila penanaman dilapangan yang rentan Organisme pengganggu Tanaman maka pengunaan pestisida kimia bisa digunakan sesuai dengan anjuran dan sasaranya. Penutup Dalam pelaksanaan Budidaya cabai banyak mengalami permasalahan dilapangan, untuk itu petani harus memahami satu persatu permasalahan tersebut. Dimana permasalahan tersebut bisa muncul karena tidak menjalankan salah satu tahapan teknolgi yang harus dikerjakan yang saling berkaitan. Oleh karena itu diharapkan petani mengetahui langkah-langkah yang harus dikerjakan sebelum memilih budidaya cabai. Penulis : Sugito, SP Referensi : Disarikan dari berbagai sumber