Loading...

MENGENAL AGENSIA HAYATI

MENGENAL AGENSIA HAYATI
PENDAHULUAN Penggunaan pestisida untuk mengendalikan organisme pengganggu tanaman (OPT) pada tanaman hortikultura, terutama sayuran sudah sangat memprihatinkan. Padahal penggunaan pestisida yang tidak baik dan benar dapat menimbulkan banyak dampak negatif. Petani sebagai pelaku utama kegiatan pertanian memang sering menggunakan pesti¬sida sintetis secara berlebihan, terutama mengendalikan hama dan penyakit yang sulit dikendalikan. Misalnya penyakit karena virus dan patogen tular tanah (soil borne pathogens). Bahkan petani kerap menjadi¬kan pestisida sintetis sebagai andalan pengendalian hama dan penyakit. Misalnya, petani bawang merah di Brebes dan Tegal yang sepanjang tahun cenderung menggunakan pes¬tisida dalam melakukan pengendalian hama dan penyakit yang mereka hadapi. Ketergantungan kita terhadap bahan-bahan kimia (pupuk kimia) apalagi bahan yang bersifat sebagai racun (insektisida, fungisida, herbisida, dsb) harus segera kita kurangi secara perlahan. Kita harus menggali bahan-bahan disekitar kita yang bisa kita manfaatkan untuk mengganti bahan-bahan kimia tersebut. Pada penggunaan bahan-bahan kimia dan pestisida yang berlebihan, akan berdampak negatif, seperti : resistensi hama, matinya musuh alami, pencemaran terhadap manusia, lingkungan dan tanaman, serta tertinggalnya residu pestisida pada produk pertanian. Banyak mikroorganisme yang dapat kita manfaatkan untuk proses kelestarian lingkungan kita. Solusi paling tepat yang mesti kita lakukan saat ini adalah pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) secara hayati. Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman secara hayati memanfaatkan peranan musuh alami (agensia hayati) untuk mengendalikan organisme-organisme pengganggu tanaman. Pengembangan biopestisida atau pestisida nabati yang banyak dilakukan petani, umumnya menggunakan bahan tanaman yang mudah didapat di sekitar lokasi usahatani. Sebut saja, ekstrak daun selasih untuk mengendalikan lalat buah, pemanfaatan daun nimba, biji sirsak untuk pengendalian ulat daun dan minyak sereh untuk pengendalian kutu putih. Ditjen Hortikultura menyebutkan, seti¬dak¬nya ada empat kelompok bio¬pestisida, yaitu 1) Kelompok tumbuhan insektisida naba¬ti, adalah kelompok tumbuhan yang menghasilkan pestisida pengen¬dali hama insekta. Contohnya adalah, piretrium, aglaia, baba¬dotan, bengkuang, jaringau, sirsak, saga, srikaya dan sereh; 2) Kelompok tumbuhan antraktan atau pemikat, adalah tumbuhan yang menghasilkan suatu bahan kimia yang menye¬rupai sex pheromon pada serangga betina. Bahan kimia tersebut akan menarik serangga jantan, khususnya hama lalat buah dari jenis Bactrocera dorsalis. Contoh tumbuhannya adalah daun wangi dan selasih, 3) Kelompok tumbuh¬an rodentisida nabati, ada¬lah kelompok tumbuhan yang menghasilkan pestisida pengendali hama rodentia. Tumbuh-tumbuhan ini terbagi menjadi dua jenis, yaitu sebagai penekan kelahiran (efek aborsi atau kontrasepsi) dan penekan populasi, yaitu me¬ra¬¬cuninya. Dua jenis tumbuhan yang sering digunakan sebagai rodentisida nabati adalah jenis gadung KB dan gadung racun; 4) Kelompok tumbuhan moluskisida, adalah kelompok tum¬¬buh¬an yang menghasilkan pes¬tisida pengendali hama moluska. Beberapa tanaman menimbulkan pengaruh moluskisida, diantara¬nya: daun sembung, akar tuba, patah tulang dan tefrosia (kacang babi). ARTI DAN FUNGSI AGENSIA HAYATI Agensia hayati dapat diartikan sebagai agen pengendali OPT yang berbasis mahluk hidup. Agensia hayati dapat digolongkan menjadi golongan mikroorganisme dan agensia hayati golongan predator. Agensia hayati golongan mikroorganisme diantaranya adalah golongan jamur, bakteri, parasitoid dan parasit. Predator Adalah binatang yang memburu dan memakan atau menghisap cairan tubuh mangsanya. Contoh : Lycosa pseudoannulata (laba-laba). Parasitoid Adalah serangga yang hidup sebagai parasit pada atau di dalam serangga lainnya (serangga inang) hanya selama masa pra dewasa (masa larva). Imago hidup bebas bukan sebagai parasit dan hidup dari memakan nektar, embun madu, air dan lain-lain. Contoh : Diadegma semiclausum (parasitoid terhadap ulat daun kubis). Ditulis Oleh : Feriadi, S.P. (Penyuluh BPTP Kep. Bangka Belitung) Sumber Bacaan : http://makalah4all.wap.sh/Data/Kumpulan+makalah+pertanian pengendalian-hayati-pada-tanaman-kentang-solanum-tuberosum Sumber Foto : Dokumentasi BPTP Kep. Bangka Belitung