MENGENAL HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN PADI Dalam kegiatan pemeliharaan tanaman padi, petani ditekankan untuk memelihara tanamannya secara intensif, karena termasuk salah satu kunci keberhasilan dalam suatu kegiatan usahatani. Pengamatan dan pengendalian hama dan penyakit merupakan hal yang sangat penting untuk diperhatikan. Hama dan penyakit yang menyerang tanaman padi yaitu: 1. Hama putih palsu (leaffolder)Cnaphalocrocis medinalis (Guenée)Lepidoptera: Pyralidae Serangan terjadi mulai dipersemaian sampai di pertanaman, dengan cirri-ciri kerusakan:- kerusakan terjadi sampai umur < 6 minggu.- Larva memakan seluruh jariangan sampai tinggal kulit arinya (epidermis).- Akibat dari serangannya daun berwarna putih kering dan pucuk daun terlihatbekas potonganHama putih palsu sebenarnya jarang menjadi masalah utama di pertanaman padi. Serangannya menjadi masalah besar jika kerusakan pada daun bendera sangat tinggi (>50%) pada fase anakan maksimum dan fase pematangan. Kerusakan akibat serangan larva hama putih palsu terlihat dengan adanya warna putih pada daun dipertanaman Larva makan jaringan hijau daun dari dalam lipatan daun meninggalkan permukaan bawah daun yang berwarna putih. Siklus hidup hama ini 30-60 hari.Tanda pertama adanya infestasi adalah kehadiran ngengat di sawah. Ngengat berwarna kuning coklat, pada bagian sayap depan ada tanda pita hitam sebanyak 3 buah yang garisnya lengkap maupun terputus. Pada saat beristirahat, ngengat membentuk segitiga.Cara pengendalian- Pengeringan persemaian dan persawahan yang terserang selama 5-7 hari (jika memungkinkan).- Mengumpulkan dan memusnahkan larva diri pupa.- Menggunakan insektisida efektif- Jangan menyemprot insektisida sebelum tanaman berumur 30 hari setelah tanam pindah atau 40 hari sesudah sebar benih. Tanaman padi yang terserang pada fase ini dapat pulih apabila air dan pupuk dikelola dengan baik.- Gunakan insektisida (bila diperlukan) yang berbahan aktif fipronil atau karbofuran. 2. Walang sangit (rice bug)Leptocorisa oratorius (Fabricius)Hemiptera: Alydidae Walang sangit merupakan hama yang umum merusak bulir padi pada fase pemasakan.Serangga apabila diganggu akan mempertahankan diri dengan mengeluarkan bau. Selain sebagai mekanisme pertahanan diri, bau yang dikeluarkan juga digunakan untuk menarik walang sangit lain dari spesies yang sama. Fase pertumbuhan tanaman padi yangrentan terhadap serangan walang sangit adalah dari keluarnya malai sampai matang susu.Kerusakan yang ditimbulkannya menyebabkan beras berubah warna dan mengapur, serta hampa. Ambang ekonomi walang sangit adalah lebih dari 1 ekor walang sangit per dua rumpun pada masa keluar malai sampai fase pembungaan. Mekanisme merusaknya yaitu menghisap butiran gabah yang sedang mengisi.Ciri-ciri kerusakan atau serangan :- Walang sangit menyerang tanaman padi pada fase masak susu dengan menghisap cairan biji padi.- Bekas tusukan berupa bercak warna putih dilingkari warna coklat muda.- Bulir padi rusak dan hampa.Cara pengendalian:- Penanaman serentak agar fase matang/masak susu bisa serentak.- sanitasi tanaman inang.- Pengumpulan seranga dengan menggunakan alat perangkap.- Aplikasi insektiseda bila kepadatan popolasi wang sangit > 10 ekor/ 20 rumpun pada saat bulir padi belum keras.• Kendalikan gulma di sawah dan di sekitar pertanaman.• Ratakan sawah dan pupuk secara merata agar pertumbuhan tanaman seragam.• Tangkap walang sangit dengan menggunakanjaring sebelum stadia pembungaan.• Umpan walang sangit dengan menggunakan ikanyang sudah busuk, daging yang sudah rusak, atau dengan kotoran ayam • Aplikasi insektisida dilakukan apabila serangan sudah mencapai ambang ekonomi.• Aplikasi insektisida sebaiknya dilakukan pada pagipagi sekali atau sore hari ketika walang sangit berada di kanopi.Penggunaan insektisida (bila diperlukan) antara lain yang berbahan aktif:- BPMC,- fipronil,- metolkarb,- MIPC, atau- propoksur. 3. Kepinding tanah (black bug)Scotinophara coarctata (Fabricus)Hemiptera: PentatomidaeKepinding tanah (Gambar 11) umumnya hanya menimbulkan masalah di beberapa lokasi tertentudan menyerang padi dari fase pembibitan sampai tanaman dewasa.Gejala kerusakan adalah di daerah sekitar lubang bekas hisapan berubah warna menjadi coklat menyerupai gejala penyakit blas. Daun menjadi ke ring dan menggulung secara membujur. Gejala seperti sundep dan beluk merupakan gejala kerusakan yang umum yang menyebabkan gabah setengah berisi atau hampa. Ambang ekonomi adalah 5 ekor nimfa atau kepinding dewasa per rumpun. Bila terdapat 10 ekor kepinding dewasa per rumpun dapat mengakibatkan kehilangan hasil sampai 35%.Siklus hidupnya adalah 28-35 hari. Mekanisme kerusakan ada lah menghisap cairan tanaman.Cara pengendalian• Kepinding tanah dewasa sangat tertarik kepada lampu perangkap; karena itu kepinding tanahyang terperangkap perlu dibakar dan dibunuh. 4. Orong-orong (mole cricket)Gryllotalpa orientalis BurmeisterOrthoptera: GryllotalpidaeOrong-orong jarang menjadi masalah di sawah, tapi sering ditemukan di lahan pasang surut danbiasanya hanya terdapat di sawah yang kering yang tidak digenangi. Penggenangan tanaman menyebabkan orong-orong pindah ke pematang. Hama ini memiliki tungkai depan yang besar. Siklus hidupnya 6 bulan. Stadia tanaman yang rentan terhadap serangan hama ini adalah fase pembibitan sampai anakan. Benih yang disebar di pembibitan juga dapat dimakannya. Hama ini memotong tanaman pada pangkal batang dan orang sering keliru dengan gejala kerusakan yang disebabkan oleh penggerek batang (sundep). Orong-orong merusak akar muda dan bagian pangkal tanaman yang berada di bawah tanah . Pertanaman padi muda yang diserangnya mati sehingga terlihat adanya spotspot kosong di sawah.Cara pengendalian• Orong-orong biasanya ada di sawah yang tidak digenangi atau di sawah yang tanahnya tidak rata; oleh karena itu perataan tanah penting agar air tergenang merata.• Penggenangan sawah 3-4 hari dapat membantu membunuh telur orong-orong di tanah.• Penggunaan umpan (sekam dicampur insektisida)• Penggunaan insektisida (bila diperlukan) yang berbahan aktif karbofuran atau fipronil. 5. Penyakit Blas (blast)Pyricularia grisea- Disebabkan oleh cendawan Pyricularia Oryza, penularannya terbawa angin pada pagi hari pukul 02.00-06.00 pada saat masih berembun.- Padi bercak oval atau elips, kedua ujungnya meruncing mirip belah ketupat.- Gejala dapat juga muncul pada buku batang tangkai malai dan gabah’- Stadium kritis tanaman terjadi mulai umur 1 bulan (padi gogo), anakan maksimum, bunting dan awal berbunga.- Spora dapat bertahanbisa bertahan pada sisa jerami dan gabah ± 1 tahun.- Sumber inokulum primer dilapangan adalah jerami sakit dan tanaman inang.- Didaerah indemik serangan dapat menurunkan hasil sampai 50 %.Penyakit blas menginfeksi tanaman padi pada setiap fase pertumbuhan. Gejala khas pada daun yaitu bercak berbentuk belah ketupat - lebar di tengah dan meruncing di kedua ujungnya . Ukuran bercak kira-kira 1-1,5 x 0,3-0,5 cm berkembang menjadi berwarna abu-abu pada bagian tengahnya. Daun-daun varietas rentan bisa mati. Bercak penyakit blas sering sukar dibedakan dengan gejala bercak coklat Helminthosporium. Blas dapat menginfeksi tanaman padi pada semua stadia pertumbuhan. Infeksi bisa terjadi juga pada ruas batang dan leher malai yang disebut blas leher (neck blast). Leher malai yang terinfeksi berubah menjadi kehitam-hitaman dan patah, mirip gejala beluk oleh penggerek batang. Apabila blas leher terjadi, hanya sedikit malai yang berisi atau bahkan hampa. Pemupukan nitrogen dalam takaran tinggi dan cuaca yang lembab, terutama musim hujan, menguntungkan bagi terjadinya 6. Wereng coklat (brown planthopper = BPH) • Pengendalian secara kultural dan penanaman varietas yang tahan wereng coklat sangat dianjurkan. Beberapa varietas yang dilepas oleh IRRI yang mengandung gen ketahanan terhadap wereng coklat adalah IR26, IR36, IR56, IR64 dan Nilaparvata lugens (Stål) Hemiptera: Delphacidae Wereng sebelumnya termasuk hama sekunder dan menjadi hama penting akibat penyemprotan pestisida yang tidak tepat padaawal pertumbuhan tanaman, sehingga membunuh musuh alami. Pertanama n yang dipupuk nitrogen tinggi dengan jarak tanam rapat merupakan kondisi yang sangat disukai wereng. Stadia tanaman yang rentan terhadap serangan wereng coklat adalah dari pembibitan sampai fase matang susu. Gejala kerusakan yang ditimbulkannya adalah tanaman menguning dan cepat sekali mengering. Umumnya gejala terlihat mengumpul pada satu lokasi - melingkar disebut hopperburn. Ambang ekonomi hama ini adalah 15 ekor per rumpun. Siklus hidupnya 21-33 hari. Mekanisme kerusakan adalah menghisap cairan tanaman pada sistem vaskular (pembuluh tanaman).Cara pengendalian• Pengendalian secara kultural dan penanaman varietas yang tahan wereng coklat sangatdianjurkan. Beberapa varietas yang dilepas oleh IRRI yang mengandung gen ketahanan terhadap wereng coklat adalah IR26, IR36, IR56, IR64 dan IR 72.Varietas tahan wereng coklat yang sudah dilepas antara lain: Widas, Ketonggo, Ciherang, Cisantana, Tukad Petanu, Tukad Balian, Tukad Unda, Kalimas, Singkil, Bondoyudo, Sintanur, Cimelati, Konawe, Batang Gadis, Ciujung, Conde, dan Angke. Sewaktu-waktu varietas tahan dapat menjadi rentan akibat perubahan biotipe wereng coklat.• Pemberian pupuk K untuk mengurangi kerusakan.• Insektisida (bila diperlukan) antara lain yangberbahan aktif:- amitraz,- buprofezin,- beauveria bassiana 6.20 x 1010 cfu/ml,- BPMC,- fipronil,- imidakloprid,- karbofuran,- karbosulfan,- metolkarb,- MIPC,- propoksur, atau- tiametoksam. 7. Tikus (rat)Rattus argentiventer (Rob. & Kloss)Tikus merusak tanaman padi padasemua stadium pertumbuhan dari semai hingga panen, bahkan di gudang penyimpanan. Kerusakan parah terjadi jika tikus menyerang padi pada stadium generatif, karena tanaman sudah tidakmampu membentuk anakan baru. Tikus merusak tanaman padi mulai dari tengah petak, kemudian meluas ke arah pinggir, dan menyisakan 1-2 baris padi di pinggir petakan pada keadaan serangan berat. Tikus menyerang padi pada malam hari. Pada siang harinya, tikus bersembunyi di dalam lubang pada tanggul-tanggul irigasi, jalan sawah, pematang, dan daerah perkampungan dekat sawah. Pada periode bera, sebagian besar tikus bermigrasi ke daerah perkampungan dekat sawahdan akan kembali lagi ke sawah setelah pertanaman padi menjelang generatif. Kehadiran tikus pada daerah persawahan dapat dideteksi dengan memantau keberadaan jejak kaki (foot print), jalur jalan (run way), kotoran/feces, lubang aktif, dan gejala serangan. Tikus berkembang biak sangat cepat dan hanya terjadi pada periode padi generatif. Satu ekor tikus betina dapat menghasilkan 80 ekor tikus baru dalam satu musim tanam.Cara pengendalianPengendalian tikus dilakukan dengan pendekatan PHTT (Pengendalian Hama Tikus Terpadu) yaitu pendekatan pengendalian yang didasarkan pada pemahaman biologi dan ekologi tikus, dilakukan secara dini (dimulai sebelum tanam), intensif dan terusmenerus dengan memanfaatkan semua teknologi pengendalian yang sesuai dan tepat waktu. Pelaksanaan pengendalian dilakukan oleh petani secara bersama-sama (berkelompok) dan terkoordinasi dengan cakupan wilayah sasaran pengendalian dalam skala luas (hamparan). 8. Penggerek batang padi (stem borer)a. Penggerek batang padi kuning Scirpophaga incertulas (Walker)b. Penggerek batang padi putih Scirpophaga innotata (Walker) c. Penggerek batang padi bergaris Chilo suppressalis (Walker), Lepidoptera: Pyralidaed. Penggerek batang padi merah jambu Sesamia inferens (Walker), Lepidoptera: NoctuidaePenggerek batang padi merupakan hama yang sangat penting pada padi dan sering menimbulkankerusakan dan menurunkan hasil panen secara nyata. Terdapatnya penggerek di lapang dapat dilihat dari adanya ngengat di pertanaman dan larva di dalam batang. Mekanisme kerusakan disebabkan larva merusak sistem pembuluh tanaman di dalam batang.Stadia tanaman yang rentan terhadap serangan penggerek adalah dari pembibitan sampaipembentukan malai. Gejala kerusakan yang ditimbulkannya mengakibatkan anakan mati yang disebut sundep pada tanaman stadia vegetative dan beluk (malai hampa) pada tanaman stadia generatif. Siklus hidupnya 40-70 hari tergantung pada spesiesnya. Ambang ekonomi penggerek batang adalah 10% anakan terserang; 4 kelompok telur per rumpun (pada fase bunting). Perlu diketahui bahwa kerusakan pada stadia generatif maka tindakan pengendalian sudah terlambat atau tidak efektif lagi.Cara pengendalianAplikasi insektisida dilakukan bila keadaan serangan melebihi ambang ekonomi atau jikapopulasi ngengat meningkat pada saat tanaman fase generatif. Gunakan insektisida yang berbahan aktif:- karbofuran,- bensultap,- bisultap,- karbosulfan,- dimehipo,- amitraz, atau- fipronil.Ditulis Oleh : Suyandi, S.STPenyuluh Pertanian Muda Balai Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan ( BP3K) Kecamatan Tamban CaturDaftar Pustaka/Sumber:Masalah Lapang Hama Penyakit Hara Pada Padi.Kerjasama: Balitpa, BP2TP, BPTP Sumut, BPTP Jateng, BPTP DIY, BPTP NTB,BPTP Sulsel, BPTP Kalsel, BPTP Kaltim, IRRI.