Lada merupakan salah satu komoditas unggulan daerah provinsi Bangka Belitung yang memiliki rasa dan aroma yang khas. Lada asal Bangka Belitung merupakan lada putih terbaik dunia dengan merk dagang "Muntok White Pepper". Namun demikian beberapa tahun terakhir pengembangan lada putih di Kepulauan Bangka Belitung masih dihadapi dengan berbagai permasalahan, salah satunya adalah serangan hama dan penyakit yang menyebabkan kehilangan hasil yang tinggi. Salah satu penyakit yang sering menyerang tanaman lada petani adalah Busuk Pangkal Batang (BPB). Penyakit busuk pangkal batang (BPB) lada merupakan penyakit yang paling mematikan pada tanaman lada. Penyakit ini dapat menyebabkan kematian tanaman lada dalam waktu yang singkat. Penyebab penyakit ini adalah jamur Phytophthora capsici, yang dapat menyerang semua stadia umur tanaman lada, mulai dari pembibitan sampai lada berproduksi. Jamur ini dapat hidup dan berkembang dalam tanah, serta mudah tersebar melalui (1) aliran air hujan, (2) terbawa tanah yang menempel pada alat pertanian, kaki manusia atau hewan, dan (3) bahan tanaman yang telah terinfeksi. Gejala Penyakit dan Patogen Penyebabnya.Patogen penyebab penyakit ini sebenarnya dapat menyerang seluruh bagian tanaman lada, tetapi yang paling membahayakan adalah pada pangkal batang atau akar. Gejala yang khas dari penyakit ini adalah tanaman menjadi layu apabila patogen menyerang pangkal batang atau akar, warna daun tetap hijau (menggantung), kemudian berubah menjadi coklat hitam (tetap menggantung) dan akan gugur secara bertahap. Pangkal batang yang terserang menjadi warna hitam, membusuk dan pada keadaan lembab akan nampak lendir yang berwarna kebiruan. Serangan jamur pada daun menyebabkan gejala bercak daun pada bagian tengah atau tepi daun. Daun “daun yang sakit akan gugur dan menjadi sumber inokulum bagi bagian tanaman lain yang berada di dekatnya. Serangan pada bunga dan buah menyebabkan warna hitam, membusuk, gejala ini biasanya ditemukan pada bunga dan buah yang letaknya dekat permukaan tanah. Serangan p. capsici pada tanaman lada aktif dan banyak terjadi pada musim hujan, karena pada saat itu keadaan suhu rendah dan kelembaban yang tinggi, dan jika didukung oleh nutrisi yang cukup maka akan merangsang struktur istirahat (dormansi) jamur tersebut untuk berkecambah. Penyebaran patogen dapat terjadi melalui udara, tanah, alat-alat pertanian yang terkontaminasi jamur, terbawa oleh manusia, hewan, melalui air dan bahan tanaman itu sendiri. PengendalianPengendalian P. capsici pada lahan yang sudah lama ditanami lada, relatif sulit untuk dilakukan. Pengendalian dapat dilakukan melalui pendekatan secara terpadu yang meliputi teknik budidaya, pengendalian hayati dan kimia. Melalui teknik budidaya yaitu dengan menanam varietas lada yang toleran terhadap BPB, pemeliharaan yang efisien antara lain : pemupukan tepat dosis, tepat waktu dan tepat sesuai dengan anjuran. Penggunaan tajar (tanaman penegak hidup) juga sangat dianjurkan untuk mengurangi stress tanaman terutama selama musim kemarau dikarenakan sifat dari tanaman ini membutuhkan cahaya matahari berkisar 50-75%. Tajar yang dapat digunakan adalah dadap duri jarang/dadap cangkring atau glirisidia. Penggunaan tanaman penutup tanah seperti Arachis pintoi yang diikuti dengan penyiangan terbatas juga akan membantu mengurangi/membatasi penyebaran propagul P. capsici, selain itu juga keberadaan bunganya akan menjadi sumber nutrisi bagi musuh alami hama penggerek batang lada. Pembuatan saluran drainase atau parit keliling juga dapat mencegah penyebaran P. capsici dari lahan yang sudah tercemar. Pembuatan pagar keliling kebun (tanaman rumput gajah atau hijauan pakan ternak) juga diperlukan untuk menghindari lalu lalang hewan ternak atau manusia yang mungkin membawa propagul P. capsici. Untuk tanaman yang telah terserang P. capsici dapat dilakukan eradikasi/pemusnahan dengan cara tanaman sakit dibakar ditempat atau bisa juga dengan penyiraman bubur bordo. Pengendalian secara kimia dapat dilakukan dengan penggunaan fungisida yang bersifat sistemik, aplikasi dilakukan apabila ada tanaman lada yang sakit atau dicurigai sudah terkena busuk pangkal batang. Selain itu juga bisa dilakukan penyiraman bubur bordo dimana aplikasinya harus diikuti dengan pemberian agen hayati 2 minggu kemudian. Bahan dan cara membuat bubur bordo yaitu 100 gram terusi (CuSO4) dilarutkan dalam 5 liter air dan 100 gram kapur tohor/tembok dilarutkan dalam 5 liter air, larutan terusi dituang kedalam larutan kapur sambil diaduk. Setelah dicampur segera larutan bordo disiramkan pada tanah bekas tanaman terserang BPB. Alat-alat dan sepatu bekas dipakai pada tanaman yang sakit segera di rendam dan dicuci bersih. Pengendalian secara hayati dilakukan dengan pemberian formulasi hayati yang merupakan campuran dari bahan organik (pupuk hijauan, pupuk kandang/sapi) diberikan pada awal musim hujan, diulangi 2-3 bulan setelah pemberian awal dengan tujuan mengurangi populasi patogen dalam tanah. Pada Awal musim hujan, lakukan aplikasi formula yang mengandung trichoderma spp yang diberikan pada pangkal tanaman lada. Untuk efektifitasnya pengendalian terpadu perhatian juga harus diberikan terhadap penataan kondisi lingkungan sekitar agar tidak terlalu lembab. Pemangkasan tajar dan pemeliharaan saluran drainase sangat berperan dalam pengendalian BPB. Interaksi tanaman-lingkungan-patogen sangat menentukan perkembangan penyakit busuk pangkal batang ini. Ditulis Oleh : Ria Maya, S.P. (BPTP Kep. Bangka Belitung)Sumber Bacaan : - Monograf Tanaman Lada, Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat. - Pengendalian Penyakit dan Hama Tanaman Lada di Indonesia, International Pepper Community.Sumber Gambar : Koleksi BPTP Kep. Bangka Belitung