MENGENAL PENYAKIT FISIOLOGIS DAN PENYAKIT PATOGENIKPADA TANAMAN KEDELAI Rata-rata produksi kedelai di Indonesia 1,5 t/ha (BPS, 2015), jauh di bawah potensi hasil beberapa varietas unggul kedelai yang dapat mencapai 2,5 sd 3,5 t/ha (Balitkabi, 2017). Salah satu penyebab rendahnya produktivitas tersebut adalah adanya gangguan penyakit tanaman. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk membantu para pelaku utama produsen kedelai agar mau dan mampu berproduksi secara maksimal adalah memberikan informasi tentang penyakit pada tanaman kedelai.Pada umumnya para petani kurang memahami penyakit tanaman karena: (1) patogen penyebab penyakit bersifat mikroskopis, tidak kasat mata, (2) gejala penyakit tanaman kadang-kadang serupa dengan gejala kahat atau keracunan unsur hara, (3) keterbatasan pengetahuan petugas dan petani tentang patogen dan penyakit tanaman. Akibatnya, penggunaan fungisida dan bakterisida untuk pengendalian penyakit tanaman kedelai jarang atau bahkan tidak pernah dilakukan. Berbeda halnya dengan penggunaan insektisida untuk menekan serangan hama tanaman kedelai yang sudah umum dilakukan, bahkan sudah terjadwal tanpa memantau populasi hamanya (Marwoto dan Suharsono, 1988). Tanaman kedelai disebut sehat atau normal apabila semua fungsi fisiologisnya berjalan sesuai dengan potensi genetisnya. Apabila tanaman terganggu oleh patogen atau lingkungan tertentu sehingga satu atau lebih fungsi fisiologisnya terganggu maka tanaman tersebut sakit. Yang dimaksud fungsi fisiologis tanaman disini antara lain: pembelahan sel, diferensiasi sel, absorbsi air atau mineral dari dalam tanah dan translokasinya ke seluruh bagian tanaman, fotosintesis dan translokasinya ke seluruh produk fotosintetis, kegiatan metabloisme, dan reproduksi. Penyakit tanaman kedelai yang disebabkan oleh gangguan abiotik seperti halnya cekaman kondisi fisik tertentu sering disebut sebagai penyakit fisiologis. Penyakit fisiologis pada tanaman kedelai umumnya disebabkan oleh kahat unsur hara, keracunan, cekaman kekeringan, ataupun suhu yang terlalu panas atau dingin. Contoh penyakit fisiologis yang menyerang tanaman kedelai adalah kahat unsur Kalium pada tanaman kedelai di tanah vertisol yang ditandai dengan pertumbuhan tidak optimal dan tepi daun menguning. Contoh lain pertumbuhan tanaman kedelai yang kerdil, terhambat akibat keracunan unsur hara Al pada tanah Ultisol masam karena tingginya kandungan ion Al yang dapat dipertukarkan (Al-dd). Penyakit tanaman kedelai yang disebabkan oleh gangguan biotik berupa patogen, disebut dengan penyakit patogenik. Beberapa penyakit patogen pada tanaman kedelai antara lain: Penyakit Karat Daun yang disebabkan oleh jamur Phakopspora pachyrhizi Sys. Penyakit Pustul Bakteri yang disebabkan oleh bakteri Xanthomonas campestris pv glycines. Penyakit Hawar Bakteri yang disebabkan oleh bakteri Pseduomonas syrinage pv. Glycines. Penyakit Hawar Batang dan Polong yang disebabkan oleh jamur Rhizoctoniz solani Kuhn. Penyakit Antraknose yang disebabkan oleh jamur Collectrotichum dematium var truncatum. Penyakit Rebah Semai yang disebabkan oleh jamur Sclerotium ralfsii Sacc. Penyakit Downy Mildew yang disebabkan oleh jamur Peronospora manshurica Syd. Penyakit Hawar, Bercak Daun dan Bercak Biji Ungu yang disebabkan oleh jamur Cercosspora kikuchii T. Matsu & Tomoyasu. Perkembangan tanaman dan patogen penyebab penyakit tanaman sangat dipengaruhi oleh lingkungan tumbuh mikro maupun makro. Posisi geografis Indonesia yang terletak antara 11 Lintang Selatan dan 8 Lintang Utara, merupakan daerah tropika basah yang secara umum mempunyai ciri-ciri berbeda dengan daerah beriklim sedang, antara lain: (1) tidak ada perbedaan yang tajam antara rata-rata suhu setiap bulan maupun antara siang dan malam. Perbedaan suhu siang dan malam umumnya lebih besar dibanding suhu bulan panas dan dingin. Perbedaan suhu lebih ditentukan oleh tinggi tempat (altitude) daripada oleh derajad lintang (latitude). Tidak ada musim dingin yang panjang dan tegas yang dapat menghilangkan sumber infeksi dan menekan laju infeksi; (2) curah hujan tahunan umumnya tinggi, antara 1000 mm hingga > 10.000 mm/tahun, mengakibatkan kelembaban relatif udara menjadi tinggi yang mendorong perkembangan penyakit; (c) perbedaan suhu yang kecil serta perbedaan kecil kecepatan rotasi di sekitar katulistiwa, menimbulkan kecilnya perbedaan tekanan udara sehingga membatasi hembusan angin yang kencang (Semangun, 1991). Penyakit merupakan interaksi antara inang tanaman, patogen, dan kondisi lingkungan yang mendukung. Tanaman kedelai mudah sakit apabila rentan terserang patogen dan kondisi lingkungannya medukung perkembangan patogen tersebut. Tanaman kedelai di Indonesia umumnya dibudidayakan di lingkungan yang sangat beragam. Berdasarkan lahan dan musim tanamnya, sebagaian besar (60%) tanaman kedelai diusahakan di lahan sawah pada awal musim kemarau (April-Juni) atau akhir musim kemarau (Juli-Oktober) dengan pola tanam padi-kedelai-kedelai atau padi-kedelai-palawija lainnya. Sebagian kedelai (40%) ditanam di lahan sawah tadah hujan atau tegalan pada awal musim hujan (Maret-April) dengan pola tanam padi/jagung-kedelai-kedelai atau padi/jagung-kedelai-palawija lainnya, tergantung pada pola tanam dan ketersediaan air irigasi dan curah hujan setempat. Di Sumatera dan Sulawesi, kedelai juga diusahakan di lahan bukaan baru pada awal atau akhir musim hujan dan ditanam dalam pola tumpangsari dengan tanaman padi, jagung, atau ubikayu. Sebagai tanaman kedua (secondary crops), kedelai jarang dibudidayakan secara serempak dalam hamparan yang luas dengan teknologi budidaya intensif. Pemilikan lahan yang sempit, terpencar serta keterbatasan modal seringkali mendorong petani untuk bertanam kedelai dengan teknologi budidaya sederhana. Penerapan teknologi budidaya sederhana seringkali memicu gangguan penyakit tanaman baik fisiologis maupun patogenik pada tanaman kedelai.Penulis: Ir. Jamhari Hadipurwanta, MP (Penyuluh Pertanian Supervisor, BPTP Lampung)Sumber: 1) Pengendalian Penyakit Terpadu Pada Tanaman Kedelai. Balitkabi, 2013. 2) Sumber bacaan lainnya.Sumber Gambar: Kekurangan Kalium (K). Cyber-Ext.