Loading...

MENGENAL TANAMAN SORGUM

MENGENAL TANAMAN SORGUM
Sorgum (Sorgum bicolor L. Moench) merupakan komoditas serealia yang belum banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia, padahal kandungan zat gizi sorgum tidak kalah dengan beras. Bahkan sorgum mengandung protein 8 “ 12 % setara dengan terigu atau lebih tinggi dibandingkan dengan beras 6- 10 %, dan kandungan lemaknya 2 “ 6 % lebih tinggi dibandingkan dengan beras 0,5 “ 1,5 %. Namun kelemahan komoditas ini terutama sorgum yang mempunyai testa atau kulit biji berwarna gelap (coklat), mengandung senyawa antigizi atau tanin. Selain sebagai antigizi, keberadaan tanin menyebabkan rasa agak pahit (sepet). Hal ini diduga merupakan salah satu penyebab produk sorgum yang bijinya berwarna gelap (coklat kemerahan) sehingga kurang disukai oleh masyarakat. Produktivitas sorgum cukup tinggi (2,5 “ 6,0 ton/ha) dan dapat dibudidayakan di segala jenis tanah termasuk pada lahan margiinal. Namun di tingkat petani produktivitas sorgum masih jauh dibawah potensi hasil penelitian, yaitu antara 0,37 “ 1,80 ton/ha (Sirappa,2003). Produksi sorgum secara nasional masih belum terdokumentasi oleh BPS, karena sorgum belum menjadi komoditas unggulan. Menurut Sirrapa (2003) menyebutkan bahwa daerah penghasil sorgum utama di Indonesia dengan pola pengusahaan tradisional adalah awa Tengah (Purwodadi, Pati, Demak, Wonogirri) dengan produksi 17.350 ton (tahun 1973-1983), daerah Istimewa Yogyakarta (Gunung Kidul, Kulon Progo) dengan produksi 1.813 ton (tahun 1974-1980), Jawa Timur (Lamongan, Bojonegoro, Tuban, Probolinggo) dengan produksi 5.963 ton (tahun 1984 “ 1988), dan Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat. Budidaya Jenis sorgum ditentukan berdasarkan warna bijinya. Kulit biji sorgum terdiri atas bagian, bagian luar (epicarp) merupakan lapisan lilin yang sangat tipis berfungsi melindungi bagian dalam terhadap kekeringan. Bagian ini mengandung zar warna (pigment) yang menentukan warna biji sorgum putih hingga matang tua. Biji sorgum berwarna tua banyak mengandung tanin sehingga tidak disukai oleh burung sehingga dapat mengurangi hasil di lapangan. Lapisan kedua (mesocarp) dan lapisan ketiga (pericarp) terdekat dengan endosperma mengandung sedikit karbohidrat tetapi tidak mengandung minyak. Dalam pembuatan tepung, seluruh kulit biji sorgum harus dihilangkan. Persyaratan Tumbuh Sorgum termasuk jenis Andropogonae dan family Poaceae merupakan tanaman musim panas meskipun beberapa varietasnya dapat beradaptasi dengan iklim setempat. Sorgum dapat hidup pada iklim setengah kering atau kurang subur, temperatur pertumbuhan antara 16 - 32° C. Komoditas ini dapat tumbuh dimana saja, bahkan pada daerah kering yang tanaman lain susah tumbuh dan biasanya dibudidayakan oleh petani kecil tanpa aplikasi pemupukan. Tanaman sorgum dapat tumbuh dengan baik di seluruh daerah tropis maupun sub tropis. Tanaman sorgum memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap iklim panas dan kering dengan curah hujan rata-rata hanya 400 mm/tahun. Tanaman ini dapat tumbuh pada tanah-tanah berat hingga tanah yang banyak mengandung pasir Penanganan Pasca Panen Panen dilakukan bila biji sudah masak optimal, di lapangan bisa dilakukan dengan mengambil beberapa biji sorgum, lalu digigit. Bila biji waktu digigit terasa keras dan terasa tepungnya, maka bii sorgum dianggap sudah cukup tua. Tanda lain saat panen lain yaitu saat panen daun sudah mengering dari bawah ke atas. Kadar air panen rata-rata 20 %, namun di daerah kering kadar air bisa mencapai 16 %. Untuk memudahkan perontokan, malai buah dipotong dengan tangkai malainya cukup panjang (20-30 cm) agar mudah memegangnya. Pada kebun sorgum yang tidak luas, petani biasanya langsung menjemur malai buah dengan tangkainya, bila sudah kering lalu diikat seperti padi lokal. Penyimpanan dilakukan di lumbung atau di dapur (pada para-para diatas tungku atau disisipkan di bilik dengan tujuan agar biji sorgum lebih awet tidak terserang hama. Ditulis: Edwin Herdiansyah, Tri Kusnanto dan Jamhari Hadipurwanta Sumber : Balitbangtan