Loading...

MENGENAL TANAMAN WIJEN

MENGENAL TANAMAN WIJEN
Dari berbagai versi pendapat dapat dipastikan bahwa wijen merupakan tanaman asli daerah tropis di kawasan Asia dan Afrika, pusat penyebaran tanaman wijen umumnya di negara-negara yang beriklim tropis. Negara produsen wijen antara lain adalah Thailand, Vietnam, RRC, dan Hongkong. Di Indonesia pada mulanya tanaman wijen terkonsentrasi di pulau Jawa. Penanaman wijen umumnya dijadikan tanaman tumpangsari dengan padi, palawija, dan tanaman lain di lahan kering pada musim penghujan. Penyebaran tanaman wijen meluas sampai provinsi Nusa Tenggara Barat terutama di pulau Sumbawa karena amat cocok dibudidayakan di wilayah yang beriklim kering. Di Sumbawa wijen dimanfaatkan sebagai tanaman tambahan iuntuk mengurangi resiko gagal panen karena hujan di pulau ini bersifat eratik, pendek dan sulit diramalkan (diprediksi). Pada mulanya wijen di Nusa Tenggara Barat ini diprimadonakan sebagai tanaman tumpangsari dengan palawija atau pagi gogo, kini tanaman wijen diarahkan ke system monokultur, terutama pada lahan-lahan di tepi hutan atau pulau terpencil, seperti di pulau Sangiyang. Nilai ekonomi wijen cukup tinggi dan prospeknya cerah sehingga dapat dirancang sebagai narasumber pendapatan daerah atau negara dalam rangka meningkatkan kesejahteraan tani. Pengembangan budidaya wijen masih terkonsentrasi di provinsi Jawa Tengah, Jawa Timur dan Nusa Tenggara Barat. Daerah potensi untuk penyebaran dan pengembangan wijen pada masa mendatang adalah Kawasan Timur Indonesia (KTI), terutama provinsi Sulawesi Selatan dan Nusa tenggara Timur (NTT) Taksononomi dan Morfologi Kedudukan tanaman wijen dalam sistematika (taksonomi) tumbuhan diklasifikasikan sebagai berikut. Kingdom : Plantae (tumbuh-tumbuhan) Divisi : Spermatophyta (tumbuhan berbiji) Subdivisi : Angiospermae (berbiji tertutup) Kelas : Pedaliales Famili : Pedaliaceae Genus : Sesanum Species : Sesanum indicum Linn Bentuk dan susunan luar (morfologi) tanaman wijen adalah sebagai berikut: 1. Batang (caulis) Batang tanaman wijen berdiri tegak, berketinggian antara 85 - 150 cm, berkayu dan berbentuk lekuk empat (quadrangular). Kadang-kadang pada varietas tertentu, batang wijen berbulu menutup seluruh permukaan kulit batang. 2. Daun (folium) Daun wijen mempunyai bentuk bermacam-macam. Daun bagian bawah, tengah, dan atas amat berlainan: ada yang berbentuk menjari atau tidak menjari ndengan tepi daun rata sampai bergerigi. Letak (susunan) daun berselang-seling, berukuran panjang 3,0 - 17,5 cm dan lebar 1,0 - 7,0 cm, berwarnu hijau muda sampai hinjau tua, serta bertangkai agak panjang berwarna keungu-unguan. 3. Bunga (flos) Bunga wijen keluar dari ketiak=-ketiakl daun, berjumlah 1-3 kuntum/ketiak, berwarna putih atau ungu. Bunga berukuran panjang 2,5 - 3,0 cm dengan diameter 0,5 - 1,0 cm, dan benangsarinya menempel di dalam mahkota bunga. Sosok mahkotan bunga berbentuk corong. 4. Buah (fructus) Buah wiojen berbentuk polong. Ukuran polong, panjang 2,5 - 3,0 cm dengan diameter 0,5 - 1,0 cm, dan terdapat 4 - 8 kotak/polong sebagai tempat biji 5. Biji (semen) Biji wiojen berukuran kecil, pipih, dengan bagian pangkal agak meruncing dan ujungnya tumpul. Ukuran bioji, panjang 3 - 4 mm dengan diameter 2,0 - 2,5 mm, berkulit tipis, dan mudah pecah. Warna biji wijen dibedakan dua macam, yaitu biji wijen putih dan hitam. Biji wijen fdapat digunakan sebagai bahan perbanyakan tanaman secara generatif Slamet Widodo Sumber : Budidaya Wijen, Kanisius Yogyakarta