Loading...

MENGENAL ULAT API: HAMA UTAMA TANAMAN KELAPA SAWIT

MENGENAL ULAT API: HAMA UTAMA TANAMAN KELAPA SAWIT
PENDAHULUAN Kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) merupakan tanaman perkebunan dengan nilai ekonomis yang cukup tinggi. Memiliki peran penting dalam menyediakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat dan sebagai sumber perolehan devisa negara sebagai komoditas ekspor non migas, keberadaan komoditas kelapa sawit harus dijaga keberlangsungan usahanya. Keberlangsungan usaha perkebunan kelapa sawit terkendala baik dari faktor teknis maupun non teknis. Salah satu faktor teknis yang dihadapi oleh petani adalah adanya serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) antara lain ulat api. Gangguan OPT tersebut dapat menimbulkan kerusakan berarti yang pada akhirnya menimbulkan kerugian hasil dan pendapatan petani. Serangan ulat api dapat mempengaruhi kualitas, produksi, dan produktivitas Kelapa Sawit. Pada tahap pembibitan, serangan ulat api akan berdampak jangka panjang dan akan mempengaruhi kualitas dan kuantitas produksi dimasa yang akan datang. Pada tanaman menghasilkan (TM), serangan ulat api berdampak pada penurunan produktifitas tanaman akibat terganggunya proses fotosintesis yang berdampak pada terganggunya proses pembentukan bunga dan buah. Prawirosukarto (2002) menyebutkan bahwa kerusakan daun yang ditimbulkan oleh Ulat Api terhadap Tanaman Menghasilkan (TM) berumur 8 tahun dapat menurunkan produksi hingga 30-40% setelah 2 tahun terjadinya serangan. Sedangkan pada Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) berumur 1 tahun, serangan Ulat Api dapat menurunkan produksi hingga 12-24% setelah 2 tahun terjadinya serangan. SIKLUS HIDUP Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) ini merupakan hama pada stadia larva dengan siklus hidup secara umum yaitu telur-larva-pupa/kepompong-serangga dewasa. Terdapat empat jenis ulat api yang biasa menyerang kelapa sawit yaitu: Setothosea asigna, Setora nitens, Darna trima, dan Parasa lepida. Penyebutan Ulat Api pada OPT ini disebabkan oleh struktur seperti duri-duri yang menyelubungi tubuhnya mengandung toksin yang dapat menimbulkan rasa gatal, sakit, dan sensasi seperti terbakar apabila tersentuh kulit. Setothosea asigna Setothosea asigna mempunyai siklus hidup selama 106-138 hari dengan ciri: Stadia telur. Telur berwarna kuning kehijauan, berbentuk oval, dan transparan. Telur diletakkan berderet 3-4 baris sejajar permukaan daun sebelah bawah, biasanya pada pelepah daun ke 6- Satu tumpukan telur berisi sekitar 44 butir. Telur menetas setelah 4-8 hari. Stadia larva. Ulat berwarna hijau kekuningan dengan bercak-bercak yang khas di bagian punggungnya. Pada bagian punggung juga dijumpai duri-duri, stadia larva ini berlangsung selama 49-50 hari untuk menjadi kepompong. Stadia pupa/kepompong. Kepompong terdapat pada permukaan tanah yang relatif gembur di sekitar piringan atau pangkal batang kelapa sawit. Kepompong diselubungi oleh kokon yang terbuat dari air liur ulat, berbentuk bulat telur dan berwarna coklat gelap. Stadia ini berlangsung selama ± 39,7 hari. Stadia dewasa. Serangga dewasa (ngengat) memiliki sayap depan berwarna coklat tua dengan garis transparan dan bintik-bintik gelap, sedangkan sayap belakang berwarna coklat muda. Setora nitens Setora nitens memiliki siklus hidup yang lebih pendek dari Setothosea asigna yaitu selama 42 hari dengan ciri: Stadia telur. Bentuk telur mirip dengan telur Setothosea asigna hanya peletakan telur tidak saling tindih/menumpuk. Telur menetas setelah 4-7 hari. Stadia larva. Ulat awalnya berwarna hijau kekuningan dengan satu garis membujur di tengah punggung yang berwarna biru keunguan kemudian warna berubah menjadi hijau dan umumnya berubah kemerahan menjelang kepompong. Stadia ini berlangsung selama 50 hari. Stadia pupa/kepompong. Stadia ini berlangsung 17-27 hari. Stadia dewasa. Sayap depan ngengat berwarna coklat dengan garis-garis yang berwarna lebih gelap dengan lebar rentangan sayap sekitar 35 mm. Darna trima Darna trima mempunyai siklus hidup sekitar 60 hari dengan ciri setiap stadia sebagai berikut: Stadia telur. Telur berbentuk bulat kecil berukuran sekitar 1,4 mm dan berwarna kuning kehijauan. Telur diletakkan terpisah/tidak berkelompok di bagian bawah helaian daun dan menetas dalam waktu 3-4 hari. Stadia larva. Ulat berwarna putih kekuningan saat menetas kemudian menjadi coklat muda dengan bercak-bercak jingga dan akhir perkembangannya, bagian punggung ulat berwarna coklat tua. Stadia ini berlangsung selama 26-33 hari. Stadia pupa/kepompong. Menjelang berkepompong, ulat membentuk kokon dari air liurnya dan berkepompong di dalam kokon tersebut. Kokon berbentuk oval dengan warna coklat tua dan berlangsung sekitar 10-14 hari. Stadia dewasa. Ngengat memiliki lebar rentangan sayap sekitar 18 mm. Warna sayap depan coklat gelap dengan satu bintik kuning dan empat garis hitam sedangkan sayap belakang berwarna abu-abu tua. Parasa lepida Parasa lepida mempunyai siklus hidup 60 – 76 hari dengan ciri setiap stadia sebagai berikut: Stadia telur. Stadia ini berlangsung 2-4 hari. Telur berbentuk bulat berwarna kuning pucat dengan diameter sekitar 0,4-0,6 mm. Stadia larva. Pada instar pertama, ulat berwarna kekuningan dengan warna kehijauan dan terdapat bulu-bulu runcing kecil. Stadia larva berlangsung 30 – 40 hari. Pupa sangat keras, berwarna hitam kecokelatan. Stadia pupa 28 – 32 hari. Ngengat dewasa (jantan dan betina) dari lepida berwarna hijau dan kecoklatan dengan mata majemuk hitam. Betina bertelur sekitar 10 – 50 butir telur di permukaan bawah daun dewasa. GEJALA SERANGAN Serangan hama ulat ini dengan cara menggerogoti bagian daun kelapa sawit, dimulai dari helaian daun bagian bawah hingga menjadi lidi, dalam kondisi yang sangat parah tanaman akan kehilangan daun hingga 50% – 90%. Ulat api menyukai daun tua, tetapi apabila daun-daun tua sudah habis ulat juga memakan daun-daun muda. Selanjutnya bisa mengakibatkan kematian apabila tidak segera dikendalikan dengan benar. PENGENDALIAN Salah satu upaya preventif untuk menahan laju perkembangan dan luas serangan OPT Ulat Api adalah dengan menggunakan metode peramalan/prediksi OPT. Metode tersebut dapat dimanfaatkan sebagai Early Warning System (EWS) dalam tindakan pencegahan dan penanggulangan Ulat Api. Ramalan luas serangan berat disusun berdasarkan laporan serangan Ulat Api yang dihimpun oleh Direktorat Perlindungan Perkebunan dari seluruh provinsi di Indonesia dalam kurun waktu 10 (sepuluh) tahun terakhir. Ketepatan hasil prediksi dengan kejadian luas serangan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya, yaitu upaya pencegahan dan pengendalian OPT yang dilakukan. Pengendalian populasi ulat api diperkebunan kelapa sawit dapat dilakukan dengan memadukan antara pengendalian secara mekanis, biologi dan kimia. Pada prinsipnya penggunaan pestisida untuk mengendalikan hama harus dilakukan secara bijak dan menjadi alternatif terakhir untuk mengurangi kerusakan lingkungan. Pengendalian secara mekanis Fase bibit tanaman/tanaman muda: Pengendalian dilakukan dengan cara mengambil dan membunuh secara langsung ulat api yang menyerang tanaman Fase tanaman menghasilkan: Pengendalian biasanya dilakukan dengan mencari kepompong ulat api pada pangkal tanaman, kepompong dikumpulkan selanjutnya musnahkan dengan cara dibakar. Pengendalian secara biologis Penggunaan agensia hayati: Beberapa agen antagonis yang digunakan untuk mengendalikan ulat api antara lain Bacillus thuringiensis, Cordyceps militaris dan Multi-Nucleo Polyhydro Virus (MNPV). Penanaman Bunga pukul delapan (Tunera Subulata): Bunga ini berfungsi sebagai sumber pakan bagi predator ulat api. Pengendalian secara kimia Pengendalian secara kimiawi dilakukan jika tingkat populasi ulat api sekitar 5 – 10 ekor ulat pada setiap pelepah daun. Fase bibit tanaman/tanaman muda/Tanaman Belum Menghasilkan: Pengendalian dilakukan dengan menyemprotkan larutan insektisida berbahan aktif Deltametrin dengan dosis 2cc/liter air. Fase Tanaman Menghasilkan/tanaman yang sudah tinggi: Pengendalian dengan insektisida berbahan aktif Deltrametrin dilakukan dengan cara fogging pada malam hari dan tidak hujan. Penyusun: Fauziah Yulia Adriyani (Penyuluh BSIP Lampung) Sumber Pustaka Kelti Proteksi Tanaman PPKS. 2020. Kunci Sukses Pengendalian Hama UPDKS di Perkebunan Kelapa Sawit. PPKS, Medan. Prediksi Luas Serangan Berat dan Kerugian Hasil Akibat Hama Ulat Api pada Triwulan II Tahun 2021 Pada Tanaman Kelapa Sawit. https://ditjenbun.pertanian.go.id/prediksi-luas-serangan-berat-dan-kerugian-hasil-akibat-hama-ulat-api-pada-triwulan-ii-tahun-2021-pada-tanaman-kelapa-sawit/. Diakses tanggal 13 Maret 2023.