Rendahnya produktivitas lahan pertanian di Indonesia disebabkan oleh berbagai kendala yang salah satunya terkait salinitas tinggi pada lahan sawah akibat terjadinya air laut yang pasang sehingga menggenangi lahan persawahan. Kendala tersebut sering dijumpai di daerah pesisir Indonesia seperti daerah sentra padi di pinggir laut pantai utara Jawa, Sulawesi Selatan, Sumatera, bahkan Kalimantan dimana kita ketahui bersama wilayah Indonesia yang merupakan daerah kepulauan. Karolinoerita dan Yusuf (2020) menerangkan bahwa salinisasi menjadi salah satu masalah dalam pemanfaatan lahan pertanian. Salinisasi merupakan proses terjadi peningkatan garam mudah larut (NaCl, Na2CO3, Na2SO4) yang tinggi dalam tanah sehingga berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Salah satu varietas padi yang sesuai akan salinitas tinggi yaitu padi varietas biosalin 1 agritan. Biosalin 1 Agritan merupakan padi yang dilepas Balitbangtan pada tahun 2020 berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian RI Nomor 894/HK.540/C/06/2020. Padi Biosalin 1 Agritan berasal dari iradiasi kalus varietas Ciherang dengan sinar gamma 22.468 Gy, memiliki potensi hasil 8,75 t/ha dan produktivitas rata-rata hasil 7,16 t/ha serta memiliki umur tanaman 113 hari. Biosalin 1 Agritan mempunyai karakter morfologi bentuk tanaman dan daun bendera tegak, tinggi tanaman 104 cm, bentuk gabah panjang ramping berekor pendek dan warna gabah kuning jerami. Cocok ditanam di ekosistem sawah dengan cekaman salinitas yang berada di daerah pesisir dan terpapar air laut. Padi Biosalin 1 Agritan memiliki keunggulan diantaranya, berat 1000 butir ± 23,9 gram, tekstur nasi pulen, kadar amilosa 20,07%, toleran terhadap cekaman salinitas pada fase bibit (skor 3.33). Biosalin 1 memiliki kemampuan agak tahan terhadap serangan wereng batang coklat (WBC) biotipe 1, agak tahan terhadap hawar daun bakteri (HDB) strain IV dan agak tahan terhadap blas ras 033 dan 133. Gejala serangan WBC biotipe 1 memiliki ciri terlihanya tanaman padi yang kerdil selanjutnya daun menguning kering seperti terbakar dan ketika penyerangan mulai pada fase vegetatif (15 HST) mengakibatkan malai hampa saat dewasa. Sedangkan pada HDB memiliki gejala menguningnya daun jerami yang selanjutnya mengering seperti terbakar dan mati. Gejala serangan blas memiliki ciri terlihatnya bercak pada daun yang berbentuk belah ketupat atau lonjong. Semua serangan OPT tersebut disebabkan akan kelembaban yang tinggi pada lahan dan biasanya ditandai dengan tingginya curah hujan pada musim kemarau. Oleh karena itu dalam setiap budidaya tanaman padi untuk selalu memperhatikan sanitasi lingkungan sehingga serangan OPT dapat diminimalisir. Sumber: Balitbangtan. 2021. 700 Teknologi Inovatif + 10 Model Penerapan Inovasi Kolaboratif. Jakarta: IAARD Press. Karolinoerita dan Yusuf. 2020. Salinasi Lahan dan Permasalahannya di Indonesia. Jurnal Sumberdaya Lahan Vol. 14 No. 2. 91-99. Reporter : Ria Widyaningrum, S.P. (Penyuluh Pertanian BSIP Kalimantan Timur)