Loading...

MENGENAL VARIETAS UNGGUL BARU PADI TAHAN SALINITAS

MENGENAL VARIETAS UNGGUL BARU PADI TAHAN SALINITAS
Kalimantan Barat memiliki potensi lahan pasang surut yang cukup besar, namun memiliki kendala dalam pengembangannya untuk lahan pertanian. Salah satu kendala yang dihadapi adalah intrusi air laut (salinitas) terutama di daerah-daerah pesisir pantai. Cekaman salinitas pada tanaman pangan dapat menyebabkan pertumbuhan tanaman menjadi terganggu dan pada jenis rentan menyebabkan tanaman tidak dapat tumbuh (Kurniasih et al., 2002 dalam Kurniasih et al., 2008). Tanaman padi merupakan satu-satunya tanaman pangan yang direkomendasikan untuk ditanam di lahan salin, walaupun tanaman padi merupakan tanaman yang sensitif terhadap lahan salin. Hal itu terkait dengan kemampuan tanaman padi tumbuh baik pada lahan yang tergenang, dan mampu membantu mencuci garam yang ada pada permukaan tanah ke lapisan tanah di bawahnya, sehingga lahan menjadi cocok untuk pertumbuhan pertanaman berikutnya. Penelitian menunjukkan bahwa pada musim kemarau, di wilayah pesisir salinitas tanah berkisar antara 2 dS/m hingga 18 dS/m, sedangkan batas toleransi tanaman padi pada saat tanam terhadap kegaraman adalah sekitar 4 dS/m (Anonim, 2016). Penggunaan varietas toleran salinitas dan melakukan rotasi tanaman perlu dilakukan untuk mengatasi pertumbuhan dan produksi tanaman padi yang umumnya sensitif terhadap garam. Pendekatan yang paling murah dan aman untuk fase perkembangan bibit atau fase perkecambahan karena umumnya tanaman sensitif pada fase pertumbuhan. Dengan demikian diharapkan penggunaan varietas toleran dapat mengembalikan dan meningkatkan produktivitas lahan dan produksi padi di tanah salin. (Anonim, 2011) Beberapa varietas unggul padi yang tahan salinitas, sudah kita kenal seperti varietas Banyuasin, Dendang, Lambur, Siak Raya dan Mendawak, namun varietas ini sudah cukup lama. Untuk itu pada tahun 2014 ini, Badan Litbang melepas kembali varietas unggul yang tahan salinitas yaitu Inpari 34 Salin Agritan, Inpari Unsoed 79 Agritan dan Inpari 35 Salin Agritan. Dengan hadirnya varietas unggul baru yang tahan salinitas ini, diharapkan dapat mengatasi masalah yang dihadapi petani dalam usahatani di lahan pesisir dan membantu petani dalam memperoleh varietas unggul yang tahan salinitas. Untuk lebih jelasnya, maka kita lihat deskripsi varietas Inpari 34, Inpari 35 dan Inpari Unsoed 79 Agritan sebagai berikut: Inpari 34 Salin AgritanUmur Tanaman : ± 102 hari setelah sebarBentuk Tanaman : TegkTinggi tanaman : ± 107 cmDaun Bendera : TegakBentuk Gabah : Panjang rampingWarna gabah : Kuning BersihKerontokan : SedangKerebahan : Agak TahanTekstur nasi : Agak PeraKadar Amilosa : ± 22,8 %Berat 1000 butir : ± 24,9 gramRata-rata hasil : ± 5,1ton/ha pada KA 14%Potensi Hasil : 8,1 ton/haKetahanan terhadap Hama : Agak tahan terhadap wereng batang coklat (WBC) biotipe 1 dan Agak rentan terhadap WBC biotipe 2 dan 3 Ketahanan terhadap penyakit : o Agak tahan terhadap Hawar Daun Bakteri (HDB) patotipe III, Rentan HDB patotipe IV dan agak rentan HDB patotipe VIIIo Rentan terhadap virus tungro ras dari Subango Tahan terhadap penyakit blas ras 033 dan 173, Agak tahan blas ras 073 dan rentan Blas ras 133Anjuran Tanam : Toleran salin pada fase bibit pada cekaman 12 dSm-1 serta cocok ditanam di lahan sawah dataran rendah sampai sedang (0-500 mdpl)Pemulia : Priatna Sasmita, Nafisah, Cucu Gunarsih, Trias Sitaresmi, Moch. Yamin Samaullah, Satoto, I Made Jana MejayaTahun dilepas : 2014 Sumber : Badan Litbang Pertanian, 2015 Inpari 35 Salin AgritanUmur Tanaman : ± 106 hari setelah sebarBentuk Tanaman : Agak TegakTinggi tanaman : ± 100 cmDaun Bendera : Agak TegakBentuk Gabah : Panjang rampingWarna gabah : Kuning BersihKerontokan : SedangKerebahan : Agak TahanTekstur nasi : Agak PeraKadar Amilosa : ± 24 %Berat 1000 butir : ± 25,8 gramRata-rata hasil : ± 5,3 ton/ha pada KA 14%Potensi Hasil : 8,3 ton/haKetahanan terhadap Hama : o Agak tahan terhadap wereng batang coklat (BWC) biotipe 1 dan agak rentan WBC biotipe 2 dan 3 Ketahanan terhadap penyakit : o Agak tahan terhadap Hawar Daun Bakteri (HDB) patotipe III, rentan HDB patotipe IV dan agak rentan HDB patotipe VIIIo Rentan terhadap virus tungro ras Subango Tahan terhadap penyakit blas ras 033 dan rentan Blas ras 073,133 dan 173Anjuran Tanam : Toleran salin pada fase bibit pada cekaman 12 dSm-1 serta cocok ditanam di lahan sawah Pemulia : Nafisah, Priatna Sasmita, Cucu Gunarsih, Trias Sitaresmi, Moch. Yamin Samaullah, Satoto, I Made Jana MejayaTahun dilepas : 2014Sumber : Badan Litbang Pertanian, 2015. Inpari Unsoed 79 AgritanUmur Tanaman : ± 109 hari setelah sebarBentuk Tanaman : TegakTinggi tanaman : ± 105 cmDaun Bendera : TegakBentuk Gabah : GemukWarna gabah : Kuning BersihKerontokan : SedangKerebahan : Agak TahanTekstur nasi : PulenKadar Amilosa : ± 22,6 %Berat 1000 butir : ± 25,2 gramRata-rata hasil : ± 4,9 ton/ha pada KA 14%Potensi Hasil : 8,2 ton/haKetahanan terhadap Hama : o Agak tahan terhadap wereng batang coklat (WBC) biotipe 1 dan 2 dan rentan WBC biotipe 3 Ketahanan terhadap penyakit : o Agak tahan terhadap Hawar Daun Bakteri (HDB) patotipe III, agak Rentan HDB patotipe IV dan VIIo Rentan terhadap virus tungro ras Subango Tahan terhadap penyakit blas ras 033 dan rentan blas ras 073,133 dan 173Anjuran Tanam : Toleran salin pada fase bibit pada cekaman 12 dSm-1 serta cocok ditanam di lahan sawah Pemulia : Suprayogi dan Noor FaridTahun dilepas : 2014Sumber : Badan Litbang Pertanian, 2015 Penulis : Ir. Sari Nurita, Penyuluh Pertanian BPTP Kalimantan Barat Sumber : Anonim, 2016. Varietas Padi Toleran lahan Salin Terus Diembangkan. Badan Litbang Pertanian. http://www.litbang.pertanian.go.id/berita/one/2626/. diakses tanggal 16 Agustus 2016. Anonim, 2011. Varietas Padi Toleran Salinitas (http://repository.usu.ac.id/bitstream 123456789/57896/4 /Chapter%20II.pdfn). Diakses tanggal 16 Agutus 2016 Jamil et al., 2015. Deskripsi Varietas Unggul Baru Padi. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Kementan. Kurniasih, Taryono dan Toekiji., 2008. Keragaan Beberapa Varietas Padi (Oryza spp) Pada Kondisi Cekaman kekeringan dan Salinitas. Ilmu Pertanian Vol. 15 No.1, 2008 : 49 - 58