Lampung merupakan Provinsi ke tiga sebagai sentra produksi jagung di Indonesia. Saat ini petani jagung di Lampung banyak mengeluh/resah karena adanya serangan penyakit bulai. Bulai merupakan penyakit paling berbahaya pada tanaman jagung, dan sangat ditakuti petani karena dapat mengancam pertanamannya. Petani jagung menjadi panik bila pertanamannya diserang penyakit bulai atau downy mildew. Bulai merupakan salah satu penyakit pada tanaman jagung yang paling sulit dikendalikan dan seringkali menyebabkan penurunan hasil, bahkan gagal panen. Lebih parah lagi, penyakit bulai bisa menyerang pertanaman jagung pada musim berikutnya melalui spora cendawan yang bisa berkembang pada tanah. Gejala Serangan Gejala serangan penyakit bulai pada tanaman jagung sangat mudah dikenali antara lain: Adanya garis-garis memanjang sejajar tulang daun pada permukaan daun berwarna putih sampai kuning diikuti garis-garis klorotik sampai coklat pada infeksi lebih lanjut. Tanaman menjadi terhambat pertumbuhannya dan pembentukan tongkol terganggu sampai tidak bertongkol sama sekali. Bila terjadi infeksi terlambat, tanaman masih menghasilkan tetapi bulir-bulirnya terinfeksi patogen. Penyebab Penyakit Penyakit bulai ini disebabkan oleh cendawan Peronosclerospora maydis atau P. philippinensis. Jamur Peronosclerospora maydis (Racib) Show. Cendawan ini memiliki miselium yang berkembang dalam ruang antar sel. Konidiafora (penyangga konodia) dibentuk pada mulut daun, dan memiliki percabangan dikotom. Konidia berbentuk bulat, dibentuk diujung percabangan konidiafora. Pembentukan konidiafora dan pelepasan konidia terjadi pada waktu malam hari. Jamur penyebab penyakit bulai pada jagung tidak dapat diisolasi pada media buatan. Penularan Penyakit bulai tanaman jagung dapat ditularkan melalui udara atau melalui benih. Infeksi melalui udara ditandai dengan timbulnya gejala pada daun muda yang mengalami klorotik sedangkan daun tua masih berwarna hijau. Tanda-tanda infeksi melalui benih terlihat pada bibit muda yang memperlihatkan klorotik pada seluruh daun dan tanaman cepat mati. Pada permukaan bawah daun yang terinfeksi banyak terbentuk spora dan terlihat seperti tepung putih Patogen dapat bertahan di dalam biji, tetapi sumber penularan primer berasal daritanaman jagung yang terserang. Penyakit ini merugikan pada pertanaman jagung di dataran rendah, dan tidak diterdapat pada ketinggian diatas 900 m diatas permukaan laut. Perkembangan penyakit sangat dibantu oleh kondisi cuaca lembab dan panas. Teknik Pengendalian Penanaman secara serempak. Pengendalian penyakit bulai tanaman jagung, penanaman serempak dalam satu hamparan atau kawasan sebaikan dilakukan dengan jedah waktu paling lama 14 hari. Dengan penanaman serempak kemungkinan sangat kecil terjadi serangan bulai, lebih-lebih dipadukan dengan varietas tahan dan eradikasi tanaman terinfeksi. Pengendalian pra tanam dengan fungsisida berbahan aktif metalaksil. Benih jagung hibrida dan bersari bebas yang sudah dipasarkan umumnya sudah diberi fungisida ridomil atau saromil yang berbahan aktif metalaksil. Metalaksil adalah senyawa kimia golongan asilalanin yang mampu melindungi benih jagung terhadap bibit penyakit, termasuk jamur penyebab penyakit bulai. Pada tahun 80 an, fungisida berbahan aktif metalaksil efektif dalam mengendalikan penyakit bulai. Namun, pada saat ini, ketika fungisda tersebtu telah digunakan lebih dari 20 tahun, terjadi resistensi cendawan terhadap metalaksil sehingga efektifitas fungisida tersebut menurun. Menanam varietas unggul tahan bulai. Pengendalian ini termasuk cara yang mudah, murah, dan aman bagi lingkungan. Saat ini sudah terdapat beberapa varietas jagung yang toleran dan bahkan tahan terhada serangan penyakit bulai antara lain; Bima-1, Bima-3, Bima-14 dan Bima-15 serta jagung komposit varietas Lagaligo dan Lamuru. Varietas tersebut diketahui memiliki daya tahan yang baik terhadap penyakit bulai. Menanam pada waktu yang tepat. Tanaman jagung paling rentan terkena bulai pada saat tanaman mulai berkecambah hingga tanaman berumur 4 minggu setelah tanam. Penyakit bulai banyak berkembang pada waktu peralihan musim dari kemarau ke musim penghujan atau juga sebaliknya. Oleh karena itu, diupayakan pada saat terjadi peralihan musim, tanaman jagung sudah berumur lebih dari satu bulan. Mencabut tanaman jagung yang terserang penyakit bulai, kemudian di memusnahkan. (dari berbagai sumber) Penulis: Kiswanto dan Fauziah YA