Loading...

MENGENDALIKAN Thrips PADA TANAMAN CABAI

MENGENDALIKAN Thrips PADA TANAMAN CABAI
Thrips dilaporkan pertama kali di Indonesia oleh Priesner (1929), namun thrips secara perlahan tapi pasti makin berarti kehadirannya sebagai hama yang harus diperhitungkan. Bilamana tidak segera diatasi, dapat terjadi peledakan thrips sebagaimana halnya dengan belalang dan hama-hama sporadis lain.Pada tanaman cabai gejala serangan thrips hampir mirip dengan tanaman kentang, gejala awal daun bertato dan berwarna keperakan mengkilat. Kemudian pada serangan lanjut daun akan berwarna coklat, hingga proses metabolisme akan terganggu. Menurut Vos et al. (1990) Thrips sanggup menyebabkan kehilangan panen sebesar 23% pada tanaman cabai besar. Selanjutnya pada daun cabai akan menjadi keriting atau bersembelit dan keriput. Bilamana serangan terjadi pada awal pertanaman maka akan terjadi gejala fatal berupa penyakit kerdil (dwarfing) dan pada akhirnya layu dan kemudian akan mati.Pengendalian Secara Kimia Yang dimaksud dengan pengendalian cara kimia adalah bahan yang digunakan sebagai pengendali merupakan senyawa kimia yang bersifat sintetis termasuk insektisida sintetis. Menurut Lewis (1973) sebenarnya Thrips semula cukup peka terhadap jenis insektisida sintetis karena struktur dan komposisi tubuhnya lebih sederhana, bila dibandingkan dengan jenis serangga lain seperti Lepidoptera. Namun karena penggunaan insektisida sudah sangat berlebih dan ekosistem sudah menjadi 'jenuh' (saturated), maka sifat agregasi Thrips menjadi tahan (bilamana terjadi pada beberapa generasi maka ketahanan ini dikenal dengan resisten). Beberapa jenis bahan agrokimia sintetik yang dapat digunakan untuk pengendalian Thrips adalah : Jenis sintetik pirethroid Jenis fosfat organik yang lunak Jenis jenis insektisida IGR (insect growth regulator) Jenis mercaptodimethurJenis thripstick Kisaran konsentrasi formulasi yang digunakan adalah 0.10%-0.20%, tergantung pada tingkat serangan yang ditimbulkan thrips.Pedoman pengendalian secara kimia dilakukan berdasarkan nilai ambang kendali Thrips. Artinya baru dilakukan aplikasi insektisida bilamana nilai kerusakan total 15% (Moekasan dan Laksminiwati 1996) atau kerusakan kanopi tanaman 10-15% (Dibiyantioro 1994). Nilai ambang kendali ini hendaknya dapat diadopsi oleh petani, karenanya cara perhitungan kerusakan kanopi akan lebih mudah karena tidak memerlukan rumus tertentuPengendalian Secara Fisik Pengendalian dengan cara fisik adalah secara fisik dapat menghalangi atau menghalau Thrips hingga tidak banyak berhubungan baik dengan tanaman inang dan medium tumbuh tanaman tersebut. Dapat ditempuh beberapa cara yakni : Penggunaan bahan dekstrin 3% (Dibiyantoro 1994): dekstrin adalah senyawa transisi dalam proses perubahan sukrosa-dekstrosa. Dekstrin mampu untuk melapisi permukaan daun hingga menjadi lapisan film, namun tetap transparan hingga tidak mengahalangi terjadinya proses fotositesa dan metabolisme daun. Karena ada lapisan dekstrin, maka thrips akan sukar mendekati dan hinggap pada daun sehubungan dengan sifat tegangan permukaan daun. Demikian pula pada waktu 'probing' thrips akan sulit mencari bagian daun yang akan dijadikan titik probing (Dibiyantoro 1994 dan 1997b). Dekstrin sangat kompatibel terhadap senyawa kimia apapun termasuk insektisida dari semua jenis (Dibiyantoro 1997a). Jenis pengendalian fisik lain berupa penggunaan mulsa plasik perak maupun plastik transparan biasa. Secara prinsip, penggunaan mulsa ini, mampu untuk mengurangi tingkat serangan thrips. Hal ini disebabkan karena dua faktor yaitu: (1) Menghalangi preferensi hinggap pada waktu terbang, karena adanya refleksi cahaya matahari yang dipantulkan mulsa perak, maupun penutup plastik transparan biasa. (2) Mengurangi persentase pembentukan pupa dalam tanah. Namun perlu disimak bahwa tidak semua spesies thrips melakukan proses pupasi di dalam tanah. Refleksi cahaya ditentukan oleh tinggi rendahnya refleksi sinar UV (ultra violet) yang dipantulkan oleh suatu media, misalnya mulsa perak. Sebagai contoh pada refleksi UV sebesar 75% pada panjang gelombang 365 nm (Lewis 1973); Thrips lebih banyak menghindar bilaman dibandingkan dengan jenis media dengan kadar refleksi UV 14% dan panjang gelombang 365 nm. Pengaruh yang serupa akan terjadi pada jenis warna perangkap dan jenis bahan cat. Penggunaan perangkap rekat, dengan kecenderungan warna putih hingga biru, meskipun faktor warna ini juga seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa kadar refleksi dan panjang gelombang cahaya juga akan menentukan jumlah penangkapan Thrips terhadap warna yang didasarkan pada alat colorimeter jenis d25m-9 Hunterlab. Kesimpulannya adalah jenis cat bahan pewarna dan kadar refleksi itu sebenarnya yang lebih berperan. Setelah dilakukan uji korelasi antara warna dan jumlah penangkapan maka yang paling tinggi adalah warna hijau jeruk (citrus green-0.93), kemudian kuning, warna fresh parsley dan baru pada akhirnya warna putih. Betapapun Vos (1994) telah melakukan suatu penelitian mengenai perangkap jenis ini yakni hanya warna putih. Sedangkan Dibiyantoro (1997b) hanya menggunakan perangkap sederhana biru muda pucat dengan bahan cata yang banyak mengandung minyak dan alat perangkap ini digunakan untuk suatu patokan indikator aplikasi insektisida. Jumlah populasi thrips pada perangkap juga dapat dijadikan dasar nilai ambang untuk aplikasi insektisida. Cara pengendalian fisik lainnya adalah dengan penanaman tanaman penghalang (barrier), banyak jenis tanaman barrier yang dapat digunakan, misalnya jagung, atau diluar negeri tanaman 'rape' (Rapus chiensis) untuk penghalang tanaman hias. (Ir. Sigit Sapto Wibowo, MSc., BPTP Kalimantan Barat) Sumber: Dibiyantoro, ALH.. 1998. Thrips pada tanaman sayuran. Balai Penelitian Tanaman Sayuran. Monograps no.11. Lembang.