Peningkatan konsentrasi Gas Rumah Kaca (GRK) di atmosfer bumi seperti karbondioksida (CO2), methana (CH4), nitro-oksida (N2O), sulfur dioksida (SO2), khloro-flurokarbon (CFC), ozon (O3) dan aerosol merupakan salah satu penyebab pemanasan global. Gas niro-oksida (N2O) adalah GRK penting setelah methana (CH4) karena satu molekul NO2 mempunyai potensi pemanasan global 250 kali lebih tinggi dari satu molekul CO2. Kegiatan pertanian budidaya (on farm) dan pengolahan hasil (off farm) menghasilkan limbah (sisa panen, sisa pasca panen dan sisa pengolahan panen) yang cukup besar. Limbah pertanian ini adalah bahan organik yang mudah busuk sehingga akan menghasilkan emisi gas methan. Limbah yang dibakar oleh para petani juga menghasilkan residu hasil pembakaran yang dapat dipergunakan untuk pupuk yang menghasilkan emisi gas CH4, N2O dan CO2. Berdasarkan data yang di laporkan oleh Ecosolve Ltd (2002), yang menyatakan bahwa emisi GRK yang dihasilkan dari residu tanaman padi dan jagung adalah: CH4= 31,35 Gg; N2O=5,45 Gg; Nox=658,32 Gg; CO2=19,68 Gg. Secara lengkap dapat ditunjukkan data sebagai berikut : 1. Pembakaran residu padi menghasilkan emisi CH4 sebesar 29,69 Gg; emisi N2O sebesar 4,90 (Gg); emisi CO2 sebesar 17,70 (Gg); emisi Nox sebesar 623,40 Gg. 2. Pembakaran residu jagung menghasilkan emisi CH4 sebesar 1,66 Gg; emisi N2O sebesar 0,55 (Gg); emisi CO2 sebesar 1,98 (Gg); emisi Nox sebesar 34,92 Gg. Tanah pertanian juga akan menjadi sumber emisi N2O bila tanah tersebut dipupuk dengan pupuk nitrogen seperti urea dan amonium sulfat dengan tingkat emisi 1 dan 1,57%. Pemberian Pupuk untuk menurunkan emisi GRK 1. Pupuk N. Pemberian pupuk nitrogen berupa urea pril berpotensi tinggi terbentuknya gas N2O. Penggunaan pupuk N lambat urai seperti urea tablet, agrium, nutralene, dan CRM cenderung meningkatkan efisiensi pupuk N, sekali-gus mengemisi gas N2O lebih rendah dibandingkan dengan menggunakan urea pril. Diantara pupuk N lambat urai, urea tablet mengemisi nitro-oksida paling rendah dan efisiensi pupuk N tertinggi. 2. Pupuk S. Hasil penelitian Balit Lingkungan Pertanian Jakenan-Pati, menunjukkan bahwa peningkatan takaran S dari 12 menjadi 36 kg/S/ha dapat menurunkan emisi gas N2O sebesar 40,6 gram N2O/ha/musim atau 54,4%. Menurut De Datta dan Nanasomsran (1991), peningkatan takaran sulfur (S) mampu menurunkan emisi nitro-oksida. Sulfur dapat memperlambat perubahan NH4 menjadi N2O, sehingga NH4 lebih banyak diserap oleh tanaman. Data dibawah menunjukkan emisi nitro-oksida (N2O) dari lahan sawah tadah hujan yang memperoleh berbagai takaran pupuk S sebagai berikut: 1) pemberian S 12 kg/ha menghasilkan emisi N2O sebesar 74,6 g/ha/musim; 2) pemberian S 24 kg/ha menghasilkan emisi N2O sebesar 55,4 g/ha/musim; 3) pemberian S 36 kg/ha menghasilkan emisi N2O sebesar 34,0 g/ha/musim 3. Pupuk kandang. Pupuk kandang dapat meningkatkan emisi N2O ke atmosfer. Bila takaran pupuk kandang ditingkatkan hingga 7,5 ton/ha, maka emisi gas N2O meningkatkan menjadi 28,8 sampai 100,3% yang ditunjukkan pada tabel berikut: 1) pemberian pupuk kandang 0 ton/ha menghasilkan emisi N2O sebesar 171,3 g/ha/musim; 2) pemberian pupuk kandang 2,5 ton/ha menghasilkan emisi N2O sebesar 220,6 g/ha/musim; 3) pemberian pupuk kandang 5,0 ton/ha menghasilkan emisi N2O sebesar 310,8 g/ha/musim; 4) pemberian pupuk kandang 7,5 ton/ha menghasilkan emisi N2O sebesar 343,1 g/ha/musim. Dalam proses nitrifikasi-denitrifikasi (tergantung kondisi tanah), mikroba turut berperan dalam pembentukan gas N2O dan bahan organik yang ada didalam tanah digunakan oleh mikroba sebagai sumber energinya. Dengan demikiam, bahan organik dapat merangsang aktivitas mikroba di dalam tanah dan meningkatkan konsumsi O2, sehingga pada kondisi tanah an aerob akan mempercepat proses reduksi N2O. 4. Pupuk hijau. Tanaman legum selain sebagai pupuk hijau dapat menghambat pembentukan gas nitro-oksida. Menurut Shresta dan Ladha (1998), tanah sawah tadah hujan setelah empat puluh hari ditanami jagung (zea mays), indigo (indigofera tinctoria) dan Centrosoma menunjukkan penurunan nyata nitrat dalam tanah, yang pada gilirannya menurunkan pelepasan nitro-oksida ke atmosfer. Oleh : Ir.Sri Puji Rahayu, MM/ yayuk_edi@yahoo.com Sumber : Penegembangan Inovasi Pertanian, Badan Litbang Pertanian, Departemen Pertanian, Bogor, 2009