Loading...

MEWASPADAI PENYAKIT INGUSAN PADA TERNAK RUMINANSIA

MEWASPADAI PENYAKIT INGUSAN PADA TERNAK RUMINANSIA
Keberhasilan usaha peternakan termasuk ternak ruminansia sangat tergantung pada banyak faktor. Salah satu diantaranya adalah faktor kesehatan. Kesehatan ternak sangat penting karena jika ternak tidak sehat akan menimbulkan banyak kerugian. Kerugian tersebut bisa berupa: gangguan pertumbuhan, gangguan reproduksi, dan bahkan yang paling fatal kematian ternak itu sendiri. Apalagi, akhir-akhir ini dunia peternakan dihebohkan dengan berjangkitnya kembali Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), yang sangat mudah menular sehingga telah menganggu pemenuhan dan ketersediaan proten hewani yang berasal dari ternak ruminansia. Oleh karena itu, para peternak harus memiliki pengetahuan yang cukup serta memahami jenis-jenis penyakit yang sering dan berpotensi menyerang ternak mereka, gejala-gejalanya serta cara mengatasinya. Salah satu diantara penyakit yang dapat dan sering menjangkiti ternak adalah PENYAKIT INGUSAN. PENYAKIT INGUSAN (MALIGNANT CATRRAHAL FEVER = MCF), merupakan penyakit menular yang bersifat akut dan fatal pada sapi dan kerbau. Gejala yang sangat menyolok adalah keluarnya ingus yang hebat dari hidung disertai demam yang tinggi, radang mukopurelen pada selaput epitel pernapasan maupun selaput mata dan encephalitis. Penyakit ini tersebar luas diberbagai negara di dunia. Di Indonesia, kejadian yang terbanyak adalah pada sapi Bali dan kerbau. Penyakit ingusan ini dapat menyerang ternak segala umur, namun kebanyakan yang terserang berumur 4–6 tahun. Jenis kelamin dan musim tidak mempengaruhi kejadian penyakit. Angka kematian akibat penyakit ingusan sangat tinggi (95 %). Penyebab Penyakit, yaitu: a)ACV-1 adalah herpes virus, merupakan anggota dari sub family Gamma herpesviridae, famili herpesviridae; b)SAA adalah agen yang belum diketahui secara jelas klasifikasinya dan diperkirakan ditularkan oleh domba. Penularan, domba diduga sebagai carier atau pembawa penyakit, walaupun ternak-ternak tersebut tidak menunjukkan tanda-tanda sakit. Kejadian penyakit ini lebih tinggi pada daerah peternakan campuran antara sapi/ kerbau dengan domba, atau pada daerah padang penggembalaan dimana sapi, kerbau dan domba digembalakan secara bersamaan. Cara penularan virus masih belum diketahui dengan jelas, namun pada sapi telah direkam beberapa kasus infeksi transplasental (melalui plasenta). Tanda tanda penyakit: a)Demam tinggi (40–41º C); b)Keluarnya cairan dari hidung dan mata semula encer yang akhirnya menjadi kental dan mukopurulen; c)Peradangan mulut dan erosi permukaan lidah, sehingga air liur menetes; d)Moncong kering dan pecah pecah terisi eksudat (nanah); e)Hidung tersumbat kerak sehingga kesulitan bernapas; f)Kondisi badan menurun, lemah dan lama kelamaan menjadi kurus; g)Kornea mata keruh dan keputihan, dalam keadaan yang serius dapat terjadi kebutaan; h)Kadang kadang dapat terjadi dermatitis (radang kulit) dengan adanya penebalan dan pengelupasan kulit; i)Kelenjar limfe luar tubuh membengkak; j)Kadang-kadang terjadi sembelit yang diikuti diare/ mencret; k)Gejala kelainan syaraf timbul akibat peradangan otak; l)Otot-otot menjadi gemetar, berjalan sempoyongan, torticolis dan bersifat agresif; m)Terjadi kelumpuhan sebelum mati; n)Kematian terjadi biasanya antara 4–13 hari setelah timbul tanda-tanda penyakit. Pencegahan dan Pengobatan; a)Menghindari pemeliharaan atau penggembalaan secara bersamaan antara sapi/ kerbau dengan domba pada satu lokasi; b)Menghindari pemasukan domba dari daerah lain, karena domba adalah sebagai carrier/ pembawa penyakit. Meningkatkan sanitasi lingkungan dan tata laksana pemeliharaan ternak; c)Dianjurkan ternak yang menderita penyakit ingusan agar dipotong karena sampai saat ini tidak ada obat yang efektif. Ternak yang menderita atau tersangka penyakit MCF/Ingusan dapat dipotong dibawah pengawasan Dokter Hewan yang berwenang atau petugas kesehatan hewan. Dagingnya dapat dikonsumsi sepanjang kualitasnya masih baik dan dapat dipertanggungjawabkan. Keputusan ini adalah wewenang Dokter Hewan/ petugas lapangan yang ditunjuk. Seluruh jaringan yang mengalami perubahan/ menyimpang dari normal diafkir. Sisa hasil pemotongan harus dimusnahkan dengan cara dibakar dan dikubur. Demikianlah sekilas informasi tentang mewaspadai penyakit menular pada ternak yang perlu diketahui para peternak khususnya peternak ruminansia, semoga bermanfaat (Inang Sariati). Sumber informasi: https://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_penyakit_hewan https://disnakeswan.lebakkab.go.id/kesehatan-dan-penyakit-hewan-menular-ternak-ruminansia-sapi-kerbau-kambing-domba/ https://www.google.com/search?q=wikipedia+penyakit+ternak+ruminansia