Lada merupakan salah satu tanaman rempah yang memiliki banyak manfaat. Lada digunakan sebagai bumbu masakan, bahan baku industri makanan, sebagai bahan obat-obatan, sebagai bahan minyak lada, sebagai tumbuhan afrodisiak, sebagai campuran pembuatan minuman, membantu mencegah perkembangan kanker payudara (diekstrak dengan kunyit), mengurangi perut kembung, lada dimanfaatkan juga untuk produksi kosmetik, menyembuhkan encok, sebagai bahan balsam lada dalam bentuk krim, digunakan dalam pengobatan Produk lada dapat dijual dalam beberapa bentuk yakni lada hitam, lada putih maupun lada hijau. Provinsi Lampung merupakan salah satu provinsi yang memiliki daerah produsen lada Lada dapat dilakukan diversifikasi produk yaitu diversifikasi produk secara vertikal maupun horizontal. Diversifikasi vertikal dilakukan melalui pengembangan produk lada hitam dan lada putih dari bentuk curah menjadi bentuk produk yang siap digunakan oleh konsumen akhir (end product) seperti industri makanan, rumah tangga, dan restoran. Diversifikasi horisontal dilakukan melalui penganekaragaman produk lada, di antaranya: lada bubuk (black pepper), lada hijau kering (dehydrated green pepper), lada hijau kering yang dibekukan (freeze dried green pepper), lada beku (frozen pepper), lada yang digunakan untuk kesehatan (pepper in medicinal use), lada dalam botol (pepper in brine–cane, bottle, bulk), minyak lada (pepper oil), oleoresin lada (pepper oleoresin), parfum lada (pepper perfume), wewangian lada (pepper potpourri), lada manis (pepper sweet), lada hijau yang diawetkan (preserved green pepper). Bervariasinya produk lada, minyak lada dan balsam lada merupakan produk diversifikasi lada yang sangat menarik sehingga dapat memberikan nilai tambah serta nantinya dapat meningkatkan kesejahteraan petani, Minyak Lada . Komposisi utama minyak lada sebagian besar merupakan campuran kompleks dari senyawa terpen hidrokarbon dan senyawa oksigen yang memiliki titik didih 80 – 200oC. Kegunaan minyak lada terutama sebagai flavor pada berbagai produk makanan, bahan obat, aromaterapi, dan juga digunakan pada beberapa jenis parfum. Minyak lada ini dapat diperoleh dari penyulingan uap langsung (steam) atau penyulingan uap-air (dikukus). Penyulingan dengan uap langsung memungkinkan penyulingan dilakukan dalam kapasitas besar (volume ketel 2.500 l), tetapi membutuhkan dua unit peralatan yaitu ketel penyuling dan mesin pembangkit uap, sehingga biaya investasinya cukup tinggi. Penyulingan dengan cara dikukus dapat dikerjakan pada kapasitas volume ketel 1000 liter, dan tidak memerlukan mesin pembangkit uap sehingga lebih berpeluang diterapkan di tingkat petani atau kelompok tani karena investasinya lebih murah. Sebelum disuling buah lada harus dihancurkan, kemudian segera disuling. Ukuran partikel sekitar 0,7 mm ditemukan optimal untuk penyulingan minyak lada Minyak lada diperoleh melalui penyulingan lada hitam atau dari hasil samping (sisa sortasi) pengolahan lada hitam dan lada putih, berupa lada enteng dan menir untuk meningkatkan nilai tambahnya. Pemanfaatan lada enteng untuk menghasilkan minyak lada lebih menguntungkan karena merupakan pemanfaatan hasil samping dari pengolahan lada hitam. Selain itu, rendemen minyak dari lada enteng lebih tinggi (3 – 3,5%) dibandingkan dari lada hitam (2,5 - 3%). Penyulingan dengan uap langsung memungkinkan penyulingan dilakukan dalam kapasitas besar (volume ketel 2.500 l), tetapi membutuhkan dua unit peralatan yaitu ketel penyuling dan mesin pembangkit uap, sehingga biaya investasinya cukup tinggi. Penyulingan dengan cara dikukus dapat dikerjakan pada kapasitas volume ketel 1000 liter, dan tidak memerlukan mesin pembangkit uap sehingga lebih berpeluang diterapkan di tingkat petani atau kelompok tani karena investasinya lebih murah. Sebelum disuling buah lada harus dihancurkan, kemudian segera disuling. Ukuran partikel sekitar 0,7 mm ditemukan optimal untuk penyulingan minyak lada Minyak lada diperoleh melalui penyulingan lada hitam atau dari hasil samping (sisa sortasi) pengolahan lada hitam dan lada putih, berupa lada enteng dan menir untuk meningkatkan nilai tambahnya. Pemanfaatan lada enteng untuk menghasilkan minyak lada lebih menguntungkan karena merupakan pemanfaatan hasil samping dari pengolahan lada hitam. Selain itu, rendemen minyak dari lada enteng lebih tinggi (3 – 3,5%) dibandingkan dari lada hitam (2,5 - 3%). Balsam lada. Formulasi balsem yang akan dibuat merupakan bahan-bahan yang mudah diperoleh dipasaran antara lain minyak gandapuro, mentol, bees wax (lilin lebah), vaselin Prosedur pembuatan balsem minyak lada hitam: Bahan dan Alat : Peralatan yang digunakankan antara lain : kompor, panci, sendok pengaduk, gelas aluminium, gelas takar, 20 (dua puluh) buah botol balsam, stiker dan lap. Bahan yang diperlukan antara lain : minyak gondopuro 50 ml, menthol 20 g, lilin lebah padat 80 gram, vaselin 250 gram, air, minyak atsiri lada 2 ml. Prosedur Kerja : 1. Timbang bahan-bahan yang dibutuhkan 2. Masukkan air ± seperempat volume panci. Masak air tersebut 3. Masukkan lilin lebah kedalam gelas aluminium 4. Tempatkan gelas aluminium ke dalam panci 5. Setelah lilin lebah mencair masukkan menthol dan vaselin lalu aduk 6. Setelah lilin, mentol dan vaselin tercampur sempurna (homogen) matikan kompor, masukkan minyak gandapura, mentol lalu aduk hingga homogen. 7. Campurkan pada poin f di bagi dua, setengahnya dimasukkan ke dalam gelas takar 8. Tuang cairan ke dalam botol balsem masing-masing botol ± 25 ml. 9. Biarkan cairan balsam hingga membeku, tutup botol dan beri label pada botol balsem tersebut 10. Campurkan setengah bagian cairan pada poin f dengan minyak atsiri lada aduk hingga homogen 11. Tuang cairan pada poin j ke dalam botol balsem masing-masing botol ± 25 ml 12. Biarkan cairan balsam hingga membeku, tutup botol dan beri label “Balsem Black Pepper Oil” pada botol balsem tersebut. Penulis : Ely Novrianty (BPSIP Lampung) Sumber : Politeknik Negeri Lampung