Pengendalian Hama Terpadu (PHT) merupakan pendekatan pengelolaan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) yang menekankan keseimbangan ekosistem dan efisiensi ekonomi dalam usaha tani padi. PHT tidak dimaksudkan sebagai upaya pemusnahan hama secara total, melainkan pengendalian populasi OPT agar tetap berada pada tingkat yang tidak merugikan secara ekonomi. Pendekatan ini lahir sebagai koreksi terhadap praktik penggunaan pestisida kimia secara berlebihan yang terbukti menyebabkan resistansi hama, menurunnya populasi musuh alami, serta degradasi lingkungan pertanian.
Prinsip utama PHT adalah pengambilan keputusan berbasis pengamatan lapangan yang dilakukan secara rutin dan berkelanjutan. Petani dituntut mampu memantau dinamika populasi OPT dan musuh alaminya sejak fase pesemaian hingga fase generatif tanaman padi. Dengan pengamatan yang cermat, tindakan pengendalian dapat dilakukan secara tepat waktu, tepat sasaran, dan tidak berlebihan, sehingga efisiensi biaya produksi tetap terjaga tanpa mengorbankan hasil panen.
Dasar pengambilan keputusan dalam PHT adalah penerapan Ambang Ekonomi (AE), yaitu batas populasi OPT yang apabila terlampaui akan menimbulkan kerugian ekonomi yang lebih besar dibandingkan biaya pengendalian. Penggunaan pestisida kimia hanya dibenarkan apabila populasi OPT telah mencapai Aras Luka Ekonomi (ALE), yakni kondisi ketika tingkat kerusakan tanaman setara atau melebihi biaya pengendalian. Dengan pendekatan ini, penggunaan pestisida tidak lagi bersifat preventif, melainkan korektif dan terukur.
Teknik pengamatan OPT, khususnya wereng coklat dan wereng punggung putih, dilakukan dengan mengamati sekitar 20 rumpun tanaman yang diambil secara diagonal pada satu petakan sawah. Selain menghitung jumlah hama, pengamatan juga mencakup pencatatan populasi musuh alami seperti laba-laba, kepik Cyrtorhinus lividipennis, serta predator lain seperti Paederus dan Ophionea. Keputusan pengendalian didasarkan pada jumlah wereng terkoreksi, yaitu hasil perhitungan yang mempertimbangkan keberadaan musuh alami, sehingga tidak semata-mata bergantung pada jumlah hama.
Pengendalian OPT dalam PHT diawali dengan penerapan pengendalian kultur teknis sebagai langkah preventif utama. Penanaman padi secara serempak dalam satu hamparan luas terbukti efektif memutus siklus hidup hama. Penerapan sistem tanam jajar legowo juga menciptakan kondisi pertanaman yang lebih terbuka dan terang, sehingga menekan perkembangan hama sekaligus meningkatkan efektivitas musuh alami. Selain itu, pemupukan berimbang, khususnya pengendalian penggunaan nitrogen, sangat penting untuk mencegah ledakan populasi wereng dan penggerek batang.
Pengendalian mekanis dan fisik diterapkan untuk menekan populasi OPT tertentu, terutama tikus sawah dan penggerek batang. Tikus dikendalikan melalui Sistem Perangkap Bubu atau Trap Barrier System (TBS) yang memanfaatkan tanaman perangkap dan pagar plastik untuk menangkap tikus migran. Sementara itu, pengendalian penggerek batang dilakukan dengan memusnahkan kelompok telur secara manual pada fase awal pertumbuhan tanaman serta memotong jerami serendah mungkin saat panen guna memutus siklus hidup larva yang bersembunyi di pangkal batang.
Pengendalian hayati merupakan komponen penting dalam PHT yang menekankan pelestarian dan pemanfaatan musuh alami. Keberadaan predator dan parasitoid harus dijaga dengan menghindari penggunaan pestisida yang bersifat spektrum luas. Pemanfaatan agen hayati, pestisida nabati, serta pelestarian habitat pendukung musuh alami, termasuk pemasangan rumah burung hantu untuk pengendalian tikus, menjadi strategi yang efektif dan berkelanjutan dalam menekan populasi OPT utama tanaman padi.
Sebagai langkah terakhir, pestisida kimia dapat digunakan apabila seluruh upaya pengendalian lainnya belum mampu menurunkan populasi OPT di bawah ambang kendali. Penggunaan pestisida harus mengikuti prinsip Enam Tepat, yaitu tepat jenis, dosis, konsentrasi, waktu, sasaran, dan cara aplikasi. Dengan penerapan PHT secara konsisten dan disiplin, petani tidak hanya mampu menjaga stabilitas hasil panen padi, tetapi juga memastikan keberlanjutan lingkungan dan sistem produksi pertanian dalam jangka panjang.