Salah satu musuh alami patogen tungro adalah jamur entomopatogen Beuveria bassiana dan Metharizium anisopliae secara alami menginfeksi wereng hijau. Aplikasi wereng hijau dengan konsentrasi 2,0 x 107 konidium.ml (10 g jamur bersama mediumnya / 100 ml aquades) untuk B. Bassiana dan konsentrasi 1,4 x 107 konidium/ml (10 g jamur bersama mediumnya / 100 ml aquades) dapat menyebabkan kematian pada 3 - 14 hari setelah aplikasi (hsa). Lethal time 50 % populasi (LT50) untuk jamur B. Bassiana dicapai 7,57 hari, sedangkan untuk perlakuan dengan jamur M. Anisopliae dicapai 8,39 hari. Aplikasi jamur entomopatogen Metarhizium menekan kepribadian dan kepadatan populasi musuh alami (laba - laba). Vektor menularkan virus - sirus tungro secara semi persisten. Vektor menjadi infektif setelah mengisap cairan tanaman sakit selama minimal 30 menit dan serangga ini dapat memindahkan virus ke tanaman sehat pada saat mengisap tanaman sehat selama 15 menit. Masa inkubasi di dalam tanaman adalah 6 - 14 hari. Serangga dapat langsung menularkan virus setelah mengisap tanaman sakit dan dapat mempertahankan virus di dalam tubuhnya (masa retensi) selama tidak lebih dari 5 hari. Setelah masa ini, serangga menjadi tidak infektif, dan kembali lagi menjdi infektif setelah mengisap tanaman sakit. Virus ini tidak ditularkan melalui biji, tanah, air, angin dan secara mekanisme (misal pergesekan antara bagian tanaman yang sakit dengan sehat). Nimfa wereng hijau juga dapat menularkan virus ini tetapi menjadi tidak infektif setelah ganti kulit. Infeksi tungro dapat terjadi mulai di persemaian pada fase persemaian sampai dengan 45 hari setelah tanam (hst) sangat sensitif terhadap infeksi virus tungro. Apabila infeksi terjadi pada fase persemaian maka gejala tungro mungkin tampak pada umur 14 - 21 hari setelah tanam (hst). Tanaman muda yang terinfeksi merupakan sumber inokulum efektif di lapangan. Selama satu periode pertumbuhan tanaman padi terjadi 2 puncak tambah rumpun terinfeksi yaitu pada saat 28 hst dan 56 hst. Puncak infeksi pertama disebabkan oleh imigran pada 14 hst, sedangkan puncak infeksi kedua disebabkan infeksi yang terjadi saat 42 hst oleh keturunan serangga imigran. Sumber inokulum penyakit tungro adalah bibit ceceran gabah (voluntir), singgang serta rumput inang yang terinfeksi tanaman inang tungro selain padi adalah rumput belulang (Eleusine indica) , rumput bebek atau tuton (Echinocloa cononum), jajagoan (Echinochloa crusgali), juhun randan (Ischaneum rugosum), rumput asinan (Paspalum disticum) dan voluntir N. virescens hanya dapat berkembang dengan baik dan menjadi penular yang efisien pada padi . N. ningropictus dapat berkembang pada padi dan dapat menularkan virus dari rerumputan ke tanamana padi. Tanaman inang selain padi bagi wereng hijau adalah jajagoan (Echinochola crusgalli) dan kolomento (Leersia hexandra). Kepada para penyuluh pertanian, petani dan masyarakat yang mengetahui pertumbuhann patogen misalnya jamur entomopatogen yang berkembang biak di wilayahnya jangan diganggu karena patogen ini dapat menekan pertumbuhan virus tungro. Sebaliknya bila diketahui tanaman inang yang menyebarkan virus tungro yang ada di daerahnya supaya mencegah dan membasmi tanaman inang penyebar virus tungro yang menyerang tanaman padi petani. Oleh : Dr. Ibrahim Saragih / Penyuluh Pertania Sumber : Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan, Ditjentan, Pedoman Pengendalian OPT Padi Hibrida, 2008, Jakarta Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan, Ditjentan, Pedoman Penyakit Tungro Pada Tanaman Padi, 2006, Jakarta.