Pendahuluan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) merupakan salah satu faktor resiko dalam budidaya tanaman yang menyebabkan kehilangan hasil. Perubahan waktu tanam dan budidaya tanaman yang intesif dapat mendukung perkembangan OPT. Sesuai amanat Undang-Undang No.12 Tahun 1992, tentang Sistem Budidaya Tanaman, pasal 20 menyatakan bahwa perlindungan tanaman dilaksanakan dengan sistem Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Tanaman cabai merupakan tanaman sayuran yang banyak ditanam oleh petani. Karena merupakan komoditas yang berumur pendek, maka perlindungan tanaman dari Organisme Penggangu Tanaman harus dilakukan secara tepat dan benar, supaya dapat menghasilkan panen yang baik. Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) atau Hama dan Penyakit utama pada tanaman cabai yang sering dikeluhkan oleh petani adalah : A. Hama Utama Tanaman Cabai Secara umum hama yang menyerang tanaman cabai dibagi dalam tiga kelompok besar yang berdasarkan pada waktu serangan, yaitu pada malam hari, siang hari atau siang dan malam hari. Dari ketiga kelompok tersebut yang banyak menimbulkan kerugian adalah hama yang menyerang siang atau malam hari. Hama tersebut antara lain : 1. Thrips ( Thrips palmi atau Thrips tabaci) Thrips dikenal juga sebagai kutu wereng atau kutu bereng yang menyerang dengan menghisap cairan tanaman terutama pada daun. Hal ini menyebabkan sel-sel tanaman menjadi rusak yang ditandaai dengan bercak-bercak putih mengkilap pada daun karena adanya rongga pada daun yang kehilangan cairan. Bercak tersebut akan beruabah menkadi kecoklatan dan daun akan mati secara perlahan. Pada serangan berat pucuk daun serta tunas-tunas baru akan mengeriting menggulung ke dalam dan kadang timbul benjolan.akibanya pertumbuhan tunas akan berhenti dan tanaman akan kerdil. Pengendalian yang harus dilakukan adalah dengan cara pencegahan dari awal penanaman seperti rotasi tanaman, sanitasi lahan dan pemasangan perangkap kertas kuning. Pengendalian dengan insektisida dilakukan dengan cara disemprotkan atau ditabur. Penyemprotan menggunakan insektisida dapat dilakukan yang berbahan aktif abamectin, imidakloprid, dan diafentiuron. Penggunakan insektisida harus sesuai anjuran, dimana tidak dianjurkan menggunakan insektisida secara terus menerus dengan bahan aktif yang sama, tetapi harus di roling dengan bahan aktif lainnya. 2. Apids (kutu daun) Hama ini menyerang dengan cara menghisap cairan tanaman pada daun.serangan kutu daun biasanya terjadi pada awal musim kemarau, yaitu saat udara kering dan suhu tinggi. Hama ini hidup dengan bergrombol yang mampu menutupi bagian tanaman. Gejala yang ditimbulkan dari serangan kutu daun adalah daun akan mengkerut serta pucuk akan mengering dan melingkar sehingga mengganggu pertumbuhan tanaman. Pada serangan berat tanaman akan tertupi lapisan hitam berupa cendawan jelaga. Kutu daun juga bisa sebagai vektor pembawa virus yang dapat menyerang tanaman terutama pada daun. Pengendalian dilakukan dengan penyemprotan insktisida kontak lambung dengan bahan aktif abamectin, imidakloprid, sipermetrin, dan diafentiuron sesuai anjuran kemasan dan digunakan secara berselang seling. 3. Tungau Tungau merah dewasa tergolong cukup rakus menyerang tanaman dengan cara menghisap cairan pada daun muda. Gejala yang ditimbulkan adalah pucuk daun dan tunas muda tumbuh tidak normal yang diikuti perubahan warna hitam kecoklatan yang selanjutnya akan mengerupuk dan mengeriting. Keberadaan tungu ditandai dengan adanya titik yang sangat kecil berwarnah merah, kuning atau keputihan. Pengendalian dilakukan dengan penyemprotan insektisida bahan aktif sipermetrin, abamectin, dan diafentiuron secara berselang seling. 4. Lalat buah Lalat buah biasa menyerang pada cabe jenis besar dan cabe rawit yang bentuknya lebih besar dari yang lainnya. Serangan terjadi pada buah dengan ditandai adanya titik hitam pada buah yang kemudian buah busuk dan rontok, apabila dibuka terdapat larva lalat buah. Serangan bisa terjadi pada buah muda dan tua. Pengendalian dapat dilakukan dengan pemasangan perangkap yang dilengkapi dengan cairan metil eugenol. Pemasangan perangkap sebaiknya dilakukan di luar pertanaman dan jauh sebelum tanaman cabai ditanam. Penyemprotan dengan insektisida berbahan aktif profenofos dapat mengurangi serangan dan menghalau kedatangan lalat buah. B. Penyakit Utama Tanaman Cabai Penyakit pada cabai disebabkan oleh jamur, bakteri dan virus, yang penyerangannya bisa setiap saat. Serangan penyakit oleh jamur akan cepat berkembang pada musim hujan. Beberpa penyakit yang sering dikeluhkan petania anatara lain. 1. Busuk Batang dan Ranting Penyakit ini disebabkan oleh jamur Phytophthora, sp. Yang menyerang pangkal batang, batang , daun dan pucuk ranting. Jamur berkembang dengan cepat pada musim hujan dengan kelembaban lingkungan yang tinggi. Pada batang tanaman ada bercak hitam yang kemudian meluas ke seluruh batang, akibatnya daun dan buah layu kemudian gugur dan tanaman mati. Pada curah hujan tinggi serangan jamur meluas pada pucuk-pucuk ranting dengan ditandai daun dan ranting berwarna hitam kering membusuk dan terlihat spora seperti rambut. Pengendalian dengan mengatur jarak tanam, pemupukan berimbang dan kurangi unsur Nitrogen pada musim hujan, membuang daun tua dibawah cabang utama serta penyemprotan dengan fungisida berbahan aktif mankozeb, propineb, atau difekonazol secara bergiliran. 2. Layu Fusarium Penyakit ini disebabkan oleh cendawan Fusarium dengan gejala daun pada keseluruhan tanaman menjadi layu tetapi masih berwarna hijau pucat. Bila tanaman sedang berbuah, buahnya tidak lagi tumbuh sehat dan lama kelamaan buahnya gugur. Serangan layu fusarium akan meningkat pada musim hujan dan lingkungan yang lembab. Pengendalian dilakukan apabila ada tanaman yang terserang segera lakukan pencabutan dan dimusnahkan atau dibakar, supaya tidak menular ke tanaman lainnya. Lubang bekas tanaman dilakukan pengocoran dengan fungisida. Serta lakukan penyemprotan fungisida kontak dan sistemik secara berselang-seling. 3. Penyakit Antraknose Penyakit ini disebut juga dengan penyakit kering buah atau patekyang disebabkan oleh cendawan Colletotrichum capsici, Gloeosporium piperatum. Penyakit ini menyerang bagian buah dengan ditandai adanya bercak hitam di tengah buah, kemudian meluas keseluruh buah yang akhirnya buah mengering. Serangan penyakit ini meningkat saat curah jujan meningkat dan akan menurun saat memasuki musim kemarau. Pengendalian dilakukan dengan penyemprotan fungisida sedini mungkin satu minggu sekali dengan bahan aktif mankozeb, propineb atau difekonazol yang dilakukan secara bergiliran dan sesuai anjuran. Untuk mengurangi penyebaran lakukan pembuangan daun tua dan tunas air serta pemberian kalsium untuk mengurangi kadar keasaman. 4. Penyakit Bercak Daun Penyakit ini disebabkan oleh cendawan Cercospora capsici, dengan gejala serangan pada daun terdapat bercak bulat berwarna pucat, pada tangkai buah terdapat bercak melingkar berwarna putih kecoklatan. Serangan akan semakin banyak pada curah hujan yang tinggi yang menyebabkan daun mengguning dan rontok. Pengendalian dilakukan dengan pemupukan berimbang, pengaturan jarak tanam dan pembuangan daun di bawah cabang utama. Penyemprotan dengan fungisida bahan aktif Mancozeb, propineb dapat dilakukan untuk mencegah mengurangi penularan lebih banyak. 5. Virus Kuning Penyakit ini disebabkan oleh virus gemini yang dibawah oleh vektor kutu kebul (Bemisia tabci) dengan gejala yang ditimbulkan vein clearing yang berkembang menjadi warna kuning yang jelas, penebalan tulang daun dan penggulungan daun. Infeksi lebih lanjut menyebabkan daun mengecil dan berwarna kuning terang serta tanaman menjadi kerdil. Pengendalian dilakukan sedini mungkin pada fase vegetatif dengan insktisida untuk membunuh vektornya. Jika ada tanaman ada yang sudah terserang, maka dicabut dan dimusnahkan. Referensi : disarikan dari berbagai sumber Penulis: Sugito, SP