Teknologi Salibu merupakan teknologi budidaya padi yang spesifik lokasi berbasisi kearifan lokal. Padi Salibu merupakan tanaman padi yang tumbuh kembali setelah batang sisa panen dipotong (anakan), tunas akan muncul dari sisa batang yang mana tunas baru akan mengeluarkan akar baru hingga suplai unsur hara tidak tergantung lagi pada batang yang lama dan produktivitasnya pun dapat menghasilkan produksi yang sama bahkan bisa lebih dibandingkan tanaman pertama (inangnya). Adapun Tanaman padi sistem salibu ini dapat dilakukan dengan sistem tanam jajar legowo (tipe 2 : 1 atau 4 : 1) dengan menggunakan varietas padi unggul yang memiliki potensi ratun tinggi yaitu Hibrida (Rokan Maro, Hipa-4, Hipa-5, Ceva) sedangkan Ibrida (Inpari 19, 23, 24, 25 dan 32, Batang Piaman). Adapun tahapan yang dapat dilakukan dalam budidaya tanaman padi salibu seperti biasanya dilakukan persiapan lahan, namun dalam persiapan lahan dilakukan perlakuan khusus pada lahan digenangi air 1 (satu) s.d 2 (dua) hari lalu setelah itu airnya dikeluarkan sampai lahan menjadi lembab. Pada tanaman padi salibu dilaksanakan pengolahan, persemaian dan tanam hanya dilakukan pada tanaman utama, ketiga kegiatan ini diganti dengan pemotongan ulang tunggul sisa panen dan selanjutnya dibiarkan selama 7 s.d 10 hari hingga keluar tunas + kisaran 70 – 100%, tetapi apabila tunas tumbuh kurang dari 70% dari jumlah populasi tanaman maka tidak sisaran untuk dilakukan budidaya salibu. Setelah tunas salibu keluar maka lakukan pengairan hingga ketinggian 2 – 5 cm dari permukaan tanah atau tunas yang keluar tidak tenggelam. Untuk selanjutnya dilakukan penyulaman dengan memecah (membagi dua) tunas kemudian dipecah antara 2 – 3 anakan, lalu disulamkan ke lokasi tanaman yang tidak tumbuh, agar tanaman dapat tumbuh dengan baik maka dilakukan pemupukan dengan menggunakan pupuk kandang dengan perbandingan 2 ton/ha yang diberikab 1 (satu) hari setelah pemotongan ulang tanaman padi sedangkan penggunaan N, P dan K seperti biasa pada tanaman padi. Untuk pengendalian hama dan penyakit terpadu pada tanaman padi salibu dapat dilakukan dengan cara pengendalian OPT yang didasari pada ekologi efisiensi dan ekonomis. Pengendalian gulma dapat dilakukan dengan menggunakan gasrok atau cangkul kecil, hal ini berfungsi untuk menggemburkan tanah. Pada saat pemanenan dapat dilakukan pada saat gabah padi menguning (95%), pada saat pemanenan tanaman dilakukan dengan menggunakan sabit atau trheser dan tanaman disisakan 25 cm dari permukaan tanah agar tanaman dapat tumbuh tunas kembali. Ada 3 (tiga) fase penting yang mendukung keberhasilan budidaya padi teknologi salibu yaitu : Tanaman induk (MT-1), ditanam sistem jajar legowo, panen dilakukan lebih awal awal 1 (satu) minggu dan tanah dilembabkan Awal salibu (MT-2), lahan dibebaskan dari gulma Pemeliharaan meliputi, penjarangan, penyisipan, pemupukan, penyiangan dan pembenaman jerami sisa pemotongan batang. (BPPsitinjaulaut ... admin_kerinci) Penulis : Lily Rokhmadiani, S.TP/Penyuluh Pertanian Muda