I. PENDAHULUAN Kacang tanah (Arachis hypogeae L) memiliki peran dalam pemenuhan pangan, industri, meningkatkan pendapatan petani dan perbaikan gizi masyarakat. Oleh karena itu permintaan akan komoditas kacang tanah semakin meningkat, namun produksi kacang tanah nasional belum dapat memenuhi kebutuhan tersebut. Salah satu upaya pencapaian peningkatan produksi kacang tanah adalah penanganan pascapanen yang tepat dan benar, sehingga dapat mengurangi tingkat susut hasil dan mempertahankan mutu kacang tanah. II. PENANGANAN PASCAPANEN KACANG TANAH Penanganan pascapanen kacang tanah meliputi beberapa tahapan kegiatan panen, perontokan, pengeringan, pengupasan kulit polong, sortasi dan penyimpanan kacang tanah. 1. PENENTUAN SAAT PANEN Pemanenan kacang tanah yang tepat (umur fisiologis dan panen maksimal) akan menghasilkan jumlah dan mutu produksi yang cukup tinggi. Beberapa cara dalam penentuan saat panen antara lain : a. Pengamatan visual Dilakukan dengan melihat tampilan fisik tanaman kacang tanah. Berdasarkan tampilan secara visual, umur panen optimum dicapai apabila sebagian daun menguning dan rontok serta batang mulai mengeras. b. Pengamatan Teoritis Rata-rata umur panen kacang tanah adalah 80 “ 110 hari tergantung musim tanam dan varietas, sedangkan kadar air sekitar 28-34 % pada musim penghujan dan kadar air sekitar 20-24 % pada musim kemarau c. Kondisi Visual Polong yang sudah siap panen kulit polongnya keras dan berisi penuh, berwarna coklat dan jika ditekan kulit polong mudah pecah. Kondisi visual polong dapat di lihat secara langsung dengan mencabut 1-2 rumpun tanaman. 2. PANEN Panen kacang tanah biasanya dilakukan secara manual dengan mencabut batang tanaman secara hati-hati. Pada umumnya saat menjelang panen curah hujan sudah berkurang sehingga tanah menjadi kering. Untuk mengatasi polong tertinggal dalam tanah maka sebelum panen, perlu dilakukan pengairan 2-3 hari agar tanah menjadi gembur. 3. PERONTOKAN Perontokan bertujuan melepas polong kacang tanah dari brangkasan. Perontokan polong kacang tanah dilakukan pada kadar air sekitar 20 %, dilakukan langsung setelah panen, atau dilakukan setelah penjemuran brangkasan dilahan. Brangkasan kacang tanah hasil panen dengan kadar air 28 - 34% dijemur selama 3-5 hari. Perontokan kacang tanah dapat dilakukan dengan tangan atau secara mekanis dengan mesin perontok. Perontokan secara manual membutuhkan waktu yang relatif lama dan tenaga kerja yang cukup banyak serta kotoran yang tertinggal masih tinggi. Apabila menggunakan mesin perontok hasil perontokan bersih dari tanah, daun dan kotoran lainnya karena alat ini telah dilengkapi dengan unit sortasi. 4. PENGERINGAN Pengeringan kacang tanah bertujuan mengurangi kandungan air dalam biji. Pengeringan mutlak dilakukan, penundaan lebih dari 48 jam menyebabkan polong mudah terinfeksi jamur Aspergillus flavus. Pengeringan kacang tanah dilakukan secara alami dengan penjemuran. a. Pengeringan brangkasan Brangkasan kacang tanah dihamparkan di lantai jemur atau di atas tanah selama 3 “ 5 hari. Pemanenan kacang tanah yang dilakukan pada kadar air rendah proses penjemuran brangkasan berlangsung lebih cepat sekitar 4-6 jam. b. Pengeringan polong kacang tanah Kacang tanah hasil perontokan masih perlu dikeringkan sampai kadar air 9 “ 11 %. Polong dijemur dengan tebal hamparan 3 “ 5 cm. Dalam waktu 7 “ 10 hari cerah kadar air bisa menurun menjadi ± 10%. Selama pengeringan polong dibolak balik agar tingkat kekeringan merata 5. PENGUPASAN KULIT Pada umumnya proses pengupasan kulit dilakukan pada saat biji akan diolah, karena penyimpanan dalam bentuk polong lebih menguntungkan Pengupasan kulit kacang tanah dilakukan bila kadar air polong ± 9%. Pengupasan kulit kacang dapat dilakukan secara manual dengan tangan atau secara mekanis dengan mesin 6. PENYORTIRAN Biji rusak akibat luka, biji gepeng, atau terlalu kecil dapat disingkirkan. Biji yang berukuran kecil umumnya berasal dari bagian batang yang tingkat perkembangan dan kematangannya kurang sempurna. Penyortiran dapat dilakukan secara manual dengan tangan dan secara mekanis dengan mesin sortasi 7. PENYIMPANAN Penyimpanan kacang tanah dapat dilakukan dengan cara: a Penyimpanan polong kering Polong kering dimasukkan kedalam karung goni atau kaleng tertutup rapat, lalu simpan di gudang penyimpanan b. Penyimpanan biji Polong kacang tanah kering yang telah dikupas dijemur hingga kadar air 7-8 %, masukkan ke dalam kaleng atau drum dan simpan di gudang penyimpanan III. PENGENDALIAN AFLATOKSIN Infeksi jamur Aspergillus flavus dan Aspergillus parasiticus dapat menyebabkan penyakit "Gapong" pada kacang tanah. Jamur ini menghasilkan aflatoksin, yang dapat menyebabkan kanker hati. Kacang tanah yang terserang jamur ini akan terasa pahit bila dimakan. Penanganan pascapanen yang tidak baik, mengakibatkan polong maupun biji yang terkontaminasi makin banyak terutama pada polong yang terlalu masak. Biji yang telah terinfeksi akan terlihat perubahan warna dan berat biji akan berkurang dibandingkan dengan biji sehat Untuk mencegah kontaminasi aflatoksin dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut : a. Melakukan pengairan secukupnya terutama selama empat minggu menjelang panen. b. Melakukan pengeringan kacang tanah segera setelah dipanen (tidak lebih dari 48 jam) hingga kadar air biji c. Melakukan perontokan kacang tanah dan pengupasan biji dengan cermat agar tidak melukai polong dan biji. d. Melakukan sortasi dengan membuang biji jelek, rusak dan terkena penyakit. e. Simpan kacang tanah dengan karung dalam ruangan yang sejuk, kering dan bersih. Sumber: Buku Pascapanen Kacang Tanah, Dit Pascapanen Tanaman Pangan Penulis : Betty Mailina, Tri Kusnanto, Ely Novrianty