PEKARANGAN RUMAH” merupakan suatu hal yang tidak bisa terpisahkan dari hidup kita. Bagi sebagian orang pekarangan rumah mungkin bukanlah sesuatu hal yang harus di pusingkan, namun tanpa kita sadari pekarangan rumah mempunyai banyak manfaat buat keluarga terutama dalam pemenuhan gizi keluarga. Hal lain yang bisa dimanfaatkan adalah limbah rumah tangga yang sangat berperan dalam proses budidaya yang berdampak pada kelestarian lingkungan yang mungkin sebelumnya hanya terbuang begitu saja, misalnya sampah rumah tangga dan air cucian beras. Dampak pada pasar memang besar jika hal ini dilakukan dalam skala luas. Harapan kita, masyarakat/petani yang memanfaatkan pekarangannya akan mengurangi pengeluaran tiap hari dan bisa menkonsumsi sayuran yang sehat. Dampak yang diharapkan dari pengelolaan pekarangan ini adalah Rumah tangga bisa memproduksi dan mengkonsumsi sendiri produk pertaniannya. Sangat efektif dan efisien. Selain itu, kualitas hasil pekarangan sendiri bisa dikendalikan dengan memperhatikan faktor kesehatan. Dengan demikian kesehatan masyarakat akan meningkat. Pemanfaatan Pekarangan yang Baik Dapat Mendatangkan Berbagai Manfaat Pemanfaatan pekarangan yang baik dapat mendatangkan berbagai manfaat antara lain: a). Gizi Keluarga dapat terpenuhi: misalnya ternak dan ikan yang dapat dipelihara di pekarangan dan menghasilkan makanan yang dibutuhkan keluarga,sayur-sayuran dan umbi-umbian sebagai sumber vitamin, sedangkan ternak dan ikan sebagai sumber protein dan lemak, b). Hasil dari usaha pekarangan sendiri dapat diambil sewaktu-waktu dan tidak ada musim pacekliknya, c). Dapat dijadikan sebagai tempat pendidikan untuk bertanam sayur-sayuran bagi anggota keluarga, d). Terciptanya apotik hidup: pekarangan dapat ditanami berbagai tanaman obat yang berkhasiat, jika anggota keluarga sewaktu-waktu sakit dapat ditanggulangi sementara dengan obat yang ada di pekarangan, e). Menambah penghasilan : pekarangan yang dikelola dengan baik, hasilnya dapat dijual sebagai sumber pendapatan keluarga karena banyak jenis tanaman yang tidak membutuhkan lahan yang luas untuk membudidayakannya, f). Sebagai tempat rekreasi keluarga : pekarangan yang ditata dan dirawat secara teratur akan memberikan keindahan dan rasa tentram bagi orang yang melihatnya, g). Sebagai plasma nutfah dan ragam jenis biologi, h). Adanya tempat resapan air hujan dan air limbah keluarga didalam tanah. Potensi Pengembangan Komoditi yang diusahakan dipekarangan sebaiknya disesuaikan dengan kesesuaian komoditi dengan daerah yang bersangkutan, peluang pasar, dan nilai guna meliputi: 1). Tanaman pangan misalnya umbi-umbian, kacang-kacangan, sayuran, buah-buahan, bumbu-bumbuan, obat, 2). Tanaman bernilai ekonomi tinggi misalnya tanaman buah-buahan, sayuran, tanaman hias (bunga potong, tanaman pot, tanaman taman, anggrek), 3).Ternak: ternak unggas hias, ternak petelur, ternak pedaging, 4). Ikan: ikan hias, ikan produksi daging, pembenihan dll. Penataan Pekarangan Pekarangan merupakan lahan di sekitar rumah, karena itu pemanfaatan pekarangan bukan hanya mempertimbangkan hasil, tapi juga perlu mempertimbangkan aspek keindahan. Sebagai acuan, penataan pekarangan dapat dilakukan misalnya: Halaman depan: tanaman hias, pohon buah, tempat bermain anak, bangku taman, tempat menjemur hasil pertanian. Halaman samping: tempat jemur pakaian, pohon penghasil kayu bakar, bedeng tanaman pangan, tanaman obat, kolam ikan, sumur dan kamar mandi. Halaman belakang: bedeng tanaman sayuran, tanaman bumbu, kandang ternak, tanaman industry. Teknis pemanfaatan lahan pekarangan bisa dilakukan dengan pemanfaatan barang bekas seperti paralon bekas, kaleng bekas, bambu dll sebagai tempat media tanam ataupun pengganti pot. Untuk media tanam bisa dari tanah pekarangan yang ditambahkan kompos dari limbah dapur ataupun pupuk cairnya. Pola Tanam Vertikultur (Tanam Bersusun) Pola tanam vertikal merupakan usaha pertanian dengan memanfaatkan lahan semaksimal mungkin dengan memanfaatkan potensi ketinggian, sehingga tanaman yang diusahakan per satuan luas lebih banyak. Pola ini selain menghemat tempat juga hemat dalam penggunaan pupuk dan air. Media tanam dapat menggunakan media campuran tanah, pupuk kandang dan pasir/sekam dengan perbandingan 1:1:1 yang ditempatkan pada bak-bak tanaman (paralon, bambu, pot dan polibag) yang diatur bersusun ke atas. Tanaman yang menginginkan keteduhan diletakan paling bawah dan yang lebih suka panas diletakkan di atas. Tabulampot Tabulapot adalah menanam tanaman buah-buahan (bisa tanaman lainnya: bunga) di dalam pot. Media tanam harus mampu menopang tanaman, dapat menyediakan hara, air dan aerasi yang baik (sama dengan untuk pola tanam vertikal). Pot yang kurang baik, akan menghasilkan tata udara yang kurang baik sehingga kurang menguntungkan untuk perkembangan akar. Daur Ulang di Pekarangan Usahatani di pekarangan dapat dilakukan dengan biaya yang lebih murah karena limbah yang dihasilkan baik limbah dipekarangan maupun limbah rumah tangga dapat di daur ulang untuk kepentingan usahatani berikutnya seperti a). Sampah pekarangan dan sampah rumah tangga dapat dikomposkan dengan membuat lubang sampah atau bak-bak pengomposan, b). Selain untuk pupuk, sampah organik dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak dan ikan, 3). Pupuk kandang dan endapan lumpur dari kolam digunakan untuk pupuk bagi tanaman. Budidaya Organik Budidaya tanaman di pekarangan sebaiknya dilakukan secara organik atau sesedikit mungkin menggunakan bahan kimia. melalui upaya tersebut bahan pangan yang dihasilkan lebih sehat. Bahan organik yang dapat digunakan berasal dari sisa tanaman, limbah ternak, libah rumah tangga atau lumpur endapan kolam ikan. Sedangkan Proses pengomposan dapat dipercepat dengan menggunakan biodekomposer yang banyak dijual di pasaran ( EM4, STARDEC, BIODEC, dan lain-lain) Pemanfaatan Pekarangan Pola KRPL Pola Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) merupakan aktualisasi pemanfaatan lahan pekarangan secara optimal dengan maksimalisasi produktivitas lahan lain yang ada di lingkungannya untuk pengembangan ketersediaan pangan yang beranekaragam tiap rumah tangga dalam suatu wilayah desa/ dusun/ kampong. Konsep KRPL yang ditumbuh kembangkan mempunyai pengertian sebagai kawasan/ wilayah yang dibangun dari beberapa Rumah Pangan Lestari, yakni unit – unit rumah tangga yang menerapkan prinsip pemanfaatan pekarangan secara optimal yang ramah lingkungan dan ditopang pula oleh maksimalisasi produktivitas lahan di luar pekarangan di dalam kawasan untuk pemenuhan kebutuhan pangan dan gizi keluarga, serta meningkatkan pendapatan dan kesejahteraannya berbasis partisipatif aktif dan kolektifitas/ terintegrasi dalam masyarakatnya. Pada hakekatnya KRPL ini merupakan suatu gerakan sekelompok masyarakat yang mandiri untuk meningkatkan kapasitas kemandirian pangannya (aspek ketersediaan, akses, dan keaneka ragaman pangan) secara bersama/ terintegrasi/ kolektifitas melalui pemanfaatan lahan pekarangan dan sekitarnya secara optimal. Oleh karena itu untuk mewujudkan suatu KRPL di suatu daerah/ wilayah (dalam satuan desa/ dusun/ kampung) selain diperlukan sentuhan terhadap aspek teknis produksi dan ekonomi melainkan juga yang tidak kalah urgensinya adalah adanya sentuhan perekayaan sosial yang berkaitan dengan perubahan perilaku dan peningkatan kapasitas SDM masyarakatnya untuk aplikasi inovasi teknologi pertanian unggul mendukung RPL yang sehat dan bergizi. Strategi implementasi KRPL, khususnya dalam aspek pembinaan, maka rumah tangga/ KK sasaran dalam kawasan dikelompokkan menjadi beberapa strata berdasarkan luasan lahan yang dimiliki: a). kategori Strata 1 : Luas pekarangan kurang dari 100 meter bujur sangkar atau rumah tanpa pekarangan (hanya teras rumah) dapat dilakukan dengan teknik budidaya menggunakan Pot, polibag atau vertikultur, kolam dengan menggunakan tong. komoditas Sayuran yang ditanam misalnya Cabai, Terong, Tomat, Sawi, kenikir, bayam, Kangkung dsb. Tanaman obat keluarga (toga) seperti jahe, kencur, sirih sedangkan Ikan air tawar seperti ikan lele, ikan Nila, ikan gurami dsb. b.) kategori Strata 2 : Luas pekarangan 100 sampai 300 meter bujur sangkar (kategori sedang) dapat dilakukan dengan teknik budidaya menggunakan Pot, polibag, bedengan/sorjan disisi batas pekarangan, kandang ayam sistim ren dan kolam ikan terpal. komoditas Sayuran yang dapat ditanam seperti Cabai, Terong, Tomat, Sawi, Kenikir, Bayam, Kangkung dsb. Tanaman obat keluarga (toga) seperti jahe, kencur, sirih sedangkan Ikan air tawar seperti ikan lele, ikan Nila, ikan gurami. Umbi-umbian seperti Ubi jalar, ubi kayu,Talas, garut dan lainnya yang mempunyai pangsa pasar dan subtitusi sumber karbodhidrat dan ternak seperti ayam buras. c) Kategori Strata 3 Luas pekarangan diatas 300 meter bujur sangkar (kategori luas) ) dapat dilakukan dengan teknik budidaya menggunakan Pot, polibag, vertikultur, bedengan/ sorjan disisi batas pekarangan, hamparan, kandang ayam sistim ren, kandang kambing dan kolam terpal/tanah dengan komoditas sayuran, tanaman obat keluarga (toga), umbi-umbian, sesuai dengan tanaman yang diinginkan atau yg mempunyai pangsa pasar dan dapat menjadi subtitusi sumber karbohidrat. Ternak yang dapat dibudidayakan berupa ayam buras. Ikan air tawar: ikan lele, Nila Buah-buahan: Nenas, pisang, jeruk manis, mangga unggulan, pepaya, sawo dsb, dan tanaman pagar hidup yang dapat dijadikan sebagi pakan ternak. Harapan kita, tiap Rumah tangga bisa memanfaatkan pekarangan sesuai potensinya secara optimal. Dengan mengoftimalkan pemanfaatan Pekarangan melalui pendekatan terpadu berbagai jenis tanaman, ternak dan ikan, akan menjamin ketersediaan bahan pangan yang beranekaragam secara terus menerus, guna pemenuhan gizi keluarga dan dapat memberikan sumbangan pendapatan bagi keluarga, sehingga dengan memanfaatkan pekarangan kita maka keluarga kita akan sejahtera. Penyusun : Religius Heryanto (Penyuluh BSIP Sulawesi Barat) Sumber Informasi : BPTP Sulawesi Barat