Di Indonesia,setiap tahunnya lebih dari 165 juta ton bahan organik dihasilkan dari limbah panen tanaman pangan dan hortikultura, namun potensi tersebut pada umumnya belum terkelola dengan baik. Dilain pihak, kandungan bahan organik dalam tanahpertanian ssat ini rendah, rata-rata kurang dari 2 % (Pirngadi, 2009). Umumnya bahan organik yang dihasilkan dari limbah pertanian dialihkan oleh petani untuk berbagai penggunaan lain yang seyogyanya dikembalikan ke tanah sebagai pupuk organik. Tanaman seperti halnya mahluk hidup memerlukan makanan/hara untuk hidup dan berkembang biak. Tanaman memperoleh makanan terutama dari cadangan mineral yang ada di dalam tanah yang terkandung dalam bahan organik, limbah organik, bakteri penambat nitrogen, endapan melalui udara, dll. Unsur hara diperoleh tanaman dari tanah diubah menjadi karbohidrat melalui proses fotosintesa tumbuhan/tanaman. Ketersediaan makanan tumbuhan dipengaruhi oleh kesuburan tanah. Kesuburan tanah merupakan kemampuan tanah menyediakan hara dalam jumlah cukup untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangbiakan. Definisi ini seringkali dipahami terlalu sempit dengan hanya mempertimbangkan sifat kimia/kesuburan tanah yang hanya menyangkut jumlah dan ketersediaan unsur hara yang dikandung tanah. Konsep kesuburan tanah sebenarnya jauh lebih luas. Aspek keseuburan adalah sifat fisik tanah, kerapatan lindak tanah, kedalam perakaran, struktur dan porositas tanah/kerenggangan tanah/kemampuan meresapkan air. Untuk mendapatkan kesuburan tanah diperlukan penambahan bahan-bahan yang mengandung unsur hara. Unsur hara organik dapat diperoleh dari sisa hasil panen, bahan yang berasal dari luar usaha, bisa juga berasal dari tanaman kacang-kacangan, dll. Salah satu langkah untuk mengmbalikan kesuburan tanah Usaha pertanian organik seringkali dilakukan dengan mengembalikan sisa hasil panen ke sawah, namun daur limbah pertanaman ini tidak cukup untuk menggantikan keseluruhan unsur hara yang hilang. Perbaikan kesuburan tanah dapat diusahakan dengan membuat pupuk organik sendiri, salah satunya adalah pupuk organik cair atau kalau di Prigen lebih dikenal dengan nama BOSICA (Bokashi Cair) Pupuk organik cair berfungsi sebagai perangsang tumbuh. Terutama saat tanaman mulai bertunas atau saat perubahan dari fase vegetatif ke generatif untuk merangsang pertumbuhan buah dan biji. Daun dan batang bisa menyerap secara langsung pupuk yang diberikan melalui stomata atau pori-pori yang ada pada permukaannya. BAHAN PEMBUATAN BOKASHI CAIR : 1. Urine Sapi/Kelinci : 1 Liter2. Tetes tebu/Molasis : 200 ml3. EM 4 : 100 ml4. Air Leri : 5 liter5. Sisa buah/sayur : 1 kg6. Kotoran sapi/ayam : 1 kg CARA PEMBUATAN :¢ Dekomposer dan Molasis dilarutkan dalam air lalu masukkan dalam jurigen yang berisi urine sapi¢ Rajang sisa buah/sayur lalu masukkan kedalam jurigen.¢ Tambahkan urine sapi, kotoran ayan/sapid an air leri lalu aduk rata¢ Tutup rapat jurigen¢ Beri selang yang dihubungkan dengan botol plastic untuk pembuangan gas ¢ Aduk rata lalu tutup dengan rapat¢ Tunggu hingga 7-10 hari. Untuk mengecek tingkat kematangan, buka penutup jurigen cium bau adonan. Apabila wanginya seperti wangi tape, adonan sudah matang.¢ Pisahkan antara cairan dengan ampasnya dengan cara menyaringnya. Gunakan saringan kain. Ampas adonan bisa digunakan sebagai pupuk organik padat.¢ Masukkan cairan yang telah melewati penyaringan pada botol plastik atau kaca, tutup rapat. Pupuk bokashi cair telah jadi dan siap digunakan. Apabila dikemas baik, pupuk bisa digunakan sampai 6 bulan.DOSIS PEMAKAIAN: ¢ 250 ml per tanki ( 15 Liter ) APLIKASI : ¢ Untuk semua jenis tanaman ¢ Disemprotkan pada pagi (jam 8-9 ) dan sore hari ( jam 4-5 ) ANALISA USAHA : 1.Biaya Produksi :- Urine sapi : Rp. 5 000- Molasis : Rp. 500- EM 4 : Rp. 2..000- Biaya tenaga kerja : Rp. 5.000- Biaya lain-lain : Rp 5.000 Total biaya produksi : Rp. 17.500 2.Penerimaan Produksi 5 liter @ Rp. 10.000 : Rp. 50.000 3.Pendapatan Penerimaan “ biaya produksi : Rp. 32.500 Pemanfaatan BOSICA merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kemandirian petani karena dalam pembuatan dan pengaplikasiannya murah dan mudah dilaksanakan oleh petani dengan memanfaatkan sumberdaya yang ada di sekitarnya (kearifan lokal). Semoga tulisan ini bermanfaat bagi penulis dan yang membaca