Kebutuhan kedelai Nasional meningkat setiap tahunnya, seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk serta berkembangnya industri pangan berbahan baku kedelai dan industri pakan ternak. Rata-rata kebutuhan kedelai setiap tahunnya sebesar ± 2,2 juta ton biji kering, belum dibarengi dengan kemampuan produksi kedelai di dalam negeri. Diperlukan kerja keras dan dukungan instansi terkait guna mencapai produksi kedelai tahun 2015 sebesar 1.500.000 ton. Untuk itu diperlukan strategi peningkatan produksi kedelai untuk pemenuhan kebutuhan kedelai dalam negeri tahun 2015 yang akan dilakukan melalui peningkatan produktivitas dan perluasan areal tanam. Peluang peningkatan produksi dalam negeri masih cukup luas, dengan di dukung iklim yang sesuai, ketersediaan teknologi tepat guna, besarnya permintaan dalam negeri serta dukungan program Pemerintah. Pengamanan produksi dimaksudkan untuk mengurangi dampak perubahan iklim seperti kabanjiran dan kekeringan serta pengendalian Organisme Penganggu Tumbuhan (OPT) dengan menggunakan agens hayati dan pengamanan kualitas produksi serta mengurangi kehilangan hasil pada saat penanganan panen dan pasca panen yang masih cukup besar. Prinsip Dasar Pembuatan Agen Hayati : Perbanyakan massal agens pengendali hayati yang sering dilakukan di tingkat petani adalah 1. Perbanyakan agens pengendali hayati dari jenis jamur/cendawan Perbanyakan massal agens pengendali hayati dari jenis jamur/cendawan baik itu patogen serangga atau agens antagonis dapat dilakukan dengan media beras atau jagung. Cara pembuatannya adalah beras atau jagung direndam selama 12 jam, kemudian dicuci bersih. Beras dikeringanginkan dengan cara diletakkan di atas kertas Koran. Apabila beras dipegang tidak lengket, artinya proseskeringangin sudah selesai. Kemudian beras dikemas dalam plastik tahan panas (berat 1 ons/plastik). Beras disterilisasi menggunakan autoklaf. APabila tidak ada autoklaf, dapat menggunakan dandang dengan cara dikukus selama 2 jam setelah mendidih. Jadilah media beras atau jagung siap diinokulasi. Semua proses inokulasi dilakukan pada kondisi aseptis. Siapkan starter atau biang. Buka plastik pembungkus media padat yang telah disterilisasi. Masukkan biang sebanyak kurang lebih 1 sendok ke dalam media tadi. Tutup rapat media dengan cara melipat plastik membentuk segitiga kemudian distaples. Inkubasikan selama 7 hari di ruangan dengan suhu 26-30º C dan tidak terkena sinar matahari langsung. 2. Perbanyakan agens pengendali hayati dari jenis bakteri Perbanyakan massal agens pengendali hayati dari jenis bakteri dapat dilakukan dengan media Ekstrak Kentang Gula (EKG). Bahan yang diperlukan dalam pembuatan EKG adalah kentang (300 gram), gula pasir (15 gram) dan air sebanyak 1 liter. Bahan lain adalah PK untuk sterilan dengan dosis 0,2 gram/liter air, aerator, botol, selang, glass woll dan isolate bakteri 1 tabung reaksi. Semua peralatan disusun secara parallel, dengan menggunakan asupan udara (O2) yang realatif steril. Larutan kentang gula dan isolate bakteri difermentasikan selama 10 hari, sehingga populasi koloni bakteri antagonis tersebut minimal 10 cfu/ml, dengan indicator keberhasilan secara kualitas berdasarkan bau, bila bau busuk indicator perbanyakan massal gagal banyak terjadi kontaminasi, sedangkan apabila berbau harum seperti tape indikator perbanyakan telah berhasil. Salah satu faktor pengganggu pertumbuhan tanaman kedelai adalah penyakit tanaman. Langkah pertama untuk mengatasi hal tersebut adalah menentukan atau faktor yang mengganggu pertumbuhan tanaman kedelai tersebut. Penyakit tanaman kedelai dapat muncul mulai dari persemaian, stadia vegetatif, stadia generatif, pemasakan, panen dan paska panen. Siklus penyakit monosiklik atau polisiklik menentukan interval waktu yang tepat. Pengamatan kejadian penyakit di lapang diperlukan untuk pertimbangan tindakan pengendalian. Konsep Segitiga penyakit (triangle disease) menjelaskan timbulnya penyakit pada tanaman merupakan hasil interaksi tiga (3) faktor yaitu Tanaman (inang) – Penyebab penyakit (Patogen) – Lingkungan. Tanaman yang peka yang diinfeksi oleh patogen yang virulen dan kondisi lingkungan (suhu, kelembaban, angin, hujan dll) yang mendukung terjadinya tanaman sakit. Di alam bebas seperti halnya belantara dengan berbagai jenis tumbuhan dengan tingkat keragaman genetik yang tinggi umumnya terjadi keseimbangan. Pada sistem pertanian modern, peran manusia melalui teknologi budidayanya yang lebih menyeragamkan genetik tanaman dan memanipulasi lingkungan sering mengakibatkan terjadinya ledakan penyakit. Peran manusia merubah konsep segitiga penyakit menjadi Piramida penyakit. Aplikasi Agens Hayati Pemanfaatan agens pengendali hayati untuk pengendalian OPT Pangan. Aplikasi agens pengendali hayati patogen serangga di lapangan dilakukan pada sore hari setelah pukul 15.00 untuk menghindari terik sinar matahari, hal ini dimaksudkan karena spora dari agens pengendali hayati tidak tahan terhadap sinar UV. Penyemprotan dilakukan terhadap serangga sasaran. Dengan dosis 100 gram/tangki. Aplikasi patogen serangga dilakukan pada saat serangga dibawah ambang kendali, dan merupakan tindakan preemtif di lapangan. Dari hasil kajian tahun 2012, Beauveria bassiana memiliki tingkat mortalitas sebesar 92 % untuk pengendalian Kepik Hitam pada skala laboratorium. Dan pada kajian 2015, pengendalian WBC skala luas di Subang dapat menurunkan populasi WBC sebesar 90 persen dan menurunkan frekuensi penggunaan pestisida sebanyak 8 kali. Menurut penelitian Azis, A (2013) di laboratorium BBPOPT bahwa Metharizium sp memiliki tingkat mortalitas sebesar 72,4% pada Aphis glicynes pada kedelai. Kajian tentang efektifitas Paenibacillus polymyxa yang dilakukan di beberapa daerah endemis di jatisari, Cianjur dan Surakarta,aplikasi Paenibacillus polymyxa dapat menekan intensitas penyakit HDB sebesar 80-90 % dengan dosis 5 cc/liter dan waktu aplikasi yaitu perendaman benih, aplikasi pada persemaian, 14 HST, 28 HST dan 42 HST. Pemanfaatan Paenibacillus polymyxa dalam pengendalian penyakit blas di Lampung pada tahun 2011, mampu menekan intensitas penyakit blas sebesar 50 %, dengan waktu aplikasi yaitu perendaman benih, aplikasi pada persemaian, 14 HST, 28 HST dan 42 HST. Aplikasi Paenibacillus polymyxa pada sore hari setelah pukul 15.00 untuk menghindari terik sinar matahari. Penulis : Isna Noviana, SP, M.Si (Penyuluh Pertanian Kabupaten Bone)