Saat ini, petani kakao di sentra-sentra penghasil kakao bisa mengembangkan bisnis baru yang menghasilkan tambahan penghasilan riil yang lumayan untuk menopang pendapatan mereka yang menurun akibat berkurangnya produktifitas tanaman kakao mereka. Bisnis yang bisa mereka kembangkan adalah jual beli kulit kakao dan memproduksi kompos yang bisa digunakan untuk menyuburkan tanaman kakao tersebut. Kompos merupakan bisnis yang menguntungkan bagi petani kakao karena dengan menggunakan kompos biaya pemupukan lahan bisa menurun hingga 50 persen lebih rendah dibandingkan pemupukan dengan pupuk kimia. Atas dasar itu, permintaan kompos bisa sangat tinggi di masa depan. Meskipun dihasilkan oleh petani dan digunakan oleh petani kakao lain, kompos masih menjanjikan sebagai sebuah peluang usaha karena tidak semua petani kakao yang rajin membuat kompos sendiri. "Lama kelamaan pupuk kimia bisa saja ditinggalkan karena harga pupuk kimia, seperti urea, SP36, KCL, dan NPK sudah sangat tinggi/ contohnya seorang petani bisa menghasilkan kompos yang dihasilkan dari biji kakao sebanyak 40 ton dalam dua bulan. Harga jual kompos ditingkat petani mencapai Rp 500 per kilogram. Proses pembuatan limbah kakao, (1). Limbah kakao dipotong-potong hingga homogen berukuran lebih kurang 2 cm, (2). campurkan potongan limbah kakao dengan Trichodhermasp. Dan Cytophagasp., sebanyak 1,25% (v/v)., kemudian diaduk dengan limbah kulit buah kakaosebanyak 100 kg sampai merata, (3) Inkubasikan selama satu bulan atau sampai kandungan C/N antara 10 “ 20, atau kompos sudah terlihat berjamur dan kering dan tidak berbau. Inkubasi terjadi pada cetakan papan yang dilapisi kain terpal, (4) Selama masa inkubasi, suhu harus di atas 70 C. Lokasi pengomposan sebaiknya dilakukan di dekat kebun yang akan diaplikasi kompos atau di dekat air. Aktivator pengomposan digunakan adalah Promi atau Orgadec. Jika aktivator pengomposan sulit diperoleh dapat menggunakan kotoran ternak atau rumen sapi untuk mempercepat proses pengomposan. Ditulis oleh Nasriati, BPTP Lampung