Loading...

PEMUPUKAN BERIMBANG, TURUNKAN EMISI GRK

PEMUPUKAN BERIMBANG, TURUNKAN EMISI GRK
Perubahan iklim global akibat penggunaan sumber daya alam yang tidak bertanggung jawab, saat ini menjadi perbincangan hangat hampir di seluruh dunia. Peningkatan emisi karbon dapat memicu efek gas rumah kaca mengakibatkan naiknya suhu udara, mencairnya es di daerah kutub serta naiknya permukaan air laut. Jika dibiarkan, hal ini dapat mengancam pembangunan pertanian melalui penurunan produktivitas, produksi, mutu hasil pertanian dan distribusi pertanian. Sejak tahun 2019, Kementerian Pertanian turut serta mengantisipasi dampak negatif perubahan iklim global melalui kegiatan Strategic Irrigation Modernization and Urgent Rehabilitation Project (SIMURP) berbasis CSA/ pertanian cerdas iklim. Kegiatan ini dilakukan melalui teknologi CSA untuk mendukung pertanian berkelanjutan antara lain melalui penggunaan pupuk berimbang, teknologi Jajar Legowo, penetuan waktu tanam berdasarkan kalender tanam (katam), penggunaan pupuk berimbang, penggunaan varietas unggul padi yang adaftif terhadap perubahan iklim, pengendalian OPT menggunakan bahan ramah lingkungan. Pertanian cerdas iklim melalui pemupukan berimbang memiliki peran yang sangat penting dalam peningkatan produksi dan produktivitas hasil pertanian, selain itu pemupukan berimbang juga dapat menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK). Melalui pemupukan berimbang diharapkan terjadi keseimbangan unsur hara didalam tanah sehingga tercapai kondisi kondusif pertumbuhan tanaman. Hal ini memacu peningkatan produksi disertai penurunan emisi GRK. Teknologi Pemupukan berimbang yang dapat menurunkan emisi GRK diantaranya: Pemberian pupuk secara seimbang, sesuai tingkat kesuburan tanah. Pemupukan secara seimbang dapat dilakukan melalui penggunaan perangkat uji tanah untuk menentukan dosis pupuk dasar (pupuk N, P, dan K). Perangkat uji dapat berupa Perangkat Uji Tanah sawah (PUTS), Perangkat Uji Tanah Kering (PUTK), Perangkat Uji Tanah Rawa (PUTR), dan Perangkat Uji Pupuk Organik (PUP). Penggunaan perangkat uji tanah bertujuan untuk menentukan ketersediaan hara di dalam tanah secara akurat sehingga dapat memberikan informasi kepada petani bahwa tanahnya telah kekurangan atau kelebihan beberapa unsur hara. Teknologi uji tanah ini bermanfaat dalam menentukan rekomendasi pemupukan secara tepat agar usaha tani dapat dilakukan secara optimal dan lebih menguntungkan. Pemberian pupuk kimia yang berlebihan dapat menyebabkan tanaman mudah terserang hama penyakit, mudah roboh, tidak efisien (boros), dan mencemari lingkungan. Selain itu pemberian pupuk kimia yang berlebihan juga menyebabkan kondisi tanah pertanian menjadi tidak sehat akibat kekurangan unsur hara C-organik tanah. Kekurangan unsur hara tersebut akan menyebabkan produksi dan kualitas hasil tanaman turun/tidak optimal, dan dalam jangka panjang menyebabkan penurunan kesuburan tanah. Pemupukan dengan mempertimbangkan 6 tepat yaitu: tepat jenis, tepat dosis, tepat harga, tepat waktu, tepat bentuk/formula dan tepat cara. Pemberian pupuk ke dalam tanah harus mempertimbangkan jumlah dan jenis yang sesuai target hasil yang ingin dicapai dan kebutuhan hara tanaman serta status atau tingkat kesuburan tanah. Pemupukan dilakukan agar terjadi keseimbangan hara didalam tanah sehingga tercapai kondisi kondusif pertumbuhan tanaman. Tidak semua tanaman membutuhkan unsur hara yang sama. Pemupukan yang tidak seimbang akan menyebabkan kelebihan dan kekurangan salah satu unsur hara makro/mikro. Penggunaan pupuk organik pada lahan pertanian. Pupuk organik merupakan solusi untuk memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Pembuatan pupuk organik dapat menggunakan sumber-sumber bahan organik di sekitar lahan pertanian. Bahan organik merupakan sumber energi bagi makro dan mikro-fauna tanah. Penambahan bahan organik dalam tanah akan menyebabkan aktivitas dan populasi mikrobiologi dalam tanah meningkat, terutama yang berkaitan dengan aktivitas dekomposisi dan mineralisasi bahan organik. Beberapa mikroorganisme yang beperan dalam dekomposisi bahan organik adalah fungi, bakteri dan aktinomisetes. Pengaruh positif yang lain dari penambahan bahan organik adalah pengaruhnya pada pertumbuhan tanaman. Sumber-sumber bahan organik untuk membuat pupuk organik diantaranya limbah pertanian seperti jerami dan sekam padi, gulma, batang dan tongkol jagung, semua bagisan vegetatif tanaman, batang pisang, sabut kelapa; limbah kotoran ternak padat, limbah ternak cair, limbah pakan ternak, cairan biogas; pupuk hijau seperti mukuna, turi, lamtoro, sentrosema, albisia, tanaman Liar seperti Ki pahit, kirinyuh, Mimosa sp ; tanaman air seperti Azolla, enceng gondok, gulma air, limbah industri seperti sebuk gergaji kayu, blotong, kertas, ampas tebu, limbah kelapa sawit, limbah pengalengan makanan dan pemotongan hewan. Melalui penerapan pemupukan berimbang pada pertanian cerdas iklim, diharapkan terjadi peningkatan produksi, produktivitas, disertai meningkatkan daya adaptasi pertanian terhadap perubahan iklim melalui menurunkan emisi GRK. Penulis: Sri Mulyani, Pusat Penyuluhan BPPSDMP Sumber: Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian. 2022. Pedoman Pelaksanaan Program Strategic Irrigation Modernization and Urgent Rehabilitation Project (SIMURP) Tahun 2022, Jakarta Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian. 2022. Juknis Penerapan Teknologi CSA Tahun 2022. Jakarta