Pengelolaan pemupukan yang efektif tidak lagi hanya mengandalkan dosis standar, tetapi semakin menekankan pada kebutuhan nyata tanaman berdasarkan kondisi tanah di lahan masing-masing. Di demplot budidaya padi ramah lingkungan dalam rangka kegiatan DAK Non-Fisik, saya melakukan pengujian pH serta kandungan N, P, dan K tanah menggunakan alat sensor kesuburan tanah sebelum menyusun rekomendasi pemupukan. Langkah ini merupakan bentuk implementasi manajemen pemupukan spesifik lokasi, yang dapat meningkatkan efisiensi pupuk sekaligus produktivitas tanaman padi.
Hasil uji awal menunjukkan tanah memiliki pH 5,1—mengindikasikan kondisi tanah masam yang kurang ideal untuk pertumbuhan padi karena menurunkan ketersediaan hara tertentu seperti Fosfor. Kondisi pH rendah ini merupakan salah satu kendala umum di banyak lahan sawah di Indonesia dan Asia, yang mempengaruhi respons tanaman terhadap pemupukan. Penelitian menunjukkan bahwa nilai pH <5,5 sering dikaitkan dengan respons tanaman padi yang lebih tinggi terhadap pemupukan P dan K, tetapi juga menandakan perlunya perbaikan pH secara terukur.
Berdasarkan kondisi itu, rekomendasi yang diterapkan mencakup pengapuran untuk menaikkan pH tanah, pemberian pupuk organik untuk memperbaiki struktur tanah dan ketersediaan hara secara gradual, serta pemupukan urea dan NPK sesuai kebutuhan spesifik lokasi yang ditentukan oleh sensor. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip pemupukan berimbang yang direkomendasikan dalam kebijakan pemupukan spesifik lokasi di Indonesia, yang mensyaratkan pemberian hara sesuai kebutuhan tanah dan target produksi.
Pasca penerapan rekomendasi, pH tanah meningkat dari 5,1 menjadi 6,6, sehingga semakin mendekati kisaran optimal untuk pertumbuhan padi sawah. Peningkatan pH ini tidak sekadar angka, tetapi menunjukkan perbaikan lingkungan biokimia tanah yang mendukung kerja mikroba dan pelepasan hara secara lebih efektif. Studi independen juga menunjukkan bahwa penambahan kapur npertanian dalam jangka panjang dapat meningkatkan pH tanah serta konsentrasi unsur basis seperti Ca dan Mg, yang berdampak positif terhadap kesuburan.
Dampak paling signifikan dari penerapan pemupukan spesifik lokasi terlihat pada hasil panen. Produksi meningkat dari 6,2 ton/ha GKP menjadi 7,8 ton/ha GKP, yang berarti peningkatan produktivitas lebih dari 25%. Ini mencerminkan hasil serupa yang dilaporkan dalam beberapa penelitian penerapan pemupukan spesifik lokasi di sawah, yang menunjukkan peningkatan hasil padi dan efisiensi penggunaan pupuk dibandingkan praktik konvensional.
Peningkatan hasil panen ini tidak hanya berkaitan dengan jumlah pupuk yang diberikan, tetapi juga dengan pilihan jenis pupuk, waktu aplikasi yang tepat, dan keseimbangan hara yang diperoleh dari data sensor. Hal ini menegaskan temuan bahwa pendekatan site-specific nutrient management mampu mengoptimalkan penggunaan pupuk, menekan biaya, sekaligus menjaga lingkungan. Penelitian juga menyimpulkan bahwa pemupukan yang disesuaikan dengan kebutuhan tanaman dapat meningkatkan produktivitas dan profitabilitas produksi padi serta mengurangi potensi pencemaran lingkungan.
Selain manfaat agronomis, pendekatan ini memperkuat praktik pertanian ramah lingkungan karena mengurangi risiko over-fertilization, yang sering kali menyebabkan pencucian hara dan penurunan kualitas air di sekitar lahan sawah. Integrasi pupuk organik juga meningkatkan kandungan bahan organik tanah, yang penting untuk ketahanan tanah jangka panjang dan keberlanjutan agroecosystem.
Dengan demikian, pengalaman di lapangan ini mempertegas bahwa pemupukan spesifik lokasi berbasis sensor tanah merupakan model pengelolaan hara yang efektif dan efisien. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan hasil panen secara signifikan tetapi juga memperbaiki kondisi tanah untuk produksi berkelanjutan. Implementasi pemupukan berbasis data secara konsisten di berbagai skala lahan akan meningkatkan efektifitas dan efisiensi penggunaan input produksi terutama pupuk dan mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya alam secara bertanggung jawab. yang secara langsung ataupun tidak akan memperkuat ketahanan pangan nasional
Hilmi Hardimansya, SP