Loading...

PENANGANAN PASCA PANEN SORGHUM

PENANGANAN PASCA PANEN SORGHUM
Tanaman sorghum (sorghum vulgare, gandum) perkembangannya di Tanah Air kita masih kurang, padahal hasilnya dapat merupakan bahan pangan pengganti beras atau untuk di ekspor, selain itu gandum dapat juga dikembangkan di daerah-daerah yang lebih kering,tahan hidupnya dalam keadaan kering sampai beberapa minggu dengan cara menggulung daun-daunannya, dan kelebihan tumbuhan ini dapat toleran pada tanah-tanah yang tergenang air pada tingkatan tertentu. Dalam pertumbuhannya, curah hujan yang dikehendaki yaitu sekitar 300-400mm, kebanyakan ditanam atau dapat dikembangkan pada lahan lahan pertanaman dengan ketinggian sekitar 900-1500 m dpl, namun demikian ada pula varietas yang cocok pada lahan pertanaman pada ketinggian sekitar 2400 m dpl.Tanaman ini menjadi dewasa, cukup untuk dipanen hasilnya dalam umur 3,5-4 bulan. Tanaman sorghum mempunyai suatu keistimewaan, setelah panen pertama biarkan tanamannya terus hidup, karena akan bertunas lagi dan menghasilkan malai, dan seterusnya panen kedua, ketiga dan keempat dapat dilakukan. Produk biji yang diperoleh sekitar 3-4 ton per hektar. PENANGANAN TAHAP PERTAMA a. Pemanenan cara pemanenan yang biasa dilakukan yauitu dengan menggunakan sabit, jangan dipotong pohonnya tapi cukup tangkai malainya saja, potonglah dibagian tangkainya sekitar 20 cm, kemudian potongan-potongan diikat menjadi satu dan dibawa ketempat perontokan. Pemanenan dengan mesin mungkin belum dapat dilaksanakan ditinjau dari segi ekonomi, lain halnya kalau pembudidayaan tanaman sorghum telah berkembang sedemikian rupa, pemanenan dengan mesin sekaligus menghasilkan bahan yang telah rontok. b. PerontokanAlat perontok butir-butir biji gandum yang biasa digunakan yaitu papan perontok, pedal thresher, sedang thresher yang dijalankan dengan tenaga motor mungkin digunakan setelah terjadi perkembangan dalam budidaya tanaman ini. Penggunaan pedal thresher digunakan untuk merontokan gabah agar butir-butir tidak terlempar kebagian sisi-sisi alat, sebaiknya pada bagian sisi-sisi tersebut diberi pelengkap papan penutup. Butir-butir biji yang telah rontok dan berada dalam wadah penampung selanjutnya dibersihkan dengan cara ditampih dengan mengguanakan tampah atau dengan alat winower PENANGANAN TAHAP KEDUA a. Pengeringan pengeringan biji-biji sorghum dapat dilakuakan secara alami atau dengan menggunakan alat pengering buatan. Pada pengeringan secara alami, perlakuan-perlakuan seperti pengeringan gabah dan jagung sama dilakukan pada penegeringan biji sorghum, yaitu dihamparkan pada lantai semen atau lantai yang beralaskan tikar atau lebaran anyaman bambu, tebal hamparan sekitar 0,5-0,7 cm biasanya dalam waktu 2 hari bahan-bahan dapat menurunkan kadar airnya sampai 13%-14%. b. Penggilingan dan pengepakan biji-biji gandum kering setelah dikelompokkan dalam kualitas I, II dan III sesuai dengan standar perdagangan dipisah-pisahkan penempatannya dalam karung atau wadah-wadah tertentu agar tidak tertukar. Selanjutnya apabila hendak diolah menjadi beras sorghum dilakukan penggilingan. Penggilingan sorghum menjadi beras yaitu untuk memisahkan endosperm dari skamnya, kalau tidak ada alat penggiling dapat dilakukan dengan cara ditumbuk pada industri/pabrik penggilingan sorghum digunakan roller milling ( alat penggiling yang dijalankan dengan motor). c. Penyimpanan Penyimpanan gandum-gandum kering yang telah memenuhi syarat perdagangan hendaknya terpisah dari beras jagung yang akan dikonsumsi atau hendak diolah lagi menjadi tepung. Ruang penyimpanan baik bagi sorghum kering yang telah terstandarkan maupun bagi beras sorghum hendaknya memenuhi persyaratan ruang/gudang penyimpanan yang baik. (Dirangkum dari berbagai sumber oleh : Farida Aryani)