Loading...

Penanganan Pascapanen Padi Organik Yang Benar

Penanganan Pascapanen Padi Organik Yang Benar
Kegiatan pascapanen merupakan perlakuan pada padi setelah dipanen, yaitu meliputi pengeringan dan penggilingan. 1. Pengeringan Agar tahan lama disimpan dan dapat digiling menjadi beras maka gabah harus dikeringkan. Pengeringan gabah umumnya dilakukan di bawah sinar matahari. Gabah yang dikeringkan ini dihamparkan di atas lantai semen terbuka. Penggunaan lantai semen terbuka ini agar sinar matahari dapat secara penuh diterima gabah. Bila tidak memiliki halaman atau tempat terbuka yang disemen maka halaman tanah pun dapat dipakai untuk penjemuran. Namun, gabah perlu diletakkan pada alas anyaman bambu, tikar, atau lembaran plastik tebal. Hal ini dilakukan agar gabah tidak bercampur dengan tanah. Pada saat penjemuran, petani harus rajin mengeluarkan gabah bila saat panas dan memasukkan kembali ke gudang sementara pada saat mulai mendung atau gerimis. Lamanya penjemuran tergantung kondisi ikiim atau cuaca. Bila cuaca cerah dan matahari bersinar penuh sepanjang hari, penjemuran hanya berlangsung sekitar 2-3 hari. Namun, bila keadaan cuaca terkadang mendung atau gerimis dan terkadang panas, waktu penjemurannya dapat berlangsung lama, sekitar seminggu. Walaupun lama, petani tetap saja mengandalkan panas matahari untuk pengeringan gabah, tidak pernah menggunakan alat lain seperti pengering gabah. 2. Penggilingan Penggilingan dalam pascapenen padi merupakan kegiatan pemisahan beras dari kulit yang membungkusnya. Ada dua cara pemisahan tersebut, yaitu secara tradisional dan modern. a. Cara tradisional Pemisahan secara tradisional menggunakan alat sederhana, yaitu lesung dan alu. Lesung terbuat dari batang kayu utuh yang diceruk mirip perahu. Cerukan pada kayu tersebut berfungsi sebagai tempat gabah ditumbuk. Sementara alu merupakan pasangan dari lesung sebagai alat penumbuk gabah. Alu tersebut terbuat dari kayu yang bentuknya bulat panjang seperti pipa. Gabah yang ditumbuk dengan alu dan lesung ini akan menghasilkan beras dan kulit. Beras yang dihasilkan disebut beras pecah kulit. Penampilan beras pecah kulit tidak putih bersih, melainkan agak kecokelatan karena masih terbalut bekatul. Bila beras demikian dimasak atau ditanak, nasinya tidak akan putih bersih. Namun, nasi dari beras pecah kulit ini memiliki nilai gizi yang lebih baik. Ini disebabkan kandungan vitamin B-nya sangat tinggi. Vitamin B ini banyak terdapat dalam bekatul. Untuk mendapatkan beras putih bersih, beras pecah kulit harus ditumbuk ulang atau disosoh. Selain diperoleh beras putih bersih, pada penyosohan ini pun akan diperoleh hasil samping berupa bekatul dan-kepala beras yang sering disebut menir. Saat ini ada kecenderungan konsumen beras organik menginginkan jenis beras pecah kulit yang digiling secara tradisional. Konsumen umumnya bersedia membayar lebih mahal untuk beras pecah kulit tersebut. Kendala penggilingan gabah secara tradisional adalah pengerjaannya sangat lambat, tenaga kerja yang memadai tidak tersedia, dan alatnya sulit dijumpai. Saat ini kebanyakan lesung dan alu sudah menghilang dari kehidupan petani padi karena kehadiran alat penggiling yang praktis dan daya kerjanya cepat b. Cara modern Pemisahan beras dari kulitnya dapat dilakukan dengan cara modern atau dengan alat penggiling. Alat yang sering digunakan berupa huller. Hasil yang diperoleh pada penggilingan dengan alat penggiling gabah ini sama dengan cara tradisional, yaitu pada tahap pertama diperoleh beras pecah kulit. Pada penggilingan tahap kedua, beras akan menjadi putih bersih. 3. Penyimpanan beras Beras organik yang sudah digiling secara tradisional maupun modern dapat langsung dipasarkan. Namun, karena umumnya beras tidak langsung dapat dipasarkan seluruhnya maka perlu ada tempat penyimpanan. Teknis penyimpanan beras harus diperhatikan agar kondisinya tetap bagus hingga saatnya akan dijual. Umumnya beras disimpan di gudang setelah dikemas dalam karung plastik berukuran 40 kg atau 50 kg. Pengemasan dalam karung ini dilakukan secara manual oleh petani. Bagian karung yang terbuka dijahit tangan hingga tertutup rapat. Di dalam gudang penyimpanan dapat saja beras diserang oleh hama bubuk. Biasanya hama bubuk ini menyerang beras yang tidak kering benar saat pengeringan. Hama bubuk tidak menyukai beras yang kering karena keras. Selain itu, hama bubuk pun menyukai tempat lembap sehingga ruangan gudang harus kering. Agar menjadi kering, gudang perlu dilengkapi dengan ventilasi udara. Ventilasi ini pun dapat membuat ruangan gudang menjadi agak terang sehingga hama lain seperti tikus tidak akan betah tinggal di dalamnya. Penumpukan karung berisi beras di dalam gudang pun harus ditata sedemikian rupa agar beras yang sudah lebih dahulu disimpan dapat mudah keluar lebih awal. Akan lebih baik lagi bila setiap karung diberi tanda khusus seperti tanggal penyimpanan. Dengan demikian, saat akan dikeluarkan menjadi lebih mudah. (Sumber : Budidaya Padi Secara Organik/ Drs. Agus Andoko)