Loading...

Penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) Pada Tanaman Padi Sawah di Wilayah Kerja BPP Kecamatan Tarogong Kidul Kabupaten Garut

Penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) Pada Tanaman Padi Sawah di Wilayah Kerja BPP Kecamatan Tarogong Kidul Kabupaten Garut
Penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) Pada Tanaman Padi Sawah di Wilayah Kerja BPP Kecamatan Tarogong Kidul Kabupaten Garut
 
Oleh : POPT dan Penyuluh Pertanian BPP Tarogong Kidul
 
Pendahuluan
Pengendalian Hama Terpadu (PHT) Merupakan sebuah pendekatan secara ekologis yang mengutamakan keseimbangan alam dalam pengendalikan Hama dan Penyakit agar tidak menimbulkan kerugian ekonomi bagi petani baik dari segi kualitas maupun kuantitas.
Pengendalian Hama Terpadu (PHT) juga dapat diartikan sebuah sistem pengendalian hama dan penyakit yang memadukan berbagai teknik pengendalian dimulai dari cara kultur teknis, fisik, mekanis, biologis dan kimia namun tetap dengan mempertimbangakan aspek kesehatan lingkungan, aspek ekonomi, Aspek sosial budaya dan aspek ekologi antara OPT, Tanaman dan Lingkungannya.
Tujuan Penerapan PHT dalam menanggulangi serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) yaitu untuk mengurangi Populasi dan intensitas serangan OPT agar tetap berada pada kategori tidak merugikan secara ekonomi. Dengan penerapan PHT yang tepat dan berkelanjutan diharapkan produktivitas hasil panen dapat dipertahankan bahkan ditingkatkan.
 
Pelaksanaan Kegiatan
Kegiatan penerapan PHT ini dilaksanakan di lokasi Kelompok Tani yang ada di Kecamatan Tarogong Kidul, kegiatasn tersebut diantaranya :
 
1.Pembuatan Pestisida Nabati
Pestisida Nabati merupakan bahan pengendali OPT baik hama maupun penyakit yang terbuat dari bahan-bahab alami yang mengandung senyawa aktif untuk mengusir dan bahkan membunuh OPT namun bersifat ramah lingkungan, residunya mudah terurai dan relatif lebih aman bagi manusia, hewan maupun lingkungan serta bahan dan cara membuatnya mudah, murah, dapat dilakukan oleh para petani.
 
2.Pembuatan dan Pemasangan Rumah Burung Hantu
 Burung Hantu jenis Tyto alba merupakan predator utama dari hama tikus. Namun Burung hantu yang secara alamiah tidak bisa membuat sarangnya sendiri dan lebih memilih atap rumah atau gedung kosong yang biasanya jauh dari lahan sawah menjadi faktor utama burung hantu Tyto alba ini jarang memangsa tikus sawah, maka dari itu pemasangan rumah burung hantu di daerah pesawahan diharapkan dapat dihuni oleh burung hantu Tyto alba dan membantu para petani dalam mengendaliakan hama tikus sawah.
 
3.Penanaman Tanaman Refugia
Refugia adalah tanaman yang sengaja ditanam di pinggir lahan pertanian untuk menyediakan habitat/rumah, sumber makanan bagi musuh alami yaitu predator dan parasitoid, tanaman refugia juga bisa dijadikan barier atau penghalang hama dan penyakit yang terbawa oleh angin. tujuan utama dari penanaman refugia ini yaitu memperbanyak musuh alami di lahan pertanian yang dibudidayakan sehingga musuh alami tersebut dapat menekan populasi hama dan mengurangi penggunaan pestisida kimia.
 
4.Perbanyakan APH Tricoderma dan Paenibacillus polymyxa.
Agen Pengendali Hayati Tricoderma dan Paenibacillus polymyxa Merupakan mikroorganisme yang menguntungkan dan dapat mengendalikan berbagai penyakit tanaman seperti penyakit BLB dan Blas pada tanaman padi sawah. Penggunaan APH ini bertujuan untuk menggantikan patogen berbahaya dengan mikroorganisme baik serta menjaga keseimbangan hayati di alam.
 
5.Pembuatan Bumbung Konservasi
Bumbung Konservasi merupakan sebuah alat atau media pelestarian musuh alami dari telur penggerek batang padi yaitu parasitoid Trichogramma.
Thricogramma memparasit telur penggerek batang padi sehingga telur penggerek batang yang terparasit tidak menetas dan menjadi larva, melainkan Thricogramma yang siap memparasit lagi telur penggerek batang yang baru. 
 
Kesimpulan
Pengendalian Hama Terpadu (PHT) merupakan pengendalian yang mengedepankan keseimbangan ekologi dengan memadukan berbagai teknik pengendalian yang ramah lingkungan dan berkelanjuatan. Melalui penerapan kegiatan seperti pembuatan pestisida nabati, pemasangan rumah burung hantu, penanaman refugia, perbanyakan agen pengendali hayati, dan konservasi musuh alami, diharapkan mampu menekan OPT sehingga dapat mempertahankan bahkan meningkatkan produktivitas hasil panen serta mendukung pertanian ramah lingkungan yang berkelanjutan.