Pertumbuhan dan produksi tanaman kakao sangat dipengaruhi oleh faktaor iklim dan tanah. Lingkungan alami tanaman kakao adalah hutan tropis yang sangat dipengaruhi faktor-faktor iklim yang sangat menentukan yaitu curah hujan, temperatur, dan sinar matahari. Selain itu ada faktor fisik dan kimia tanah yang berpengaruh terhadap kemampuan daya tembus (penetrasi) dan kemampuan akar menyerap hara dalam tanah. Agar diperoleh pertumbuhan dan produksi yang baik, tanaman kakao memerlukan persyaratan tumbuh sebagai berikut. Curah hujan Areal pertanaman kakao yang ideal adalah daerah yang bercurah hujan 1.100 - 3.000 mm per tahun. Hal ini penting karena berkaitan dengan pertanaman dan produksi kakao yang memerlukan air pada masa pembentukan tunas muda (flushing) dan produksi. Curah hujan yang melebihi 4.500 mm per tahun, akan berpengaruh pada serangan penyakit busuk buah (black pods). Di daerah yang mempunyai curah hujan lebih rendah dari 1.200 mm per tahun, masih dapat ditanami kakao namun diperlukan air irigasi. Hal ini disebabkan air yang hilang karena transpirasi akan lebih besar daripada air yang diterima tanaman dari curah hujan, sehingga perlu pasokan air irigasi. Temperatur Pengaruh temperatur terhadap kakao, sangat erat kaitannya dengan ketersediaan air, sinar matahari dan kelembaban. Faktor-faktor tersebut dapat dikelola melalui pemangkasan, penataan tanaman pelindung dan irigasi. Temperatur sangat berpengaruh terhadap pembentukan flush (tunas muda), pembungaan dan kerusakan daun. Temperatur ideal bagi pertumbuhan kakao adalah 30-32 derajat celcius (maksimum) dan 18-21 derajat Celcius (minimum). Berdasarkan iklim di Indonesia temperatur 25-26 derajat Celcius merupakan temperatur rata-rata tahunan tanpa faktor pembatas. Bila temperatur lebih rendah akan menyebabkan gugur daun dan mengeringnya bunga, sehingga laju pertumbuhannya berkurang. Temperatur yang tinggi akan memicu pembungaan tetapi kemudian akan segera gugur. Pembungaan akan lebih baik pada temperatur 26-30 derajat Celcius pada siang hari dibandingkan bila terjadi pada temperatur 23 derajat Celcius. Demikian juga temperatur 26 derajat Celcius pada malam hari masih lebih baik pengaruhnya terhadap pembungaan daripada temperatur 23-30 derajat Celcius. Jumlah flush maupun luas daun lebih besar pada suhu rendah, demikian juga waktu hidupnya. Sinar matahari Lingkungan hiup alami tanaman kakao adalah hutan hujan tropis yang didalam pertumbuhannya membutuhkan naungan untuk mengurangi pencahayaan penuh. Cahaya matahari yang terlalu banyak menyinari tanaman kakao akan menyebabkan lilit batang kecil, daun sempit dan tanaman relatif pendek. Pemanfaatan cahaya matahari semaksimal mungkin ditujukan untuk mendapatkan intersepsi cahaya dan pencapaian indeks luas daun optimum yang dapat diperoleh dengan penataan naungan atau pohon pelindung serta penataan tajuk melalui pemangkasan. Kakao termasuk tanaman yang mampu berphotosintesis pada suhu daun rendah. Photosintesis maksimum diperoleh pada saat penerimaan cahaya pada tajuk sebesar 20 persen dari pencahayaan penuh. Tingkat kejenuhan cahaya didalam photosinthesis setiap daun kakao yang telah membuka sempurna berada pada kisaran 3-30% cahaya matahari penuh. Hal ini berkaitan pula dengan pembukaan stomata yang lebih besar bila cahaya matahari yang diterima lebih banyak. Menurut hasil penelitian, penanaman tanpa pelindung dapat mempersingkat waktu tanam. Selain itu penanaman yang dilaksanakan pada pagi hari di musim hujan hasilnya lebih baik bila dibandingkan dengan penanaman pada sore/malam hari dengan hujan turun dibanding bila hujan turun pada dua hari kemudian. Jadi unsur air dan hara merupakan faktor penentu bilamana cahaya matahari dimanfaatkan semaksimal mungkin bagi pertanaman kakao. Hubungan sifat tanah dan produksi kakao Tekstur tanah yang baik untuk tanaman kakao adalah lempung liat berpasir dengan komposisi 30-40% fraksi liat, 50% pasir dan 10-20% debu. Susunan ini akan mempengaruhi ketersediaan air dan hara serta aerasi tanah. Tanah yang berdraenasi baik dengan struktur lempung berliat serta lapisan atas yang kaya akan bahan organik, dan selanjutnya tanah tersebut bila diberikan pupuk nitrogen maka tanah ini sangat cocok bagi kakao. Kakao membutuhkan tanah dengan solum tanam minimal 90 cm, kedalaman air tanah minimal 3 m. Pada lahan yang kemiringannya 8% dan 25% sebaiknya dibuat teras dengan lebar minimal 1 - 1,5 m. Pengaruh Iklim pada produksi kakao Iklim ekstrim kekeringan berpengaruh pada tingkat kerusakan kakao yang dapat digambarkan sebagai berikut: 1. Tingkat kerusakan ringan, ditandai dengan daun kakao layu, tetapi warna daun tetap hijau dengan ranting tetap sehat; 2. Tingkat kerusakan sedang, ditandai dengan daun layu dan warna berubah menjadi hijau pucat, ranting mengering dan bakal buah juga mengering. 3. Tingkat kerusakan berat, ditandai dengan daun mengering dan gosong, cabang dan akar mengering, biji tumbuh cacat, kehilangan hasil mencapai 50%. Antisipasi pada saat kekeringan 1. Membuat irigasi curah Irigasi curah akan membuat suhu udara didalam tajuk tanaman kakao menurun sehingga cukup baik untuk proses photosintesis, disamping akan meningkatkan kelembaban udara 2. Membuat irigasi tetes Bila di area perkebunan tidak cukup air, maka dilakukan penyiraman dengan metode tetes (drip irrigation) atau dengan metode perembesan. Metoda ini terutama dianjurkan untuk tanaman muda (Tanaman Belum Menghasilkan/TBM) pengairan ini untuk mempertahankan tanaman agar tetap bertahan dalam kondisi buruk. 3. Membuat bumbung bambu Bumbung bambu sepanjang 1,5 m yang dibagian samping dibawah diberi lubang berdiameter 1mm kemudian ditanam disamping pohon kakao pada jarak 20 cm kemudian diisi 2 liter air. Air ini mampu memberikan pengeiran selama 3 hari dan tanaman tetap segar di pagi hari, agak layu disiang hari dan segar kembali pada malam hari. Oleh : Ir.Sri Puji Rahayu, MM/ yayuk_edi@yahoo.com Sumber : Petunjuk Teknis Budidaya Kakao, Ditjen Perkebunan, Departemen Pertanian 1995; Budidaya, Pengolahan dan Pemasaran Coklat, PT. Penebar Swadaya, 2002.