Pendahuluan Durian meru pakan salah satu jenis buah tropis dari wilayah Asia Tenggara dengan ciri khas kulit buahnya yang keras berlekuk-lekuk tajam menyerupai duri dan beraroma khas. Buah durian bernilai ekonomi tinggi, namun demikian buah ini tetap banyak digemari karena kaya cita rasa dan juga mengandung gizi yang tinggi. Kandungan gizi dalam buah durian antara lain karbohidrat, protein, lemak, serat makanan, vitamin, mineral, dan asam amino esensial (phytonutrient, omega 3, omega 6, thryphtophan, phytosterol, dan organo sulfur). Durian juga mempunyai manfaat bagi kesehatan diantaranya adalah (1) menonaktifkan zat kanker, (2) memperbaiki reaksi anti tumor pada tubuh, (3) menurunkan sintesa kolesterol yang terjadi di sel hati, (4) mencegah depresi, rasa cemas, susah tidur, dan stress, (5) mencegah anemia, (6) mencegah radang saluran pencernaan dan (7) memperbaiki sistem syaraf. Buah durian bernilai ekonomi tinggi sehingga tanaman ini banyak dilirik petani maupun penggiat pertanian untuk dibudidayakan dalam skala luas. Namun pengelolaannya dalam skala luas tentu bukanlah hal yang mudah, karena beberapa kendala yang dihadapi dalam budidayanya antara lain adalah serangan organisme penggangu tanaman (OPT). Serangan OPT dapat dimininalkan dengan menerapkan sistem Pengendalian Hama Terpadu (PHT) yang ramah lingkungan. Pengelolaan OPT merupakan rangkaian kegiatan untuk mengendalikan hama dan penyakit, agar tanaman durian tumbuh optimal, produksi tinggi dan mutu buah baik. OPT dalam dibedakan menjadi tiga jenis , yaitu hama, penyakit, dan gulma. Hama merupakan semua organisme dalam hal ini hewan yang memberikan kerusakan yang berdampak menurunkan nilai ekonomi pada tanaman. Pada tanaman durian beberapa hama yang sering menyerang antara lain adalah ulat daun, penggerek buah, kutu putih, penggerek biji, penggerek bunga dan penggerek batang. Dalam pengelolaan OPT durian tahapan kegiatan yang harus selalu dilakukan adalah (1) melakukan pengamatan berkala 1-2 minggu sekali terhadap OPT, (2) menetapkan alternatif pengelolaan OPT (kultur teknis, mekanis, biologi, atau kimiawi) dan (3) mendekomentasikan setiap kegiatan pengelolaan OPT yang telah dilakukan. Pengelolaan OPT Dalam pengelolaan OPT dapat melakukan beberapa alternatif komponen pengendalian antara lain : Pengelolaan secara kultur tekn Pengelolaan secara kulturteknis disebut pula sebagai pengendalian agronomik yaitu pengendalian OPT dengan cara mengelola lingkungan tanaman sedemikian sehingga kurangcocok bagi kehidupan dan perkembangbiakan OPT. Pengelolaan seca ra kultur teknis ini merupakan pengelolaan preventif atau pencegahan yang dilakukan sebelum adanya serangan OPT, dengan cara memperbaiki teknik budidaya, antara lain pengunaan benih yang bermutu, pengolahan tanah, pengaturan jarak tanam, pemupukan, pengairan, dan sanitasi. Pelaksanaan pengendaliannya tergolong mudah dan tidak menimbulkan pencemaran lingkungan. Pengelolaan secara mekan Pengelolaan secara mekanis adalah pengelolaan OPT secara langsung, baik dengan tangan atau dengan bantuan alat. Pengendalian OPT secara mekanis yaitu dengan cara menangkap, memukul (hand picking), atau menghalaunya secara langsung agar OPT tersebut tidak menimbulkan kerugian ekonomi bagi tanaman budidaya. Cara ini amat sederhana dan dapat dilakukan oleh setiap orang. Pengendalian secara mekanis perlu dilakukan secara berkelanjutan dan bersama-sama dalam suatu hamparan yang luas melalui pengorganisasian yang baik agar hasilnya memuaskan. Pengelolaan secara biolo Pengelolaan secara biologi atau hayati adalah pengelolaan OPT dengan memanfaatkan musuh alami, yaitu: predator, parasitoid, patogen serangga, dan patogen antagonis. Pengelolaan secara kimiaw Pengelolaan secara kimiawi adalah pengendalian dengan cara menggunakan senyawa kimia (pestisida). Cara ini dianjurkan sebagai alternatif pengendalian terakhir karena meskipun ampuh membunuh sasaran, mempunyai efek sampingan yang berbahaya bagi kelestarian lingkungan dan kesehatan manusia. Pengelolaan dengan pestisida ini harus dilakukan dengan bijaksana dengan 6 tepat (tepat jenis, tepat mutu, tepat sasaran, tepat dosis dan konsentrasi, tepat waktu, tepat cara dan aplikasi). Pengelolaan OPT secara kimia juga harus memperhatikan tingkat serangan dan lingkungan. Pada budidaya durian cara tepat pengelolaan OPT adalah dengan memutuskan siklus hidup dari OPT tersebut. Teknisnya adalah setelah pembukaan lahan, tanah ditanami kacang kacangan atau penutup tanah (legume) sekurangnya 1 tahun, terutama lahan bekas tanaman karet, kelapa atau pepaya. Selanjutnya isi lubang dengan potongan daun kacang/penutup tanah, pupuk kandang (pukan ayam) dan biakan starter mikroba EM, kemudian padatkan untuk mengeluarkan udara (suasana an-aerob), biarkan 8 sampai 10 minggu. Hindari memindah tanah dari kebun satu ke kebun yang lain (melalui tanah yang lengket di sepatu, peralatan atau roda kendaraan) dengan cara mencucinya dengan desinfektan). Kulit atau buah busuk sebaiknya dibuat kompos untuk eradikasi sumber inoculum dan daur ulang hara (siapkan lubang/rorakan diantara barisan durian untuk pengomposan). Hama Tanaman Durian 1. Ulat Daun Gejala serangan dari hama ini berupa serangan dari ngengat berwarna cokelat keabu-abuan. Larva (ulat) memakan daun durian, baik daun muda maupun daun tua. Tanaman yang terserang akan gundul dan tinggal hanya tangkai daunnya saja. Hama ini bersifat eksplosif dan sangat rakus, akibatnya daun yang berlubang atau rusak yang dapat mengganggu fotosintesis yang berlangsung di daun. Pengelolaan OPT dapat dilakukan secara kultur teknis, mekanis, biologi dan kimiawi. Secara kultur teknis dilakukan dengan cara sanitasi kebun dengan membersihkan sisa tanaman yang terserang dan tanaman inang lainnya, kemudian dimusnahkan. Secara Mekanis dengan cara mengumpulkan larva-larva yang menyerang tanaman, kemudian dimusnahkan, bagian tanaman yang terserang berat dipotong kemudian dimusnahkan. Pengeloaan secara biologi yaitu dengan menggunakan cendawan pathogen serangga seperti : Metarrhizium anisopliae. Pengelolaan secara kimiawi dapat dilakukan dengan menggunakan insektisida yang efektif, terdaftar dan ada izin dari Kementerian Pertanian. 2. Penggerek Buah Dewasa penggerek buah berupa ngengat berwarna cokelat tua dengan tanda bercak putih pada sayap. Gejala serangan larva merusak buah dengan menggerek kulit buah dan masuk ke dalam buah sampai ke dalam bji. Buah yang terserang berat menjadi busuk, menyebabkan buah rontok. Pengelolaan dapat dilakukan secara kultur teknis, mekanis, biologi, dan kimiawi. Secara Kultur Teknis dilakukan sanitasi kebun dengan mengumpulkan buah-buah yang terserang dan yang rontok, kemudian dimusnahkan. Secara mekanis dengan cara mengumpulkan pupa dengan membalikan tanah di bawah pohon, karena pupa terbentuk dalam tanah, kemudian pupa dimusnahkan. Dilakukan juga penjarangan buah pada tahap awal, pembungkusan durian muda sebagai perlindungan fisik, penggunaan perangkap cahaya serta memutuskan siklus dengan menimbun kulit dan buah yang terserang. Secara biologi manfaatkan semut rang-rang untuk mengusir imago meletakkan telur. Secara kimiawi dapat dilakukan dengan carbaryl dengan cara suntikan untuk pohon yang tinggi dan penggunaan umpan pisag masak dicampurkan dengan insektisida. 3. Penggerek Buah Gejala serangan dari penggerek buah berupa larva yang masuk ke dalam buah dengan cara melubangi kulit durian dan memakan daging durian, akan tetapi tidak menggerek biji, sehingga menyebabkan buah busuk dan akhirnya rontok. Serangga ini biasanya menyebar dengan cara terbang dari pohon durian satu ke pohon durian lainnya dan bertelur pada buah yang dihinggapinya. Hama ini biasanya menyerang pada waktu kemarau. Buah durian yang terkena serangan umumnya tidak bisa dimakan dan kerugian disebabkan penggerek buah dapat menghilangkan hasil sampai 50%. Pengelolaan hama dapat dilakukan secara kultur teknis melalui sanitasi kebun dengan mengumpulkan buah-buah yang terserang dan yang rontok, kemudian dimusnahkan. Pengendalian juga dapat dilakukan dengan menyemprotkan insektisida nabati sejak buah berumur 1 minggu. Cara lain dengan menggunakan perangkap yang berbahan aktif methyl eugenol seperti M-Antraktan. 4. Kutu Putih Hama ini menyerang semua bagian tanaman dari pucuk sampai buah, dengan menghisap cairan tanaman. Tanaman durian yang diserang oleh kutu putih akan tampak layu. Serangan kutu putih menyebabkan pertumbuhan tanaman terhambat dan menyebabkan bunga, putik, atau buah muda runtok. Serangan kutu putih menyebabkan daun menjadi keriting dan merana. Hama kutu putih mengeluarkan sekresi embun madu sebagai tempat tumbuh cendawan jelaga, sehingga bagian yang terserang menjadi hitam. Kotorannya yang manis mengundang semut sehingga penyebarannya mengikuti penyebaran semut. Serangga ini dapat menurunkan kualitas buah. Pengelolaan hama dapat dilakukan dengan cara kultur teknis, mekanis, biologi dan kimia. Secara kultur teknis serangan kutu bisa dicegah dengan melakukan penjarangan dalam dompolan. Penjarangan tersebut juga berguna untuk menghasilkan buah yang lebih berkualitas. Selanjutnya dapat dilakukan sanitasi kebun dari gulma dan tanaman inang hama kutu putih dengan mengumpulkan bagian tanaman yang terserang, kemudian dimusnahkan. Tanaman inang yang harus diwaspadai di antaranya jeruk, kopi, kakao, dan sirsak. Pengelolaan secara fisik atau mekanis dapat dilakukan penyemprotan pada kutu putih menggunakan deterjen cair atau bubuk (konsentrasi 1 cc atau 1 grm per liter air), kemudian kutu putih yang menempel dapat diambil dengan menggunakan kuas. Pengelolaan juga dapat dilakukan dengan penyemprotan pada kutu putih dengan insektisida nabati seperti larutan (ekstrak) umbi bawang putih dicampur cabai dan juga penggunaan perangkap yellow trap. Secara biologi pengelolaan hama dilakukan dengan pemanfaatan musuh alami seperti cendawan Cephalosporium lecanii, predator kumbang Cryptolaemus montrouzieri. 5. Penggerek Biji Penggerek biji durian (the hole borer) merupakan hama utama pada tanaman durian yang diusahakan secara luas. Hama ini akan menurunkan kualitas durian karena bagian dari buah yang dimakan akan dikotori. Durian baru diketahui terinfeksi penggerek biji pada saat buah durian telah dipanen atau pada saat larva telah keluar dari buah durian untuk membentuk pupa. Pengelolaan hama dapat dilakukan secara kultur teknis, mekanis dan kimiawi. Secara kultur teknis dengan cara sanitasi kebun dengan mengumpulkan buah-buah yang terserang dan yang rontok, kemudian dimusnahkan. Diusahakan tidak mengambil biji dari daerah penanaman lain sebagai upaya pencegahan. Secara mekanis dengan membungkus buah durian menggunakan plastik transparan dan bagian bawahnya dilubangi agar air dapat keluar pada saat tanaman membentuk buah kira-kira 1,5 bulan atau 6 minggu setelah berbunga dan membuka bungkus 10 hari sebelum panen, sehingga buah berkembang secara normal dan untuk mengatasi pudarnya warna kulit buah. Gunakan juga perangkap cahaya berupa lampu neon yang berwarna putih untuk menangkap ngengat. Pengelolaan secara kimiawi dengan penggunaan insektisida sintetis yang efektif, terdaftar dan ada izin Kementerian Pertanian pada saat tanaman telah selesai berbunga. Penyemprotan dihentikan setidaknya dua minggu sebelum panen. Pengendalian dengan umpan juga dapat dilakukan dengan cara campuran pisang masak dengan beberapa insektisida dapat digunakan sebagai umpan. 6. Penggerek Bunga Gejala serangan dari hama ini adalah menyerang tanaman yang baru berbunga, terutama saat kuncup bunga dan calon buah baru muncul. Ulat penggerek bunga memiliki warna tubuh hijau dan kepala merah coklat. Setelah menjadi kupu-kupu, warnanya menjadi merah sawo agak kecoklatan, abu-abu, dan tubuhnya langsing. Serangan ulat ini menyebabkan kuncup bunga rusak dan putik gugur. Kondisi tersebut menyebabkan benang sari dan tajuk bunga rusak. Selain itu, kuncup dan putik menjadi patah akibat gerekan ulat. Pengelolaan hama dapat dilakukan secara kultur teknis yaitu dengan melakukan sanitasi kebun dengan mengumpulkan bunga-bunga yang terserang, kemudian dimusnahkan. Pengendalian secara kimia juga dapat dilakukan dengan menyemprotkan insektisida secara selektif. 7. Penggerek Batang Gejala serangan dari penggerek batang berupa larva menggerek lubang pada batang yang letaknya 0,5 - 2 m dari permukaan tanah, ditandai dengan adanya kotoran dan cairan berwarna merah dari bekas kayu yang digerek. Larva akan berada di dalam lubang sampai menjadi pupa. Lubang ditutupi dengan potongan kayu yang lembut, yang dibuat sebelum berkepompong. Akibat serangan penggerek batang, tanaman menjadi layu, daun rontok, dan akhirnya tanaman mati. Pengelolaan hama ini dapat dilakukan secara kultur teknis, mekanis, biologi dan kimiawi. Secara kultur teknis yaitu dengan menjaga sanitasi kebun dengan cara menyingkirkan rumput-rumputan, gulma, tanaman inang dan daun-daun tanaman yang sudah rontok. Secara mekanis dengan cara memotong batang, dahan atau ranting yang terkena serangan penggerek, kemudian dimusnahkan. Secara biologi dengan dilakukan penyemprotan pathogen serangga Beauveria bassiana ke lubang gerekan. Dan pengelolaan secara kimiawi yaitu dengan menutup bekas lubang gerekan dengan kapas yang sudah diberi insektisida sistemik dengan dosis sesuai anjuran yang tertera pada kemasan atau dengan injeksi tanaman melalui akar atau dahan dengan menggunakan insektisida sistemik. Sumber Bacaan : Dr. Panca Jarot Santoso. 2020. Budidaya Durian. Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika. Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika. 2012. Budidaya Durian. Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika. Direktorat Buah dan Florikultura. 2021. Buku Lapang Budidaya Durian. Direktorat Jenderal Hortikultura. Politeknik Pertanian Negeri Kupang. Teknik Pengendalian OPT. https://mplk.politanikoe.ac.id/index.php/program-studi/38-manajemen-pertanian-lahan-kering/topik-kuliah-praktek/perlindungan-tanaman/171-teknik-pengendalian-opt