Loading...

PENGELOLAAN HAMA TERPADU CABAI MERAH PADA LAHAN BERPASIR

PENGELOLAAN  HAMA  TERPADU CABAI  MERAH PADA LAHAN BERPASIR
Tanaman cabai di lahan berpasir dapat berproduksi optimal dengan menerapkan teknologi anjuran Balai Pengkajian Teknologi PertanianTeknologi tersebut meliputi pemupukan urea, SP- 36, dan KCl masing-masing 300, 200, dan 200 kg/ha, pupuk organikmajemuk 5 t/ha, dan tanah liat 60 t/ha, serta pengelolaan hama terpadu (PHT). Komponen PHT meliputi pupuk organik bebas hama dan penyakit tular tanah, budi daya tanaman sehat, monitoring serangan hama secara rutin, serta menjaga kelestarian musuh alami. Melalui serangkaian pengka-ian, ternyata lahan pasir dapat dikembangkan menjadi areal pertanian produktif. Program Pengembangan Areal Tanam (PAT) Kabupaten Bantul, yang bertujuan un- tuk mengembangkan kawasan pertanian di lahan pasir pantai selatan, disambut antusias oleh petani. Kawasan pertanian tersebut diharapkan dapat mendukung wisata pantai. Salah satu upaya memanfaatkan lahan pasir pantai adalah me lalui usaha tani cabai merah. Se- lain berumur pendek, cabai mem- punyai nilai ekonomi tinggi dan peluang pasar yang baik. Faktor pembatas produksi la-han pasir pantai adalah kandungan pasir melebihi 95%, struktur tanah kurang baik, konsistensi lepas, ku- rang kuat menahan air, permea- bilitas dan drainase sangat cepat, serta miskin hara. Pemberian bahan organik atau pupuk kandang, mulsa jerami, dan pembenah tanah dapat memperbaiki sifat fisik tanah, terutama agregat, yang pada gilirannya akan meningkatkan kelembapan tanah. Pengelolaan air pada tanah pasir berbeda dengan jenis tanah lainnya. Dalam mengelola air untuk tanaman, petani di wilayah terse but umumnya mengembangkan bak-bak penampung air berupa sumur renteng serta teknik penyiraman. Pengelolaan hama dan penyakit juga penting untuk me- ningkatkan produktivitas tanaman. Pengelolaan Hama Terpadu (PHT) Cabai. Pengelolaan hama dan penyakit menggunakan pendekatan PHT. Setiap petani mengamati serangan hama dan penyakit pada 10% luasan lahan mereka dengan fre- kuensi seminggu sekali, dimulai sejak tanaman berumur 2 minggu setelah tanam (mst) hingga 15 mst. Pengamatan bertujuan untuk menentukan metode pengendalian dan perlu tidaknya penyemprotan pes- tisida. Selain hama dan penyakit, diamati pula predator dan parasi- toid sebagai agens pengendali hayati hama. Pupuk organik yang digunakan berupa kotoran sapi yang telah diproses dengan menggunakan probiotik, suatu bahan yang berfungsi memicu proses pematangan kotoran sapi agar bahan organik yang terkandung di dalamnya lebih mudah diserap tanaman. Penggunaan pupuk kandang yang telah matang juga dapat mencegah penularan hama dan penyakit yang terbawa tanah (soil borne diseases). Dengan menggunakan pupuk kandang yang telah matang, tanaman cabai dapat terhindar dari serangan penyakit busuk leher batang dan layu fusarium, serta hama uret yang biasa terbawa pupuk kandang yang belum matang. Diduga telur dan larva mati pada saat pematangan pupuk kandang. varietas cabai yang ditanam adalah lokal Samas. Varietas ini tahan penyakit, daya adaptasinya luas, dan potensi produksinya tinggi. Dengan daya adaptasi yang luas, varietas Samas diharapkan mampu berproduksi optimal di lahan pasir. Waktu tanam yang tepat merupakan salah satu strategi dalam pengendalian organisme peng- ganggu tumbuhan (OPT). Penyakit umumnya lebih banyak menyerang tanaman pada musim hujan, termasuk penyakit pascapanen. Oleh karena itu, cabai ditanam pada musim kemarau, yaitu pada bulan Juli, dan dipanen pada bulan September Status Hama dan Penyakit Penyakit utama pada tanaman cabai merah adalah keriting daun. Penyakit ini disebabkan oleh virus dan hama Thrips yang mengisap cairan daun. Intensitas serangan mencapai 8% pada umur 10-15 mst. Gejala infeksi virus dimulai dengan menguningnya tulang daun, daun menjadi belang hijau muda atau hijau tua, ukurannya lebih kecil dan mengerut. Tanaman sakit menghasilkan buah kecil-kecil dan keriput. Penyakit lain adalah antraknose yang disebabkan oleh Colletotrichum capsici dan layu bakteri oleh Ralstonia solanacearum. Musuh Alami Makin banyak populasi dan jenis hama, musuh alaminya pun makin beragam. Musuh alami berperan dalam menekan populasi hama. Makin banyak jumlah musuh alami, makin efektif mengendalikan hama. Musuh alami dapat berupa pre- dator dan parasitoid. Predator yang ditemukan pada pertanaman cabai antara lain adalah imago (serangga dewasa) Coccinela dan larvanya (merupakan predator yang ganas), arachnida (laba-laba), dan Staphylinidae. Parasitoid yang ditemukan termasuk dalam ordo Hymenoptera (tabuhan). Parasitoid ini berwarna oranye kemerahan, ukuran tubuh kecil, aktif bergerak, dan mempunyai alat untuk meletakkan telur yang cukup panjang sehingga cepat mematikan hama. Coccinela merupakan pemangsa kutu-kutuan. Arachnida dan Staphylinidae merupakan predator segala jenis hama yang berukuran kecil, sedangkan tabuhan merupakan parasitoid ulat. Ditulis oleh: Edwin Herdiansyah, Dede Rohayana dan Jamhari Hadipurwanta Warta penelitian dan Pengembanagn Pertanian Vol 30. No. 5 2008