Loading...

Pengelolaan Organisme Pengganggu Tanaman Ramah Lingkungan Pada Pertanaman Sayuran Di Kawasan Hortikultura Gorontalo

Pengelolaan Organisme Pengganggu Tanaman Ramah Lingkungan Pada Pertanaman  Sayuran Di Kawasan Hortikultura Gorontalo
Pengendalian OPT di kawasan hortikultura di Kabupaten Gorontalo pada umumnya menggunakan cara konvensional dengan aplikasi pestisida sintetis. Kecenderungan petani untuk menggunakan pestisida sintetis didasari pertimbangan dayaguna dan hasilguna pestisida sintetis dalam menekan kehilangan hasil akibat serangan OPT. Hal lain yang mendorong penggunaan pestisida sintetis adalah penampilan kosmetik produk hortikultura sering masih menjadi pertimbangan konsumen dalam memilih produk. Pengendalian OPT khususnya hama dan penyakit menjadi masalah krusial karena adanya ketergantungan terhadap pestisida sintetis. Berdasarkan pengalaman petani, tanpa perlakuan pengendalian OPT kerugian atau kerusakan tanaman lebih 60 % bahkan gagal panen. Penyemprotan berkala dengan frekuensi tinggi didapati pada petani sawi dan kembang kol dengan penyemprotan 3 hari sekali.Hama yang dominan pada pertanaman sayuran di Tilote dan Bongomeme Kabupaten Gorontalo antara lain adalah Trips/Keriting daun, Liriomyza, Kutu Daun, Kutu Putih/Kutu Kebul, Lalat Buah, Ulat Grayak, dan Plutela xylostella. Sedangkan penyakit yang dominan antara lain adalah Layu Bakteri, Layu Fusarium, Virus Gemini, Antraknose, Bercak Daun Alternaria dan Busuk daun. Berdasarkan keragaan hama dan penyakit tersebut dilakukan perlakuan kombinasi antara beberapa fisik/mekanik dan hayati dengan mempertimbangkan kepraktisan dan ketersediaan bahan di lapang. Metode pengendalian secara fisik yang dapat dilakukan adalah : 1. Olah tanah sempurna2. Mematikan langsung hama3. Barrier fisik dengan menggunakan tanaman bunga dengan warna mencolok atau tanaman jagungZ4. Perangkap warna (lekat kuning)5. Perangkap feromon6. Penggunaan mulsa plastikSedangkan pengendalian hayati yang dapat dilakukan adalah : 1. Penggunaan kultivar genjah2. Pemanfaatan PGPR (Plant growth-promoting rhizobacteria) adalah bakteri pemacu pertumbuhan tanaman. Bakteri yang terdapat dalam PGPR adalah sejenis bakteri yang biasa hidup di akar tanaman3. Aplikasi Trichoderma4. Pestisida nabati seperti menggunakan serai wangi, mahoni, mimba, dan sebagainya Berdasar pengamatan intensitas dan keparahan serangan OPT khususnya keragaan serangga hama dan patogen sebelum dan sesudah perlakuan rata-rata terjadi penurunan dari 10-30%. Keefektifan perlakuan pengendalian OPT ramah lingkungan tersebutjika dikaitkan dengan metode pengendalian terpadu dengan memanipulasi lingkungan pertanaman dan pergiliran tanaman diharapkan dapat lebih efektif. Dengan semakin meningkatnya kecenderungan permintaan pasar terhadap produk sayuran bebas residu petisida dan atau produk organik, maka pengendalian ramah lingkungan ini perlu disosialisasikan sebagai alternatif pengendalian OPT berbasis sumberdaya lokal. Ari Widya H, SP BPTP Balitbangtan Gorontalo